Shoesmart.co.id JAKARTA. Di tengah tantangan yang dihadapi industri otomotif, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) tetap menunjukkan keyakinan tinggi dalam mencapai target pertumbuhan pendapatan sebesar 10% hingga akhir tahun 2026.
Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso, menyampaikan bahwa perusahaan akan bekerja keras untuk merealisasikan target tersebut, meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini turut memberikan dampak pada permintaan di sektor otomotif.
“Kami menargetkan peningkatan pendapatan sekitar 10%. Tentunya, peningkatan ini juga akan berdampak positif pada bottom line perusahaan,” ujar Irianto dalam paparan publik virtual yang diselenggarakan pada Jumat (17/4/2026).
Merujuk pada data yang dirilis oleh Gaikindo, penjualan mobil secara wholesales di Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 209.021 unit. DRMA berharap kinerja penjualan pada tiga kuartal berikutnya di tahun ini dapat memberikan dorongan signifikan.
Alamtri Resources Indonesia (ADRO) Akan Membagikan Dividen US$ 447 Juta
“Kami berharap sembilan bulan ke depan akan menunjukkan performa yang baik, sehingga dapat mendukung pencapaian target yang telah ditetapkan,” lanjut Irianto.
Untuk mencapai target tersebut, DRMA menerapkan strategi diversifikasi produk sebagai salah satu langkah utama. Irianto menjelaskan bahwa perusahaan telah mempersiapkan komponen energi terbarukan (renewable energy component) sebagai portofolio produk baru. DRMA berharap produk ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja perusahaan di masa depan.
Selain itu, Dharma Polimetal juga telah merambah bisnis aftermarket dengan memproduksi auxiliary battery. Produk ini tersedia dalam berbagai kapasitas, mulai dari 3,5 Ampere-hour (Ah) hingga 6Ah untuk sepeda motor, serta 40Ah dan 60Ah untuk mobil penumpang (passenger car).
“Selanjutnya, kapasitas 80Ah dan 100Ah akan diperuntukkan bagi kendaraan komersial seperti bus dan truk,” jelas Irianto.
Tidak hanya berfokus pada peluang bisnis baru, perusahaan juga berupaya memperluas jangkauan pelanggan. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan ekspor.
Irianto mencontohkan, kinerja ekspor DRMA untuk produk rangkaian kabel (wiring harness) ke Amerika Serikat (AS) pada tahun lalu mengalami pertumbuhan sekitar 50%, menjadi 132 kontainer dari 88 kontainer pada tahun 2024. “Kami berharap dapat meningkatkan ekspor sebesar 50% lagi pada tahun ini,” ungkapnya.
DRMA juga melihat peluang pertumbuhan kinerja pada komponen kendaraan listrik (electric vehicle/EV), terutama sebagai dampak dari kenaikan harga minyak yang dapat memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Lebih lanjut, kehadiran sejumlah pemain baru di industri EV yang berencana mendirikan pabrik di Indonesia dinilai DRMA sebagai peluang yang menjanjikan. “Kami juga telah menerima banyak letter of intent (LOI) dari mereka,” kata Irianto.
Meskipun demikian, para pemain baru tersebut diperkirakan baru akan mulai beroperasi pada semester kedua tahun ini, dengan volume produksi yang belum signifikan. Akibatnya, dampak positif terhadap pertumbuhan kinerja DRMA diperkirakan belum akan terasa dalam jangka pendek hingga menengah.
Sebagai informasi tambahan, sepanjang tahun 2025, DRMA mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,8% year-on-year (yoy) menjadi Rp 5,93 triliun, dibandingkan dengan Rp 5,05 triliun pada tahun 2024. Dari sisi bottom line, laba bersih perusahaan juga melonjak 12,6% yoy menjadi Rp 652,6 miliar dari Rp 579,3 miliar pada tahun sebelumnya.
Rupiah Terus Melemah, Mendekati Level Rp 17.200 Per Dolar AS Hari Ini (17/4)
Ringkasan
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 10% hingga akhir 2026, meskipun menghadapi tantangan industri otomotif dan situasi geopolitik. Strategi utama untuk mencapai target ini adalah diversifikasi produk, termasuk pengembangan komponen energi terbarukan dan bisnis aftermarket seperti auxiliary battery.
Selain diversifikasi, DRMA juga fokus pada perluasan jangkauan pelanggan melalui peningkatan ekspor, terutama untuk produk rangkaian kabel ke Amerika Serikat. Perusahaan juga melihat peluang pertumbuhan dari komponen kendaraan listrik (EV) dan kehadiran pemain baru di industri EV Indonesia, meskipun dampaknya mungkin belum signifikan dalam jangka pendek.