Shoesmart.co.id JAKARTA. Setelah mengalami lonjakan harga yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, tren belanja barang mewah global diperkirakan akan memasuki fase transisi pada tahun 2026.
Menurut laporan “Global Luxury Industry Outlook 2026” dari firma konsultan global Kearney, sektor barang mewah mulai menunjukkan pergeseran yang menarik, baik dari sisi kategori produk maupun wilayah pertumbuhan. Ini menandakan era baru dalam konsumsi barang mewah.
Barang-barang mewah tradisional, seperti pakaian siap pakai (ready-to-wear) dan produk kulit, kini cenderung stabil setelah sebelumnya mengalami kenaikan harga yang agresif. Pasar merespons, dan konsumen mulai menyesuaikan diri.
Contohnya, harga tas tangan dari berbagai rumah mode ternama yang sempat melonjak hingga 10%, diprediksi akan stabil pada akhir tahun 2025. Sementara itu, pakaian dan alas kaki diperkirakan mengalami penurunan sekitar 5% hingga 7% pada tahun yang sama. Namun, loyalitas konsumen inti tetap menjaga kinerja industri tetap relatif solid sepanjang tahun lalu.
Memasuki tahun 2026, lanskap pertumbuhan industri mewah diperkirakan tidak akan banyak berubah dari segi pemain utama. Akan tetapi, dinamika di baliknya akan semakin kompleks dan beragam.
Amerika Serikat, Eropa, dan China masih akan menjadi tiga pasar terbesar yang menopang pengeluaran global untuk barang mewah. Meskipun demikian, peran ketiga kawasan ini diperkirakan lebih sebagai penopang stabilitas daripada sumber pertumbuhan agresif.
Outlook 2026 Moderat, Kolektor Mulai Tahan Belanja Barang Mewah
Sebaliknya, pertumbuhan justru diperkirakan akan bergeser ke kawasan-kawasan yang selama ini kurang dominan.
Jepang, Asia Tenggara, dan Timur Tengah diprediksi akan menjadi pusat pertumbuhan baru seiring dengan meningkatnya permintaan struktural dan investasi di sektor ritel mewah. Ini adalah peluang besar bagi merek-merek untuk menjangkau pasar baru.
Di China, yang sebelumnya menjadi motor utama industri barang mewah, pertumbuhan diperkirakan akan melambat. Setelah periode fluktuatif pada tahun 2024 dan stabilisasi di tahun 2025, pasar diproyeksikan hanya akan tumbuh satu digit rendah hingga menengah pada tahun 2026.
Perilaku konsumen di China juga mengalami perubahan yang signifikan. Pengeluaran menjadi semakin selektif dan terpolarisasi berdasarkan tingkat pendapatan dan kota. Konsumen kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka.
Selain itu, minat terhadap emas dan perhiasan semakin meningkat karena dianggap sebagai penyimpan nilai yang aman, sementara belanja untuk pengalaman, seperti perjalanan dan gaya hidup, terus menguat. Ini menunjukkan pergeseran prioritas konsumen.
Di sisi lain, Jepang menunjukkan ketahanan yang cukup kuat. Konsumsi barang mewah di negara ini didukung oleh belanja wisatawan serta permintaan domestik dari konsumen kelas atas. Pasar Jepang tetap menjadi pemain penting.
Meskipun pelemahan yen sempat menjadi pendorong utama pada tahun 2024, faktor tersebut mulai berkurang pengaruhnya pada tahun 2025.
Menariknya, di antara grup besar seperti LVMH, Hermès, dan Kering, hanya Hermès yang mencatatkan pertumbuhan di Jepang pada tahun 2025. Hal ini mencerminkan semakin selektifnya konsumen Jepang serta meningkatnya pentingnya kekuatan merek.
Industri Barang Mewah Masuk Fase Transisi, Pertumbuhan 2026 Diproyeksi Melambat
Sementara itu, Asia Tenggara muncul sebagai salah satu kawasan dengan prospek pertumbuhan paling menjanjikan.
Permintaan di kawasan ini didorong oleh kombinasi antara kelompok kaya yang mapan dan kelas profesional muda dengan daya beli yang terus meningkat. Ini adalah pasar yang dinamis dan berkembang pesat.
Kota-kota seperti Singapura, Bangkok, dan Ho Chi Minh menjadi pusat pertumbuhan baru, terutama untuk kategori kecantikan, aksesori kecil, dan kacamata. Merek-merek global pun mulai menggabungkan identitas internasional dengan sentuhan lokal untuk menarik konsumen di kawasan ini. Adaptasi adalah kunci untuk sukses di Asia Tenggara.
Adapun Timur Tengah juga menunjukkan momentum yang kuat, didukung oleh konsentrasi kekayaan di negara-negara Teluk seperti Dubai dan Riyadh. Investasi besar di sektor ritel, pariwisata, dan infrastruktur belanja turut mendorong pertumbuhan industri mewah di kawasan tersebut. Timur Tengah menjadi pemain yang semakin penting dalam lanskap barang mewah global.
Dengan dinamika yang beragam ini, Kearney memperkirakan bahwa industri barang mewah global pada tahun 2026 tidak lagi bergantung pada satu pasar utama. Pergeseran ke kawasan-kawasan baru menjadi kunci, di tengah konsumen yang semakin selektif dan sensitif terhadap nilai. Merek-merek mewah harus mampu beradaptasi dengan perubahan ini untuk tetap relevan dan sukses di masa depan.
Pasar Barang Mewah Stagnan, Kolektor Kian Selektif Berburu Nilai
Ringkasan
Industri barang mewah global diperkirakan memasuki fase transisi pada tahun 2026, dengan pertumbuhan yang tidak lagi bergantung pada pasar tradisional seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China. Pasar barang mewah tradisional seperti pakaian siap pakai (ready-to-wear) dan produk kulit, kini cenderung stabil setelah sebelumnya mengalami kenaikan harga yang agresif. Konsumen semakin selektif dan prioritas bergeser ke pengalaman serta investasi yang dianggap aman.
Asia Tenggara, bersama dengan Jepang dan Timur Tengah, diprediksi menjadi pusat pertumbuhan baru bagi industri barang mewah. Hal ini didorong oleh meningkatnya permintaan struktural, investasi di sektor ritel mewah, serta kombinasi kelompok kaya mapan dan kelas profesional muda dengan daya beli tinggi. Kota-kota seperti Singapura, Bangkok, dan Ho Chi Minh menjadi pusat pertumbuhan baru, terutama untuk kategori kecantikan, aksesori kecil, dan kacamata.