PGAS Ekspansi Bisnis Baru: Peluang Investasi & Rekomendasi Saham

Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mengumumkan langkah strategis untuk memperluas cakupan bisnisnya melalui anak perusahaan, PT Pertamina Gas (Pertagas). Ekspansi ini menandai komitmen PGAS dalam menghadapi dinamika pasar energi yang terus berkembang.

Dalam pengumuman resmi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), PGAS menyatakan perubahan kegiatan usaha baru Pertagas akan mencakup Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 20112, yaitu industri gas industri. Pertagas sendiri merupakan kontributor signifikan bagi pendapatan PGAS, dengan sumbangan lebih dari 20%.

“Perubahan ini didorong oleh perkembangan bisnis yang semakin berorientasi pada energi ramah lingkungan, sejalan dengan target Net Zero Emission pada tahun 2060,” jelas Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Jumat (17/4/2026).

Guna merealisasikan rencana ambisius ini, PGAS akan meminta persetujuan dari para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 22 Mei 2026.

Permintaan Naik, Perusahaan Gas Negara (PGAS) Targetkan Volume Niaga Gas 877 BBTUD

Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, menilai positif langkah ekspansi ini bagi keberlanjutan bisnis PGAS. Menurutnya, PGAS berpotensi memperoleh pendapatan di luar bisnis jual beli gas melalui pipa transmisi yang diregulasi. Selain itu, langkah ini juga mendukung pencapaian target Environmental Social Governance (ESG) perusahaan.

“Namun, konsekuensinya adalah beban capital expenditure (capex) awal yang dibutuhkan akan cukup besar,” ungkap Wafi pada hari yang sama.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, juga memberikan pandangan yang menarik terkait aksi korporasi terbaru PGAS. Ia menekankan bahwa PGAS memiliki peluang untuk mengembangkan gas bumi yang lebih ramah lingkungan bagi pelanggan di sektor industri, sebagai bagian dari upaya mencapai target ESG.

“PGAS dapat mengembangkan produk turunan gas bumi dari blue dan green hydrogen,” tambahnya.

Secara keseluruhan, prospek kinerja PGAS di tahun 2026 diprediksi akan menghadapi tantangan yang lebih besar. Kenaikan harga minyak dan gas alam dunia akan berdampak pada harga gas di sektor hulu, yang kemudian membebani PGAS karena terikat pada aturan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) untuk pelanggan industri. Kebijakan HGBT ini membatasi kemampuan PGAS untuk menyesuaikan harga jual kepada pelanggan akhir.

Laba Bersih Terkoreksi pada 2025, Simak Rekomendasi Saham PGN (PGAS)

“Margin laba PGAS berpotensi tertekan,” imbuh Wafi.

Selain itu, Nafan juga mengingatkan PGAS untuk mewaspadai dampak depresiasi kurs rupiah. Meskipun pendapatan PGAS didominasi oleh denominasi dolar AS, pelemahan rupiah tetap dapat mempengaruhi kemampuan PGAS dalam membayar beban operasional dan utang valas perusahaan.

Ke depannya, PGAS perlu secara aktif melakukan ekspansi pembangunan jaringan pipa gas transmisi, baik untuk pelanggan industri maupun rumah tangga. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pendistribusian gas bumi.

Nafan merekomendasikan akumulasi beli saham PGAS dengan target harga Rp 2.090 per saham.

Sementara itu, Wafi menyarankan untuk mempertahankan (hold) saham PGAS dengan target harga Rp 1.500 per saham.

PGN (PGAS) Kian Solid di 2026, Analis Jagokan Midstream–Downstream dan Peran LNG

Ringkasan

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Gas (Pertagas), akan memperluas bisnisnya ke industri gas industri (KBLI 20112) sejalan dengan target Net Zero Emission 2060. Ekspansi ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan PGAS di luar bisnis jual beli gas melalui pipa transmisi dan mendukung target ESG perusahaan, meskipun membutuhkan *capital expenditure* (capex) awal yang besar. Rencana ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham pada RUPST 22 Mei 2026.

Prospek PGAS di tahun 2026 diperkirakan menghadapi tantangan seperti kenaikan harga minyak dan gas alam, aturan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), dan potensi depresiasi rupiah. Analis merekomendasikan akumulasi beli saham PGAS dengan target harga Rp 2.090 per saham, sementara yang lain menyarankan untuk mempertahankan (hold) saham PGAS dengan target harga Rp 1.500 per saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *