Harga Minyak Anjlok, Bursa Global Melonjak: Selat Hormuz Dibuka!

Shoesmart.co.id NEW YORK/LONDON. Kabar baik bagi pasar keuangan global! Jumat (17/4/2026), pasar bergairah menyambut kepastian dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Pengumuman ini datang di tengah masa gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel, mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh pekan.

Konfirmasi dibukanya Selat Hormuz langsung memberikan dampak signifikan. Harga minyak dunia tertekan dan pasar saham mengalami reli yang menggembirakan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa semua kapal komersial diizinkan melintas di Selat Hormuz selama masa gencatan senjata. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi global, sehingga kepastian ini sangat melegakan.

Harga Minyak Anjlok 5% di Tengah Harapan Gencatan Senjata AS–Iran

Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak, yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga energi. Kini, harga minyak mentah Brent merosot tajam 11,5% ke level US$ 87,94 per barel, sementara minyak mentah AS melemah ke US$ 83,33 per barel.

Meskipun masih di atas level sebelum konflik (sekitar US$70 per barel), harga saat ini jauh lebih rendah dibandingkan puncak akhir Maret yang hampir menyentuh US$ 120 per barel.

Sentimen positif ini mendorong penguatan indeks saham global. Di Wall Street, indeks S&P 500 naik 1,15% ke 7.115,31, Dow Jones melonjak 1,95% ke 49.524,91, dan Nasdaq menguat 1,15% ke 24.378,97. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 bahkan mencetak rekor baru. Di Eropa, indeks STOXX 600 juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan 1,49% setelah sebelumnya bergerak datar.

Menurut Kepala Makro Global ING, Carsten Brzeski, berita ini menjadi angin segar bagi pasar energi dan konsumen. “Ini jelas kabar positif dan akan membawa kelegaan bagi harga minyak dan pada akhirnya juga bagi konsumen,” ujarnya.

Harga Minyak Ditutup Menguat: Ancaman Trump dan Nasib Selat Hormuz Makin Panas!

Namun, Brzeski mengingatkan bahwa pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz mungkin tidak akan terjadi secara instan. “Meskipun Iran menyatakan jalur dibuka, pelaku industri seperti perusahaan asuransi dan pemilik kapal bisa saja masih berhati-hati, sehingga arus pelayaran pulih secara bertahap,” tambahnya.

Seiring dengan penurunan harga minyak, saham sektor energi juga ikut tertekan. Saham perusahaan minyak dan gas di Eropa turun sekitar 4,5%, sementara raksasa energi AS seperti Exxon Mobil dan Chevron masing-masing melemah sekitar 5%.

Sebaliknya, saham maskapai penerbangan justru menguat, dengan American Airlines naik sekitar 8%.

Di sisi lain, saham Netflix anjlok lebih dari 9% setelah perusahaan streaming tersebut memberikan proyeksi pertumbuhan yang lemah dan mengumumkan pengunduran diri chairman sekaligus salah satu pendirinya, Reed Hastings.

Harga Minyak Anjlok 4% usai Komentar Trump yang Redakan Kekhawatiran Soal Iran

Sementara itu, di pasar obligasi, aset safe haven mengalami penguatan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke level terendah sejak pertengahan Maret di 4,234%, sementara yield tenor 2 tahun turun menjadi 3,702%. Penurunan yield juga terjadi di Eropa, seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral.

Analis Pepperstone, Michael Brown, berpendapat bahwa normalisasi aliran komoditas dari Selat Hormuz dapat mengurangi risiko besar bagi perekonomian global. “Jika de-eskalasi berlanjut dan aliran komoditas kembali mendekati normal, maka risiko besar bagi ekonomi global akan berkurang,” ujarnya.

Di pasar valuta asing, dolar AS melemah 0,51% ke level 97,71, menandai penurunan mingguan kedua berturut-turut seiring berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven.

Ringkasan

Pasar keuangan global merespons positif dibukanya kembali Selat Hormuz setelah gencatan senjata antara AS dan Israel. Pembukaan jalur pelayaran vital ini meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi, menyebabkan harga minyak dunia anjlok signifikan.

Akibatnya, bursa saham global melonjak dengan indeks utama mencatat kenaikan positif, sementara saham sektor energi tertekan. Pasar obligasi mengalami penguatan aset safe haven dan dolar AS melemah seiring berkurangnya permintaan terhadap aset tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *