Wall Street Anjlok! Konflik Timur Tengah Hantui Inflasi

Shoesmart.co.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengalami awal yang kurang menggembirakan pada perdagangan Selasa (3 Maret 2026), dengan indeks-indeks utama dibuka melemah signifikan. Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama terhadap inflasi global dan stabilitas perdagangan internasional.

Menurut laporan Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 411,7 poin, atau sekitar 0,84%, hingga mencapai level 48.493,11 pada pembukaan pasar. Sementara itu, indeks S&P 500 mengalami penurunan lebih dalam, yakni 81,4 poin atau 1,18%, sehingga berada di posisi 6.800,26. Nasdaq Composite, yang dikenal sebagai indeks saham teknologi, mencatatkan penurunan paling tajam dengan anjlok sebesar 456,5 poin atau 2,01%, dan bertengger di level 22.292,37.

BEI & KSEI Rilis Kepemilikan Saham Emiten di Atas 1%, Kepercayaan Asing Bisa Kembali?

Tekanan jual yang melanda pasar saham AS ini dipicu oleh sejumlah faktor geopolitik. Ancaman dari Teheran untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia, menjadi perhatian utama. Selain itu, penghentian produksi oleh beberapa perusahaan minyak dan gas di kawasan Timur Tengah semakin memperkeruh suasana.

Sebagai informasi, Selat Hormuz adalah jalur vital yang dilalui sekitar seperlima dari total konsumsi minyak global. Disrupsi pada jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dan gas alam, yang pada gilirannya akan berdampak pada kenaikan tarif pengiriman global.

Sektor-sektor yang sensitif terhadap fluktuasi harga energi, seperti industri penerbangan dan pariwisata, kembali mengalami tekanan untuk hari kedua berturut-turut. Saham maskapai Delta Air Lines, misalnya, mengalami penurunan sekitar 3,6%, sementara operator kapal pesiar Royal Caribbean merosot 4,3%.

BEI dan OJK Kembali Bertemu MSCI, Bahas Reformasi Pasar Modal dan Kenaikan Free Float

Di sisi lain, sentimen berbeda justru menghampiri sektor energi dan pertahanan. Saham Occidental Petroleum naik 2%, sementara Cheniere Energy melonjak 5,3%. AeroVironment, perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan, juga mencatatkan kenaikan sebesar 5%.

“Saat ini, pasar sedang tidak bersahabat bagi para investor yang berani mengambil risiko. Energi menjadi sektor yang paling diuntungkan,” kata Kathleen Brooks, Direktur Riset XTB, dalam sebuah catatan. Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan harga energi dapat memberikan dampak negatif bagi ekonomi global dan memicu tekanan di sektor-sektor lainnya.

Aksi jual terjadi secara luas, termasuk pada saham-saham teknologi raksasa. Nvidia, misalnya, turun 2,6%, sementara Microsoft melemah 1,9% setelah mencatat kenaikan pada sesi perdagangan sebelumnya.

Investor Kripto Tembus 20,7 Juta, Transaksi Januari 2026 Turun

Inflasi Jadi Perhatian The Fed

Kekhawatiran investor semakin bertambah seiring dengan potensi kenaikan harga minyak yang dapat memicu tekanan inflasi yang lebih luas. Situasi ini diperkirakan akan memperumit kebijakan bank sentral AS (The Fed), yang saat ini tengah berjuang mengatasi kenaikan harga akibat tarif perdagangan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi. Berdasarkan data dari LSEG, pelaku pasar kini memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed baru akan terjadi pada bulan September, mundur dari ekspektasi sebelumnya di bulan Juli.

Sejumlah pejabat bank sentral dijadwalkan untuk menyampaikan pandangan mereka hari ini, termasuk John Williams, Jeffrey Schmid, dan Neel Kashkari.

UNVR Resmi Jual Bisnis Teh Sariwangi ke Savoria Kreasi Rasa Senilai Rp 1,5 Triliun

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap model bisnis tradisional, serta volatilitas yang terjadi di pasar kredit swasta.

Saham MongoDB anjlok 27,2% setelah perusahaan perangkat lunak basis data tersebut memproyeksikan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar. Sebaliknya, saham Target naik 3,5% setelah CEO baru Michael Fiddelke menjanjikan pemulihan pertumbuhan penjualan dan memberikan proyeksi laba yang optimistis.

Penguatan dolar AS turut menekan harga aset safe haven tradisional seperti logam mulia. Saham perusahaan tambang yang tercatat di AS, seperti Sibanye Stillwater dan Gold Fields, masing-masing merosot 14,4% dan 9,8%.

Secara keseluruhan, pasar saat ini berada di bawah tekanan akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah. Konflik ini berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan internasional.

Ringkasan

Bursa saham AS mengalami penurunan signifikan pada pembukaan perdagangan akibat kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat memicu inflasi global. Indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite mencatatkan penurunan yang substansial, dipicu oleh ancaman terhadap jalur perdagangan minyak Selat Hormuz dan potensi gangguan produksi energi.

Sektor-sektor yang sensitif terhadap harga energi, seperti penerbangan dan pariwisata, mengalami tekanan, sementara saham energi dan pertahanan justru menguat. Kekhawatiran terhadap inflasi juga memicu penundaan ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed dan menekan harga aset safe haven seperti logam mulia. Secara keseluruhan, pasar tertekan oleh ketidakpastian geopolitik dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *