Yield SBN Naik: Asing Jual Rugi Rp3,35 Triliun, Ini Sebabnya!

Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar obligasi dalam negeri saat ini tengah menghadapi tantangan. Indikasinya terlihat dari meningkatnya yield Surat Berharga Negara (SBN) serta berlanjutnya aksi jual oleh investor asing di pasar surat utang.

Data per 27 Februari 2026 menunjukkan, rata-rata yield SBN mengalami kenaikan sebesar 1,76 basis poin (bps) secara month to date (MtD) dan 10,04 bps secara year to date (YtD). Kenaikan yield ini menjadi sinyal bahwa tekanan masih kuat membayangi pergerakan pasar obligasi.

BEI & KSEI Rilis Kepemilikan Saham Emiten di Atas 1%, Kepercayaan Asing Bisa Kembali?

Dari sisi pergerakan modal, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) SBN sebesar Rp 3,35 triliun secara MtD hingga tanggal 27 Februari 2026. Secara YtD, total aksi jual asing di pasar SBN telah mencapai angka Rp 3,25 triliun.

Situasi serupa juga terjadi di pasar obligasi korporasi, di mana investor asing masih mencatatkan net sell. Meskipun angkanya relatif kecil, yaitu Rp 0,30 miliar secara MtD dan Rp 0,95 triliun secara YtD, hal ini tetap menjadi perhatian.

Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjelaskan bahwa keluarnya dana asing dari pasar obligasi domestik dipengaruhi oleh sentimen penurunan suku bunga.

Menurutnya, kondisi penurunan suku bunga ini mendorong terjadinya pergeseran alokasi investasi ke instrumen-instrumen yang dinilai memiliki potensi imbal hasil yang lebih menarik, termasuk di antaranya adalah saham-saham dalam negeri.

“Walaupun di awal Februari sempat terjadi volatilitas dan upaya net sell, namun di akhir bulan Februari kita sudah membukukan net buy di saham. Ini mengindikasikan adanya potensi pengalihan dana dari instrumen lain, seperti surat berharga negara, ke saham domestik,” ungkap Hasan seusai mengikuti Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, pada hari Selasa (3/3/2026).

BEI dan OJK Kembali Bertemu MSCI, Bahas Reformasi Pasar Modal dan Kenaikan Free Float

Kendati demikian, Hasan tetap mengingatkan para pelaku pasar untuk terus mewaspadai potensi risiko jangka pendek yang mungkin timbul akibat dinamika geopolitik global. Eskalasi konflik atau ketegangan di berbagai kawasan berpotensi memicu sudden reversal di pasar keuangan.

“Memang sulit dihindari, ketika terjadi eskalasi konflik, apalagi sampai terjadi peperangan, investor global cenderung mengambil langkah pengamanan dengan mengkonversi aset mereka di luar negeri menjadi kas dan menariknya kembali ke negara asal masing-masing,” pungkasnya.

Ringkasan

Pasar obligasi Indonesia menghadapi tantangan dengan kenaikan yield SBN dan aksi jual oleh investor asing. Hingga 27 Februari 2026, yield SBN naik signifikan, dan investor asing mencatatkan penjualan bersih SBN sebesar Rp 3,35 triliun secara month-to-date (MtD).

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Keuangan OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa keluarnya dana asing disebabkan sentimen penurunan suku bunga. Investor beralih ke instrumen dengan potensi imbal hasil lebih menarik seperti saham, meskipun risiko dari dinamika geopolitik global tetap perlu diwaspadai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *