
Shoesmart.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus bergerak di bawah tekanan, kini tampak memasuki fase keseimbangan baru di tengah ketidakpastian tekanan global yang masih tinggi. Situasi ini menyoroti adaptasi pasar terhadap dinamika ekonomi dan geopolitik dunia.
Pergerakan rupiah tercatat sangat fluktuatif dan belum mampu melepaskan diri dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Pada Rabu (22/3), rupiah ditutup di level Rp 17.181 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,22% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.143 per dolar AS. Data ini menegaskan posisi rentan mata uang domestik.
Menariknya, jika ditelusuri lebih jauh, rupiah bahkan sempat menyentuh titik terlemah sepanjang masanya. Ini terjadi pada Jumat (17/4), ketika rupiah ditutup pada level Rp 17.189 per dolar AS, menunjukkan volatilitas ekstrem yang pernah dialami.
Incar Pertumbuhan Pendapatan Hingga 12%, Begini Strategi IPCC
Menanggapi kondisi ini, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin berpendapat bahwa level nilai tukar Rp 17.000-an saat ini merupakan sebuah realita baru yang sulit dihindari. Ia bahkan menyatakan pesimisme akan kemungkinan rupiah kembali menguat ke kisaran Rp 16.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
“Rp 17.000 adalah realita baru, yang akan disusul dengan realita-realita baru yang lain. Hampir tidak ada alasan yang memadai bagi rupiah untuk kembali ke level Rp 16.000,” ujar Wijayanto saat dihubungi Kontan, Rabu (22/4/2026), menegaskan pandangannya.
Lebih lanjut, Wijayanto memproyeksikan bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan terus berlanjut di masa depan, seiring dengan dinamika global yang belum sepenuhnya kondusif. Salah satu faktor utama yang disorotnya adalah peningkatan tensi geopolitik di kawasan Teluk, yang dinilai kurang menguntungkan bagi stabilitas ekonomi Indonesia.
Menurut analisisnya, kondisi geopolitik tersebut berpotensi besar mendorong arus modal keluar (capital outflow) secara berkelanjutan dari pasar domestik. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) dinilai perlu terus mengoptimalkan intervensinya guna menjaga stabilitas nilai tukar. BI sendiri mencatat, pada periode Januari-Maret 2026, transaksi modal dan finansial mengalami net outflows dari investasi portofolio asing sebesar US$ 1,7 miliar.
“Dalam beberapa bulan ini, hal tersebut (intervensi) sudah dijalankan, tetapi tanpa dukungan kebijakan fiskal yang solid, upaya BI tidak akan berkelanjutan,” jelas Wijayanto, menggarisbawahi pentingnya sinergi kebijakan.
Namun, BI juga mencatat adanya perbaikan signifikan pada awal triwulan II 2026. Hingga 20 April 2026, aliran modal kembali menunjukkan net inflows sebesar US$ 1,9 miliar. Peningkatan ini terutama ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan SBN, yang didorong oleh peningkatan imbal hasil pada kedua instrumen tersebut.
Untuk mendukung upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, BI telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 21-22 April 2026. Wijayanto menilai langkah BI ini ideal karena kenaikan suku bunga justru berisiko menekan sektor riil dan mengirimkan sinyal negatif kepada pelaku usaha serta investor.
“Kalau dinaikkan justru akan semakin memberatkan sektor riil dan mengirim pesan bahwa ekonomi kita rapuh,” ujarnya, menjelaskan alasan di balik kebijakan tersebut.
Wijayanto lebih lanjut menegaskan bahwa target penguatan rupiah hingga kembali ke level Rp 16.000 bukanlah prioritas utama yang harus dikejar. Sebaliknya, fokus kebijakan seharusnya lebih diarahkan pada pencapaian stabilitas nilai tukar secara berkelanjutan.
Dalam konteks menjaga stabilitas ini, peran pemerintah melalui kebijakan fiskal dinilai sangat krusial. Wijayanto menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal di mata para pelaku pasar dan investor untuk menumbuhkan kepercayaan.
Menurutnya, kebijakan fiskal yang solid tercermin dari kesinambungan anggaran, kemandirian dari ketergantungan utang, serta kepemilikan ruang fiskal yang memadai. Selain itu, belanja negara harus selaras dengan penerimaan, dan pengeluaran yang tidak rasional perlu dikendalikan agar fiskal tetap sehat.
Untuk prospek rupiah hingga akhir 2026, Wijayanto memperkirakan rupiah masih akan cenderung melemah, namun tetap bergerak dalam rentang yang aman dan terkendali. “Saya tidak melihat ada potensi kejutan luar biasa dalam waktu dekat,” pungkasnya, memberikan pandangan yang relatif stabil.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah terus tertekan dan berada di level Rp 17.181 per dolar AS pada 22 April 2026, bahkan sempat menyentuh titik terlemah di Rp 17.189 per dolar AS. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai level Rp 17.000-an sebagai realita baru yang sulit dihindari dan pesimis rupiah akan kembali ke Rp 16.000 dalam waktu dekat.
Tekanan terhadap rupiah diperkirakan berlanjut akibat dinamika global dan tensi geopolitik. Bank Indonesia (BI) perlu terus melakukan intervensi, namun perlu dukungan kebijakan fiskal yang solid dari pemerintah. BI mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% dan menilai stabilitas nilai tukar lebih penting daripada target penguatan rupiah ke Rp 16.000. Wijayanto memperkirakan rupiah cenderung melemah namun tetap dalam rentang yang aman hingga akhir 2026.