JAKARTA – Merespons evaluasi menyeluruh dari MSCI, Bursa Efek Indonesia (BEI) secara proaktif mengimplementasikan serangkaian reformasi transparansi yang signifikan. Langkah fundamental ini mencakup pengecualian saham-saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dari konstituen indeks unggulan BEI, sebuah kebijakan strategis yang dirancang untuk menjaga dan memastikan indeks-indeks tersebut tetap investable serta kredibel di mata investor.
I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, menegaskan bahwa BEI senantiasa menjalin dialog yang intens dan konstruktif dengan MSCI. Nyoman mengungkapkan, diskusi yang terjalin selama ini berjalan sangat positif, terutama mengingat MSCI tengah melakukan penilaian komprehensif terhadap reformasi transparansi pasar yang telah dan sedang diimplementasikan. Lebih lanjut, MSCI juga aktif mengumpulkan umpan balik dari para klien dan pelaku pasar terkait reformasi krusial yang digulirkan di Pasar Modal Indonesia ini.
Untuk memastikan pemahaman yang menyeluruh dan mengakomodasi setiap pertanyaan, Nyoman menambahkan bahwa BEI berkomitmen untuk terus mengedukasi publik serta para pelaku pasar mengenai reformasi transparansi ini. Guna menjawab berbagai concern yang mungkin timbul, BEI menyediakan hot desk khusus yang didedikasikan untuk memfasilitasi komunikasi yang lebih intensif dan akomodatif. Pada Rabu (22/4), Nyoman juga merinci bahwa BEI telah mulai mengimplementasikan kebijakan reformasi transparansi ini pada indeks-indeks unggulan seperti IDX30, LQ45, dan IDX80, dengan secara tegas tidak menyertakan saham-saham yang tergolong dalam HSC sebagai konstituennya.
Nyoman menegaskan bahwa implementasi kebijakan ini bertujuan ganda: pertama, untuk memastikan setiap konstituen indeks tetap sangat investable; dan kedua, agar indeks-indeks tersebut selaras sepenuhnya dengan tujuan investasi jangka panjang. Dengan demikian, diharapkan indeks-indeks ini dapat berfungsi sebagai referensi yang kredibel dan tepercaya bagi para investor dalam membuat keputusan investasi yang cermat.
Dampak positif dari reformasi ini sudah mulai terlihat jelas di pasar. Sejak penyelesaian reformasi transparansi pasar diumumkan pada 2 April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menunjukkan peningkatan yang signifikan, melesat 8% dari level 7.026 poin hingga ditutup di angka 7.559 pada Selasa (21/4). Nyoman menekankan bahwa kenaikan ini merupakan indikasi kuat bahwa publik dan para investor menyambut baik dan memberikan respons positif terhadap upaya reformasi yang telah digulirkan BEI.
Ke depan, Nyoman menegaskan komitmen BEI untuk tidak berhenti berinovasi dalam mengembangkan dan memperkuat sistem perlindungan investor. Tujuan utamanya adalah untuk terus meningkatkan likuiditas pasar, membangun dan menjaga kepercayaan investor, serta memastikan bahwa seluruh aktivitas perdagangan saham dapat berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien demi kemajuan Pasar Modal Indonesia yang berkelanjutan.