
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak menguat secara terbatas pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Proyeksi ini muncul setelah pasar modal domestik mengalami koreksi pada sesi sebelumnya, dibayangi oleh sentimen global dan tekanan fundamental dari dalam negeri.
Pada Selasa (21/4), IHSG tercatat ditutup melemah 0,46% ke level 7.559,38. Pergerakan ini kontras dengan mayoritas bursa Asia yang justru menunjukkan penguatan, menandakan adanya faktor spesifik yang membebani pasar saham Indonesia.
Tekanan utama terhadap kinerja pasar domestik dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang kembali menunda evaluasi saham Indonesia. Kepala Riset Ritel MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi IHSG tak dapat dilepaskan dari rencana MSCI untuk mengeluarkan saham-saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi (High Shareholding Concentration/HSC). Selain itu, MSCI juga mempertahankan pembekuan kajian konstituen saham Indonesia dalam agenda penyeimbangan kembali (rebalancing) periode Mei 2026.
“Koreksi IHSG dibebani pengumuman MSCI yang menangguhkan penilaian saham Indonesia dan adanya potensi keluarnya dua emiten berkapitalisasi besar,” ungkap Herditya, Selasa (21/4).
Tekanan Terhadap IHSG Diproyeksi Masih Berlanjut, Cek Saham Rekomendasi Analis
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda. Ia menggarisbawahi keputusan MSCI sebagai katalis negatif utama. Tekanan ini semakin diperparah dengan koreksi yang dialami saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seiring dengan momentum ex-dividend yang membuat investor cenderung merealisasikan keuntungan.
Menurut Reza, pelaku pasar saat ini memilih untuk bersikap wait and see, menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Konsensus pasar memperkirakan bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan di level 4,75%. Pergerakan IHSG diperkirakan terbatas, dengan potensi menutup gap di sekitar 7.500 dan menghadapi resistansi di kisaran 7.700.
Menanti Putusan BI, IHSG Masih Rawan Tekanan Cek Saham Rekomendasi Analis
Selain faktor domestik, investor juga mencermati dinamika global. Perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan, dengan isu gencatan senjata yang dinilai dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas serta arus modal asing ke pasar saham Indonesia.
Secara teknikal, Herditya memperkirakan bahwa IHSG memiliki level support di 7.539 dan resistance di 7.570. Ia menilai bahwa penguatan yang terjadi masih bersifat terbatas, seiring minimnya katalis positif yang signifikan dalam jangka pendek.
Untuk strategi perdagangan, Herditya merekomendasikan sejumlah saham menarik yang layak dicermati. Saham-saham tersebut antara lain BRPT di kisaran Rp 2.610–Rp 2.770, PTRO pada rentang Rp 6.950–Rp 7.600, serta RATU di level Rp 7.450–Rp 7.775 per saham. Investor disarankan untuk memperhatikan level-level tersebut dalam pengambilan keputusan investasi.