KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat telah menciptakan tekanan signifikan bagi sektor kesehatan di Indonesia. Meskipun permintaan akan layanan kesehatan cenderung stabil, tantangan justru muncul dari sisi biaya operasional yang kian membengkak.
Hendra Wardana, seorang pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, menyoroti bahwa secara struktural, sektor kesehatan memang dikenal defensif dari aspek permintaan. Namun, gempuran pelemahan rupiah kini menjadi aral melintang yang besar, khususnya dari sisi biaya. Kondisi ini berpotensi mengikis margin laba perusahaan-perusahaan di sektor tersebut.
Menurut Hendra, fenomena ini turut menyebabkan kinerja indeks sektoral kesehatan (IDXHEALTH) cenderung tertahan. Bukan karena adanya penurunan pendapatan, melainkan karena ancaman serius terhadap profitabilitas yang diakibatkan oleh kenaikan beban operasional, katanya kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).
CDS Turun, Yield SBN 5 Tahun Masih Tertahan di 6,29%
Emiten farmasi diidentifikasi sebagai pihak yang paling terdampak oleh fluktuasi mata uang ini. Hal ini tidak terlepas dari tingginya ketergantungan industri farmasi terhadap impor bahan baku aktif (API), yang diperkirakan mencapai 80% hingga 90% dari total kebutuhan. Konsekuensinya, pelemahan rupiah secara langsung melambungkan biaya pokok penjualan (cost of goods sold/COGS) dan berujung pada penekanan margin.
Hendra menambahkan, kenaikan biaya produksi ini tidak selalu dapat diteruskan sepenuhnya ke harga jual produk. Terutama untuk produk obat generik yang berada di bawah regulasi ketat pemerintah, ruang penyesuaian harga menjadi sangat terbatas.
Di sisi lain, emitmen rumah sakit juga tidak luput dari imbas kenaikan biaya. Mereka menghadapi lonjakan harga pengadaan alat kesehatan, obat-obatan, serta biaya perawatan peralatan medis yang mayoritas masih berbasis impor. Ini secara signifikan membebani operasional rumah sakit.
Saham BREN dan DSSA Berpotensi Keluar dari Indeks MSCI, Begini Rekomendasi Analis
Imbasnya, profitabilitas rumah sakit berisiko tertekan, terutama bagi penyedia layanan yang memiliki porsi pasien BPJS Kesehatan yang besar. Ruang untuk melakukan penyesuaian tarif bagi segmen ini sangat terbatas. Kendati demikian, rumah sakit yang melayani segmen menengah atas dinilai lebih resilien atau tangguh. Mereka memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menaikkan tarif layanan sesuai kondisi pasar.
Guna menjaga margin laba dan mitigasi dampak pelemahan rupiah, emitmen kesehatan umumnya menerapkan berbagai strategi. Ini meliputi efisiensi operasional yang ketat, optimalisasi rantai pasok untuk menekan biaya, serta praktik lindung nilai atau natural hedging untuk meminimalkan risiko fluktuasi mata uang.
Selain itu, perusahaan-perusahaan di sektor ini juga mulai melakukan penyesuaian harga jual secara bertahap, khususnya pada produk non-subsidi dan layanan non-BPJS. Strategi lain yang ditempuh adalah meningkatkan porsi layanan dengan margin laba yang lebih tinggi demi menopang kinerja keuangan.
Dalam kondisi penuh tantangan ini, Hendra menekankan pentingnya seleksi saham yang cermat di sektor kesehatan. Investor perlu jeli dalam memilih saham sektor kesehatan.
Pelemahan Rupiah Menekan Emiten Sektor Kesehatan, Ini Rekomendasi Analis
“Emiten dengan pricing power kuat, efisiensi operasional yang tinggi, dan eksposur impor yang terkelola dengan baik akan cenderung lebih defensif di tengah gelombang pelemahan rupiah,” ujarnya.
Hendra menilai, saham rumah sakit seperti SILO dan HEAL masih sangat menarik, didukung oleh segmen premium dan efisiensi operasional yang solid. Selain itu, SAME juga dinilai memiliki potensi turnaround meskipun dengan tingkat risiko yang lebih tinggi, sementara PRDA menawarkan model bisnis laboratorium dengan margin laba yang relatif stabil dan menarik.
Secara teknikal, Hendra melihat peluang trading yang selektif masih terbuka lebar pada sejumlah saham tersebut, asalkan investor tetap berhati-hati di tengah tekanan yang ditimbulkan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah.