JAKARTA – Awal pekan ini, pasar saham dan keuangan di negara-negara berkembang mengalami tekanan berat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel telah memicu lonjakan harga energi dan mendorong investor global untuk menghindari risiko.
Indeks saham negara berkembang, yang direpresentasikan oleh MSCI Emerging Markets, telah merosot lebih dari 10% dari titik tertingginya. Sejalan dengan itu, mayoritas mata uang negara berkembang juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS, sebagai dampak dari kebijakan *flight to safety* atau pelarian ke aset yang dianggap lebih aman.
MSCI Emerging Markets mencerminkan kinerja indeks saham dari negara-negara berkembang yang dilacak oleh MSCI. Pada perdagangan Senin, indeks ini mencatatkan penurunan yang signifikan. Sebagai gambaran, bursa Korea Selatan, Kospi, anjlok dengan penurunan lebih dari 8%.
Indeks saham pasar berkembang MSCI merosot hingga 4,2% pada hari Senin, melanjutkan tren penurunan dari puncaknya di akhir Februari. Bahkan, indeks Kospi Korea Selatan, yang sebelumnya menjadi salah satu indeks dengan kinerja terbaik di dunia tahun ini, telah terkoreksi lebih dari 18% dari level tertingginya.
Menurut laporan *Bloomberg* pada Senin (9/3), tekanan ini juga merambat ke pasar valuta asing negara berkembang. Investor global berbondong-bondong mencari aset yang dinilai lebih aman, dan dolar Amerika Serikat menjadi pilihan utama.
Indeks mata uang pasar berkembang MSCI juga mengalami penurunan hingga 0,8%, dengan penurunan terdalam dipimpin oleh won Korea Selatan. Sementara itu, peso Filipina dan rupiah Indonesia terperosok ke level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS.
Dolar AS semakin diminati seiring dengan harga minyak yang menembus angka US$100 per barel, yang semakin memicu permintaan terhadap aset *safe-haven*.
Kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang memperberat tekanan terhadap negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
“Arah pasar dalam jangka pendek kemungkinan besar akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah dibandingkan fundamental domestik, terutama melalui harga energi dan sentimen risiko,” ungkap Bob Savage, kepala strategi makro pasar di BNY, dalam sebuah catatan.
Savage menekankan bahwa negara-negara pengimpor energi bersih seperti Jepang, Korea Selatan, dan India menjadi yang paling rentan terhadap guncangan neraca perdagangan yang berkelanjutan.
Ringkasan
Pasar saham dan keuangan negara berkembang mengalami tekanan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang memicu lonjakan harga energi dan mendorong investor global menghindari risiko. Indeks MSCI Emerging Markets anjlok lebih dari 10% dari titik tertingginya, sementara mayoritas mata uang negara berkembang melemah terhadap dolar AS akibat *flight to safety*.
Penurunan terdalam dipimpin oleh won Korea Selatan, sementara peso Filipina dan rupiah Indonesia mencapai level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS. Kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang memperberat tekanan, terutama bagi negara-negara pengimpor energi bersih seperti Jepang, Korea Selatan, dan India.