Shoesmart.co.id, JAKARTA — Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang empat bulan pertama tahun 2026 menunjukkan tren pelemahan yang signifikan, bahkan menempatkan bursa saham Indonesia pada posisi terlemah di antara pasar saham Asia lainnya.
Berdasarkan data yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat berada di level 6.956,80 per Kamis (30/4/2026). Angka ini mencerminkan penurunan sebesar 19,55% secara tahun berjalan (YtD) dan menjadi titik terendah IHSG sepanjang tahun 2026. Situasi ini diperparah dengan aksi jual bersih atau net sell yang dilakukan investor asing, mencapai nilai fantastis Rp49,87 triliun selama periode yang sama. Dengan kondisi tersebut, valuasi IHSG saat ini berada pada kisaran Price-to-Earnings Ratio (PER) 14,69 kali dan Price-to-Book Value (PBV) 1,90 kali.
Performa lesu ini menjadikan IHSG sebagai indeks saham dengan rapor terburuk di Asia. Beberapa bursa lain di kawasan yang juga mengalami pelemahan YtD, meskipun tidak sedalam IHSG, antara lain India (-9,75%), Filipina (-3,62%), dan Australia (-1,45%).
Sepanjang tahun berjalan, pergerakan IHSG didominasi oleh pengaruh dari sejumlah saham. Saham-saham pendorong indeks sebagian besar berasal dari sektor komoditas, mencakup EMAS, MDKA, MEGA, AADI, MSIN, ADRO, MEGA, BIPI, ANTM, BNBR, dan ARKO. Di sisi lain, saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar atau big caps justru menjadi penekan utama IHSG, di antaranya DSSA, BBCA, BREN, BBRI, FILM, BRPT, TLKM, BYAN, MORA, dan BMRI.
Tekanan yang membebani pasar saham Indonesia hingga akhir bulan ini merupakan hasil kombinasi sentimen global dan domestik yang terjadi secara simultan. Lonjakan harga minyak mentah akibat memanasnya ketegangan di Timur Tengah memicu perpindahan dana investor dari aset berisiko. Selain itu, keputusan MSCI untuk membekukan perubahan pada saham Indonesia turut menjadi pemicu arus keluar dana asing atau outflow dalam jangka pendek.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa koreksi tajam ini telah membawa rasio harga terhadap laba (PE) IHSG ke kisaran 11–12 kali. Angka ini mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir dan berada di bawah rata-rata historis 14–15 kali. Abida menambahkan, posisi valuasi yang rendah ini mencerminkan bahwa sebagian besar risiko, seperti tekanan dari MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, telah cukup banyak terdiskon oleh pasar.
Bagi investor jangka menengah, Abida menuturkan bahwa level indeks komposit saat ini menawarkan margin of safety yang memadai untuk melakukan akumulasi bertahap. Meskipun demikian, pasar masih menanti katalis pemulihan yang kuat, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah dan kejelasan arah kebijakan moneter The Fed. Tekanan jangka pendek juga masih dibayangi oleh potensi arus keluar dana asing akibat keputusan MSCI yang diperkirakan bisa mencapai Rp15 triliun.
Namun, optimisme untuk jangka menengah berpotensi muncul dari serangkaian perbaikan internal di bursa efek. Implementasi kebijakan high shareholding concentration (HSC), penyempurnaan aturan free float, hingga pengetatan kriteria indeks dipandang sebagai langkah strategis yang tepat untuk memperkuat struktur pasar modal Indonesia.
Abida menyatakan bahwa dalam rentang 6–12 bulan ke depan, terdapat peluang kembalinya dana asing secara struktural, seiring dengan progres reformasi pasar modal. Langkah strategis seperti pemenuhan free float sebesar 15% dan klasifikasi investor yang lebih transparan diyakini mampu meningkatkan kepercayaan investor institusional global. Dalam skenario base case, Indonesia berpotensi kembali mencatatkan net buy asing pada kuartal III atau kuartal IV tahun 2026, asalkan rupiah tetap stabil di bawah Rp17.000 dan reformasi berjalan sesuai jadwal, pungkas Abida.
Di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan dalam waktu lama juga disebut masih menjadi tantangan serius bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, mencatat sejumlah saham bervaluasi menarik dengan price to book ratio (PBV) di bawah 1 kali hingga 1,5 kali, namun memiliki fundamental laba yang kuat. Saham-saham tersebut antara lain AADI, AKRA, BBCA, MEDC, dan AMRT. Selain itu, INDF dan ICBP juga dapat menjadi opsi investasi yang menjanjikan karena memiliki eksposur yang lebih minim terhadap sentimen asing.
Dalam situasi pasar yang fluktuatif ini, Wafi mengidentifikasi dua pola kecenderungan perilaku investor. Institusi lokal cenderung mulai mengakumulasi saham secara bertahap di level support, sementara investor ritel masih menunggu kepastian pasar. Meskipun demikian, Wafi menyarankan bahwa saat ini sudah boleh memulai akumulasi, namun harus dilakukan secara bertahap dan selektif. Menurutnya, koreksi yang terjadi saat ini telah memasuki zona akumulasi yang menarik untuk investasi jangka panjang.
Wafi juga menyoroti dua tanggal penting yang perlu diperhatikan investor: 12 Mei 2026 sebagai pengumuman MSCI, dan 1 Juni 2026 sebagai tanggal efektif rebalancing. Ia menambahkan, jika keputusan MSCI tidak memperburuk situasi pasar, potensi terjadinya relief rally cukup besar.
Disclaimer: Berita ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.