Yield SRBI Naik: BI Tarik Modal Asing, Rupiah Menguat?

Jakarta, IDN Times – Bank Indonesia (BI) mengambil langkah strategis dengan menaikkan imbal hasil atau yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tujuannya jelas, menarik kembali aliran dana asing (inflow) ke pasar domestik. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan global yang meningkat, yang memicu arus keluar modal (outflow) dari pasar saham dan obligasi Indonesia.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa yield SRBI untuk tenor 12 bulan saat ini berada di level 6,45 persen. Sementara itu, SRBI dengan tenor 9 bulan menawarkan yield sekitar 6,31 persen dan 6,2 persen. Struktur ini dirancang agar investor yang menanamkan dana dalam jangka waktu lebih panjang mendapatkan imbal hasil yang lebih menarik.

Perry Warjiyo menegaskan bahwa keputusan menaikkan yield SRBI didorong oleh eskalasi tekanan global. Faktor utama yang memicu tekanan ini adalah konflik geopolitik yang semakin memanas dan lonjakan harga minyak dunia, yang pada gilirannya memperkuat posisi dolar Amerika Serikat (AS).

“Konflik yang semakin intens berdampak signifikan pada harga minyak dunia. Oleh karena itu, kami perlu menaikkan suku bunga SRBI untuk mendorong arus modal asing masuk,” ujarnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI, Senin (18/5/2026).

1. Arus Keluar Dana (Outflow) Deras di Pasar Keuangan Domestik

Data BI menunjukkan bahwa sepanjang kuartal I-2026, investor asing cenderung menarik dana dari pasar keuangan domestik. Pada periode Januari hingga Maret 2026, tercatat arus keluar modal dari pasar saham mencapai Rp26,06 triliun. Sementara itu, outflow dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp25,1 triliun. Menariknya, instrumen SRBI yang sempat mencatatkan inflow pada Januari dan Februari, mulai mengalami outflow pada Maret 2026.

“SRBI pada Januari dan Februari masih mencatatkan inflow. Namun, pada Maret, instrumen ini juga mulai mengalami outflow akibat tekanan global yang semakin tinggi dan dampak signifikan dari kenaikan harga minyak,” jelas Perry.

Menyikapi tekanan ini, BI meningkatkan daya tarik SRBI melalui kenaikan yield, dengan harapan investor asing kembali melirik instrumen domestik. Strategi ini membuahkan hasil. Pada April 2026, arus modal asing ke SRBI mulai kembali masuk, mencapai Rp48,2 triliun. Tren positif ini berlanjut hingga 8 Mei 2026, dengan tambahan inflow sebesar Rp27,05 triliun. Secara total, inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun. Secara kumulatif sejak awal tahun, inflow SRBI telah mencapai Rp105,16 triliun.

“Langkah ini diambil untuk mengompensasi outflow dari pasar saham dan SBN,” imbuh Perry.

BI Gencar Terbitkan SRBI Hingga Nyaris Rp1.000 Triliun, Apa Risikonya?

2. Pembelian SBN oleh Investor Asing Capai Rp13,36 Triliun per April

Perry menjelaskan bahwa masuknya dana asing ke SRBI berkontribusi pada peningkatan pasokan valuta asing (valas) di pasar domestik, karena investor asing membeli SRBI di pasar sekunder. Selain SRBI, BI juga mencatat adanya aliran dana asing yang masuk ke Surat Berharga Negara (SBN). Pada April 2026, pembelian SBN oleh investor asing tercatat sebesar Rp13,36 triliun.

Meskipun demikian, secara year-to-date (tahun berjalan), pasar saham dan SBN masih membukukan outflow. Namun, pada minggu pertama Mei hingga 8 Mei 2026, pasar saham mulai mencatat inflow sebesar Rp10,19 triliun.

“Karena pasar saham masih mengalami outflow, kami meningkatkan daya tarik SRBI untuk memastikan net inflow tetap terjaga,” kata Perry.

3. Permintaan Dolar AS yang Tinggi Masih Menekan Rupiah

BI mencatat bahwa secara keseluruhan, net inflow mencapai Rp67,3 triliun. Angka ini dinilai membantu menjaga pasokan valas di dalam negeri. Namun, Perry mengakui bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih cukup besar, terutama karena permintaan dolar AS secara global masih tinggi. Oleh karena itu, BI terus melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Insyaallah, pada bulan Juli-Agustus, permintaan dolar AS akan mulai menurun, sehingga kebutuhan intervensi tidak akan terlalu besar,” pungkas Perry.

Kurangi Peredaran SRBI, Bank Indonesia Bakal Terbitkan BI-FRN

Ringkasan

Bank Indonesia (BI) menaikkan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai upaya menarik kembali aliran dana asing (inflow) ke pasar domestik, merespons tekanan global yang meningkatkan arus keluar modal (outflow) dari pasar saham dan obligasi Indonesia. Yield SRBI untuk tenor 12 bulan berada di level 6,45 persen, dengan tenor yang lebih pendek menawarkan yield yang lebih rendah. Kenaikan ini bertujuan mengkompensasi outflow dari pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN), terutama dipicu oleh konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia.

Kenaikan yield SRBI mulai menunjukkan hasil positif dengan adanya inflow modal asing sebesar Rp48,2 triliun pada April 2026 dan berlanjut hingga 8 Mei 2026 dengan tambahan Rp27,05 triliun. Selain SRBI, BI juga mencatat pembelian SBN oleh investor asing sebesar Rp13,36 triliun pada April 2026. Secara keseluruhan, net inflow mencapai Rp67,3 triliun, membantu menjaga pasokan valuta asing meskipun tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih tinggi akibat permintaan dolar AS yang besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *