Rupiah Menguat: Intervensi BI Kurang, Eksportir Diminta Lepas Dolar!

Shoesmart.co.id – Rupiah masih tertekan di level yang mengkhawatirkan. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, berpendapat bahwa intervensi Bank Indonesia (BI) saja tidak cukup untuk mengembalikan nilai tukar rupiah ke kisaran ideal Rp 16.000 per dolar AS. Menurutnya, dibutuhkan sinergi dari berbagai faktor, termasuk penguatan fiskal, aliran modal asing yang deras, peningkatan ekspor, dan yang tak kalah penting, kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia.

Rizal melihat secercah harapan bahwa rupiah masih memiliki potensi untuk menguat, terutama jika tekanan global mereda dan permintaan terhadap valuta asing berkurang. Namun, untuk mencapai stabilitas di level Rp 16.000-an, diperlukan dukungan yang lebih komprehensif.

“Secara matematis, proyeksi rupiah kembali ke kisaran Rp 16.200-16.800 sebagai rata-rata tahunan masih mungkin terjadi, tetapi sangat berat mengingat posisi saat ini sudah berada di atas Rp 17.600,” ungkap Rizal, seperti dikutip dari Antara, Selasa (19/5).

Senada dengan Rizal, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, berpandangan bahwa nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk menguat jika konversi Devisa Hasil Ekspor (DHE) dimaksimalkan. Artinya, para eksportir diharapkan tidak menahan valas di tengah kondisi rupiah yang sedang melemah.

DHE SDA Wajib Mengendap Setahun di Bank Himbara, Menkeu Purbaya: Selama ini Hitungan Jam

Myrdal juga menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini bukan berasal dari aktivitas sektor riil maupun transaksi ekspor-impor. Pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh arus keluar modal asing jangka pendek (hot money outflow) di pasar keuangan, serta faktor-faktor musiman seperti transfer dividen dan kebutuhan valas untuk keperluan ibadah haji.

Ironisnya, surplus neraca perdagangan justru melebar di tengah pelemahan rupiah. Hal ini disebabkan oleh penguatan dolar AS yang membuat para importir menahan ekspansi, sehingga impor menurun dan selisih antara ekspor dan impor semakin besar.

Di sisi lain, Myrdal menilai bahwa peluang untuk meningkatkan devisa negara masih terbuka lebar, terutama dari sektor ekspor berbasis komoditas, manufaktur, hilirisasi, hingga sektor pariwisata.

Selain itu, Myrdal menekankan pentingnya langkah intervensi moneter yang agresif dari Bank Indonesia (BI), mengingat cadangan devisa Indonesia masih cukup memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia menambahkan bahwa rupiah berpotensi untuk kembali ke bawah level Rp 17.000 per dolar AS jika investor asing kembali tertarik untuk berinvestasi di pasar domestik. Hal ini dapat terjadi seiring dengan membaiknya kondisi global dan meningkatnya minat risiko (risk appetite) terhadap emerging market seperti Indonesia.

Menurutnya, penurunan harga minyak dunia dan meredanya tensi geopolitik juga dapat memicu arus modal masuk, yang pada gilirannya akan menopang penguatan nilai tukar rupiah.

“Kenapa penting BI memperkuat rupiah, karena itu akan mendorong confidence di pasar keuangan kita. Kalau ekonomi kita terbukti solid, investor juga pasti akan kembali ke sini, walaupun hanya short term, karena kondisi globalnya sekarang kan kurang kondusif,” jelas Myrdal.

Dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (18/5), Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah akan mulai menguat pada bulan Juli 2026, seiring dengan meredanya tren permintaan valas musiman yang biasanya meningkat pada periode April hingga Juni 2026.

Perry meyakini bahwa rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2026 akan berada dalam kisaran asumsi makro APBN, yaitu antara Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS, dengan titik tengah di sekitar Rp 16.500 per dolar AS.

Sementara itu, Perry mencatat bahwa rata-rata nilai tukar rupiah secara tahun berjalan (year to date/ytd) berada pada kisaran Rp 16.900 per dolar AS. Bank sentral optimistis bahwa penguatan rupiah pada bulan Juli dan Agustus akan menurunkan rata-rata tahunan kembali ke rentang target APBN.

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen pada Februari 2026, Ketidakpastian Global jadi Pertimbangan

Pada Rabu (20/5), BI akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk periode Mei 2026. Bank Sentral telah mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) pada level 4,75 persen sejak Oktober 2025, setelah melakukan pemangkasan sebesar 150 basis poin (bps) sejak September 2024 atau 125 bps sepanjang tahun 2025.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (19/5), melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp 17.706 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.668 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 17.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.666 per dolar AS.

Ringkasan

Rupiah masih tertekan dan intervensi BI dinilai kurang cukup untuk mengembalikan nilai tukar ke Rp 16.000 per dolar AS. Sinergi dari berbagai faktor seperti penguatan fiskal, aliran modal asing, peningkatan ekspor, dan kepercayaan pasar diperlukan. Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menambahkan bahwa memaksimalkan konversi Devisa Hasil Ekspor (DHE) juga penting, dimana eksportir diharapkan tidak menahan valas.

Pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh hot money outflow dan faktor musiman. Gubernur BI meyakini rupiah akan menguat mulai Juli 2026 dan rata-rata nilai tukar tahun 2026 berada di kisaran Rp 16.200-Rp 16.800 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah melemah menjadi Rp 17.706 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *