Ashmore AM: Strategi Cermat dan Oportunistis di Pasar Saham RI

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Di tengah pasar saham domestik yang kurang bergairah, para pelaku pasar memilih strategi yang lebih hati-hati. Mengintai peluang akumulasi menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi ini.

Arief Wana, Managing Director PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR), mengungkapkan bahwa perusahaannya menerapkan pendekatan yang cermat namun tetap oportunistik. Hal ini dilakukan untuk menyikapi kondisi pasar saham Indonesia yang penuh ketidakpastian global.

Menurut Arief, pasar saham dalam negeri masih menghadapi tekanan yang cukup besar. Faktor-faktor seperti lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik, arus modal asing yang keluar, dan potensi perlambatan pertumbuhan laba emiten menjadi perhatian utama.

: Ashmore (AMOR) Guyur Dividen Pemegang Saham Rp28,6 Miliar Selasa (24/2) di Tengah Aksi Buyback

“Kami mengadopsi dua filosofi utama saat ini: cautious dan opportunistic. Sulit untuk menyatakan diri sangat positif dan optimistis mengingat begitu banyaknya ketidakpastian yang kita hadapi,” kata Arief dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026, Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa harga minyak dunia telah melonjak sejak Februari, dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama karena perubahan lanskap geopolitik global.

: Ashmore Asset Management (AMOR) Bakal Buyback Saham Rp7 Miliar

Ashmore memperkirakan bahwa harga minyak akan sulit untuk kembali ke level US$50 hingga US$60 per barel dalam waktu dekat. Berdasarkan simulasi yang dilakukan perusahaan terhadap berbagai episode oil shock selama 45 tahun terakhir, normalisasi harga minyak biasanya memakan waktu sekitar enam hingga tujuh bulan.

Kenaikan harga minyak dipandang sebagai salah satu risiko terbesar bagi pasar saham Indonesia, karena berpotensi menekan pertumbuhan laba perusahaan.

: Ashmore Asset (AMOR) Putusakan Tebar Dividen Final Rp18,5 per Saham

Dalam simulasi yang dilakukan Ashmore, pertumbuhan laba emiten atau earnings per share (EPS) pada tahun 2026 berpotensi turun dari proyeksi 12,2% menjadi stagnan (flat) apabila harga minyak terus melonjak hingga mencapai US$100 per barel.

Meskipun demikian, Arief melihat masih ada peluang di beberapa sektor tertentu. Sektor energi dan basic materials dinilai akan mendapatkan manfaat dari kenaikan harga komoditas.

“Dalam situasi seperti ini, kami juga melihat adanya kesempatan untuk mendapatkan EPS yang lebih besar. Sektor energi atau sektor basic materials, dengan naiknya harga minyak, akan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat,” imbuhnya.

Selain harga minyak, Ashmore juga mewaspadai tekanan arus modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia. Arief menyebutkan bahwa keluarnya sejumlah saham dari indeks MSCI turut meningkatkan tekanan terhadap indeks domestik dalam beberapa waktu terakhir.

Meskipun pasar masih bergejolak, Arief berpendapat bahwa rebalancing MSCI justru dapat membuat pasar saham Indonesia menjadi lebih kredibel untuk investasi. Menurutnya, dari sisi valuasi, transparansi, dan tata kelola, pasar modal Indonesia kini dinilai lebih menarik dibandingkan sebelumnya.

Oleh karena itu, Ashmore memilih untuk menggabungkan strategi jangka pendek yang lebih teknikal dengan pendekatan investasi jangka panjang yang berbasis fundamental.

“Untuk investasi jangka panjang, mungkin akan sedikit tertinggal 10%-20%, tetapi kami melihat outlook fundamentalnya lebih jelas dibandingkan sekarang,” pungkas Arief.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Ashmore Asset Management Indonesia menerapkan strategi cermat dan oportunistik di tengah pasar saham yang kurang bergairah. Mereka mewaspadai tekanan seperti harga minyak yang tinggi, arus modal asing keluar, dan potensi perlambatan pertumbuhan laba emiten. Perusahaan mengadopsi pendekatan hati-hati mengingat ketidakpastian global yang tinggi.

Meskipun demikian, Ashmore melihat peluang di sektor energi dan basic materials yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Mereka menggabungkan strategi jangka pendek yang teknikal dengan investasi jangka panjang berbasis fundamental. Ashmore berpendapat bahwa rebalancing MSCI dapat meningkatkan kredibilitas pasar saham Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *