Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja keuangan emiten produsen batu bara menunjukkan tren yang beragam pada kuartal I-2026. Meskipun harga batu bara mengalami kenaikan, dampaknya tidak seragam bagi setiap perusahaan.
Beberapa emiten berhasil mencatatkan peningkatan kinerja baik dari sisi pendapatan (top line) maupun laba (bottom line) pada tiga bulan pertama tahun 2026.
Salah satu contohnya adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), yang membukukan kenaikan pendapatan konsolidasian sebesar 3,4% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$ 1,21 miliar pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk BUMI juga meningkat signifikan, yakni sebesar 34,6% YoY menjadi US$ 21,1 juta.
PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga tak kalah mentereng. Pendapatan usahanya naik 23,40% YoY menjadi US$ 470,91 juta pada kuartal I-2026. Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induknya melonjak 67,07% YoY menjadi US$ 128,14 juta.
Simak Proyeksi Rupiah untuk Hari Ini (5/5), Cek Sentimen yang Menyeretnya
Anak usaha ADRO, yaitu PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), yang fokus pada komoditas batu bara metalurgi, juga mencatatkan kinerja positif. Pendapatan usahanya naik 33,79% YoY menjadi US$ 267,49 juta pada kuartal I-2026, dan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk ADMR tumbuh 34,01% YoY menjadi US$ 87,71 juta.
PT Harum Energy Tbk (HRUM) pun tak ketinggalan. Emiten ini mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 14,67% YoY menjadi US$ 340,36 juta pada kuartal I-2026, yang diiringi dengan kenaikan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 60,50% YoY menjadi US$ 8,94 juta.
Namun, di sisi lain, ada beberapa emiten batu bara yang justru mengalami penurunan kinerja pada kuartal I-2026. Salah satunya adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), yang merupakan hasil spin-off usaha batu bara termal dari ADRO. AADI mengalami penurunan pendapatan usaha sebesar 10,34% YoY menjadi US$ 1,04 miliar pada kuartal I-2026.
Pada saat yang sama, laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk AADI juga turun 27,02% YoY menjadi US$ 143,04 juta.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) juga mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 7,70% YoY menjadi US$ 821,65 juta pada kuartal I-2026. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induknya terkoreksi 12,45% YoY menjadi US$ 190,79 juta.
Kondisi yang berbeda dialami oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Meskipun pendapatannya stagnan di level Rp 9,93 triliun pada akhir kuartal I-2026, emiten pelat merah ini berhasil mencetak pertumbuhan laba bersih yang fantastis, yakni 105% YoY menjadi Rp 801,79 miliar.
Cek Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini (5/5), IHSG Diproyeksi Melemah
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menjelaskan bahwa perbedaan kinerja emiten produsen batu bara pada kuartal I-2026 disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, seperti operasional, strategi pemasaran, dan basis kontrak penjualan.
Emiten seperti BUMI, ADRO, dan ADMR diuntungkan oleh peningkatan volume penjualan dan eksposur ke pasar ekspor dengan harga jual yang relatif lebih baik. Hal ini memungkinkan mereka untuk meningkatkan pendapatan sekaligus margin keuntungan.
Sebaliknya, PTBA, yang memiliki porsi penjualan besar ke pasar domestik melalui Domestic Market Obligation (DMO), menghadapi tekanan harga jual yang lebih besar. Akibatnya, pendapatannya cenderung stagnan, meskipun laba bersih masih bisa tumbuh berkat efisiensi biaya.
Sementara itu, AADI dan BYAN terdampak oleh penurunan volume penjualan maupun realisasi harga jual rata-rata (average selling price/ASP). Kenaikan harga batu bara global tidak berdampak merata karena struktur kontrak yang berbeda-beda pada setiap emiten.
“Selain itu, penundaan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) turut berpengaruh, terutama pada awal tahun. Hal ini membatasi produksi dan penjualan beberapa emiten, sehingga kinerja tidak bisa optimal di kuartal pertama,” ungkapnya, Senin (4/5/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menyampaikan bahwa prospek emiten sektor batu bara masih tergolong solid setelah kuartal pertama. Namun, kinerjanya cenderung berpotensi mengalami normalisasi.
Emiten yang kinerjanya sempat tertinggal tetap memiliki peluang untuk pulih jika produksi batu bara meningkat pada semester II-2026 dan harga komoditas ini stabil. Di sisi lain, emiten dengan kinerja yang sudah kuat pada awal 2026 kemungkinan besar akan melanjutkan tren positif, meskipun pertumbuhannya mungkin lebih moderat.
“Sentimen pendukung pertumbuhan kinerja berasal dari suplai global yang ketat, permintaan dari China dan India, serta harga energi yang masih tinggi,” tuturnya, Senin (4/5/2026).
Jebakan Dividen Mengintai Investor, Cek Rekomendasi Saham dan Prospeknya
Strategi kunci bagi emiten batu bara untuk memaksimalkan potensi kinerjanya pada tahun 2026 antara lain adalah memperkuat efisiensi biaya, optimalisasi stripping ratio, dan mempercepat diversifikasi bisnis.
“Kunci utama bagi emiten batu bara adalah efisiensi biaya, konsistensi volume, dan positioning di segmen batu bara yang punya kekuatan harga,” imbuhnya.
Wafi melanjutkan, emiten produsen batu bara yang berpeluang meraih kinerja unggul pada tahun 2026 adalah ADRO, yang didukung oleh diversifikasi bisnis dan arus kas yang kuat; BYAN, yang dikenal sebagai produsen berbiaya rendah; serta ADMR, yang memiliki keunggulan berkat eksposur ke segmen batu bara metalurgi.
Wafi merekomendasikan untuk membeli saham ADRO dan menahan (hold) saham BYAN. Dia juga menyarankan investor untuk melakukan pembelian saat harga saham PTBA melemah (buy on weakness).
Sementara itu, menurut Arinda, emiten produsen batu bara yang berpeluang mencatatkan kinerja terbaik pada tahun 2026 umumnya adalah emiten yang memiliki kombinasi biaya produksi rendah, fleksibilitas pasar ekspor, dan kualitas batu bara yang kompetitif.
Dalam konteks ini, Arinda menyebut ADRO, ADMR, dan BYAN berpeluang unggul kinerjanya sepanjang tahun 2026.
ADRO ditopang oleh diversifikasi bisnis dan efisiensi yang kuat, sedangkan ADMR menawarkan batu bara metalurgi dengan harga premium. Di sisi lain, meskipun fluktuatif, BYAN berpotensi mendapatkan margin keuntungan yang tinggi saat harga membaik.
BYAN Chart by TradingView
Modal utama bagi emiten batu bara untuk mencetak kinerja optimal adalah optimalisasi margin melalui efisiensi, pengelolaan volume produksi sesuai dengan kondisi pasar, serta penempatan posisi pasar yang tepat guna mempertahankan ASP.
“Di samping itu, manajemen capital allocation juga krusial, terutama dalam menjaga keseimbangan antara dividen dan ekspansi,” tandasnya.
Arinda pun menyebut saham ADMR dan ADRO layak dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 2.350 per saham dan Rp 2.900 per saham.
Ringkasan
Kinerja emiten batu bara di kuartal I-2026 bervariasi. Beberapa perusahaan seperti Bumi Resources (BUMI), Adaro Energy Indonesia (ADRO), Adaro Minerals Indonesia (ADMR), dan Harum Energy (HRUM) mencatatkan peningkatan pendapatan dan laba bersih. Namun, beberapa emiten lain seperti Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Bayan Resources (BYAN) justru mengalami penurunan kinerja.
Perbedaan kinerja ini dipengaruhi oleh faktor operasional, strategi pemasaran, dan struktur kontrak penjualan. Analis merekomendasikan ADRO, BYAN, dan ADMR sebagai emiten yang berpotensi meraih kinerja unggul di tahun 2026, dengan strategi utama berupa efisiensi biaya, optimalisasi volume produksi, dan diversifikasi bisnis.