Shoesmart.co.id, JAKARTA. Rupiah menunjukkan sedikit penguatan di pasar spot, naik tipis 0,07% ke level Rp 17.412 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/5) pagi. Meski demikian, mata uang Garuda ini masih rentan terhadap koreksi seiring dengan sentimen negatif yang masih membayangi pasar.
Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, menjelaskan bahwa rebound rupiah ini didorong oleh melemahnya tekanan terhadap dolar AS. Hal ini dipicu oleh meningkatnya harapan akan kesepakatan damai antara AS dan Iran, setelah Donald Trump mengisyaratkan adanya kemajuan signifikan menuju kesepakatan akhir dengan Teheran.
Selain itu, data pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat dari perkiraan juga memberikan dukungan tambahan bagi pergerakan rupiah. “Namun, saat ini faktor eksternal, terutama harga minyak dunia, memiliki pengaruh yang lebih dominan,” ujarnya pada Rabu (6/5/2026).
IHSG Melonjak 0,66% ke 7.103,9 Hari Ini (6/5), Top Gainers LQ45: DEWA, UNVR, HRTA
Namun, penting untuk dicatat bahwa rupiah masih berpotensi mengalami tekanan. Gejolak geopolitik di Timur Tengah terus berlangsung dan berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia. Selama harga minyak tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan terus berlanjut.
Di sisi internal, langkah-langkah yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi langsung maupun kebijakan lainnya, diyakini dapat membantu menjaga volatilitas rupiah. Kendati demikian, perlu ditegaskan bahwa upaya ini lebih ditujukan untuk menahan pelemahan rupiah, bukan untuk memicu penguatan yang signifikan.
Lukman memprediksi bahwa kurs rupiah berisiko melemah hingga mencapai level Rp 18.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026, terutama jika situasi di Timur Tengah tidak menunjukkan perbaikan.
“Apakah bisa lebih cepat mencapai Rp 18.000? Tentu saja mungkin, namun BI akan terus berupaya untuk mencegah pelemahan yang terlalu cepat dan besar,” imbuhnya.
Merdeka Copper Gold (MDKA) Akan Gelar Private Placement Sebanyak 2,45 Miliar Saham
Sebaliknya, jika perdamaian di Timur Tengah berhasil tercapai dan harga minyak menyusut hingga kisaran US$ 70 per barel, ada kemungkinan besar rupiah akan berangsur-angsur menguat kembali ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
Lebih lanjut, Lukman menilai bahwa intervensi yang dilakukan BI untuk menstabilkan rupiah sudah cukup efektif. Namun, untuk memperkuat rupiah di masa depan, BI dapat mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan di kisaran 15-25 bps dalam jangka pendek.
Terakhir, Lukman mengimbau agar investor tidak perlu terlalu khawatir dengan koreksi rupiah yang terjadi belakangan ini, karena masih berada dalam rentang yang wajar. Penguatan dolar AS pun tidak terlalu signifikan dan berkelanjutan.
“Jadi, dolar AS justru terlihat rentan terhadap koreksi besar jika perdamaian tercapai. Sebaliknya, dolar tidak memiliki banyak ruang untuk penguatan, bahkan jika perang terus berlanjut,” pungkasnya.
Ringkasan
Rupiah mengalami penguatan tipis sebesar 0,07% menjadi Rp 17.412 per dolar AS, didorong oleh melemahnya dolar AS akibat harapan kesepakatan damai AS-Iran dan data ekonomi nasional yang positif. Namun, rupiah masih rentan terhadap koreksi karena dipengaruhi faktor eksternal, terutama fluktuasi harga minyak dunia akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Bank Indonesia (BI) berupaya menstabilkan rupiah melalui intervensi, namun langkah ini lebih difokuskan untuk menahan pelemahan. Analis memprediksi rupiah berisiko melemah hingga Rp 18.000 per dolar AS pada akhir tahun 2026 jika situasi di Timur Tengah tidak membaik, tetapi juga berpotensi menguat ke Rp 16.500 jika perdamaian tercapai dan harga minyak turun. Investor diimbau untuk tidak terlalu khawatir terhadap koreksi rupiah saat ini karena masih dalam rentang yang wajar.