Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, menyampaikan kritik pedas kepada Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sorotan tajam ini muncul seiring dengan terus merosotnya nilai rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.700 per dolar AS.
Dalam rapat bersama jajaran BI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5), Primus secara terbuka meminta Perry Warjiyo untuk mempertimbangkan pengunduran diri. “Pak Perry yang saya hormati, terkadang, mengambil tindakan gentleman itu bukanlah sebuah penghinaan. Mungkin sudah saatnya Bapak mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Tentu saja, keputusan sepenuhnya ada di tangan Bapak,” ujar politisi dari PAN yang juga dikenal melalui perannya sebagai ‘Panji Manusia Milenium’ ini.
Primus berpendapat bahwa mengundurkan diri bukanlah tindakan yang memalukan bagi seorang pejabat publik. Ia mencontohkan budaya di negara-negara seperti Korea dan Jepang, di mana pejabat yang gagal menjalankan tugas dengan baik akan lebih dihormati jika memilih untuk mengundurkan diri. “Anda akan lebih dihormati, seperti yang terjadi di Korea dan Jepang, jika Anda merasa tidak mampu menjalankan tugas dengan baik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Primus menyoroti anomali dalam kondisi ekonomi nasional. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang cukup tinggi secara tahunan, nilai tukar rupiah justru mengalami tekanan yang signifikan terhadap dolar AS. “Bahkan, saat ini nilai rupiah berada pada level terendahnya terhadap dolar AS,” ungkapnya.
Tak hanya terhadap dolar AS, Primus juga menyoroti pelemahan rupiah terhadap berbagai mata uang asing lainnya. Kondisi ini, menurutnya, menimbulkan keraguan di kalangan investor global mengenai kemampuan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar. “Inilah yang menurut saya perlu dipertanyakan secara mendalam. Pada pertemuan terakhir, saat nilai rupiah berada di Rp 16.800 per dolar AS, saya sudah mempertanyakan mengapa rupiah kita begitu lemah. Ironisnya, pelemahan ini terjadi terhadap hampir semua mata uang,” jelasnya.
Menghadapi gejolak ini, Primus menekankan bahwa BI tidak boleh berdiam diri. Ia menilai bahwa upaya menjaga stabilitas rupiah saat ini sudah mulai kehilangan kepercayaan dari para pelaku pasar. “Bank Indonesia seolah mengesampingkan kredibilitasnya. Sebagai pimpinan Bank Indonesia, Bapak Perry Warjiyo, sebagai tokoh utama, harus berani bersikap gentleman, berani melawan, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” pungkasnya.
Ringkasan
Anggota Komisi XI DPR RI, Primus Yustisio, mengkritik Gubernur BI, Perry Warjiyo, atas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp 17.700. Dalam rapat di DPR, Primus meminta Perry Warjiyo untuk mempertimbangkan pengunduran diri sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi tersebut.
Primus menyoroti anomali antara pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dengan nilai rupiah yang terus melemah, tidak hanya terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap mata uang asing lainnya. Ia menekankan bahwa BI perlu bertindak dan menilai bahwa upaya menjaga stabilitas rupiah saat ini mulai kehilangan kepercayaan dari para pelaku pasar.