Shoesmart.co.id JAKARTA. Pelemahan harga minyak mentah global akhir-akhir ini berpotensi menjadi ancaman serius bagi kinerja emiten produsen minyak dan gas (migas) di Tanah Air. Kendati demikian, tingginya permintaan energi domestik dapat menjadi katalis positif yang menopang kelangsungan usaha sektor ini.
Berdasarkan data terkini dari Trading Economics, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di level US$ 62,74 per barel pada Rabu (13/8) pukul 18.40 WIB, menunjukkan penurunan 0,67% dari hari sebelumnya. Dalam rentang waktu sebulan terakhir, harga minyak WTI telah merosot signifikan sebesar 6,29%. Senada dengan WTI, harga minyak mentah jenis Brent juga mengalami koreksi 0,52% menjadi US$ 65,77 per barel pada Rabu (13/8/2025), dengan penurunan kumulatif sebesar 4,96% dalam sebulan terakhir.
Secara makro, Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, mengemukakan bahwa penurunan harga minyak ini dipicu oleh lonjakan pasokan yang tidak diimbangi oleh permintaan global yang melambat. Produksi minyak Amerika Serikat (AS) dilaporkan kembali mencetak rekor pada tahun 2025, sementara kebijakan OPEC+ yang secara bertahap menambah produksi seiring berakhirnya pemangkasan sukarela turut memperburuk kondisi. “Sebagai dampaknya, risiko kelebihan pasokan semakin meningkat,” jelas Ekky pada Rabu (13/8/2025).
Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo, Praska Putrantyo, menambahkan bahwa kebijakan tarif AS masih menjadi sumber kekhawatiran karena berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, yang pada gilirannya dapat menekan permintaan minyak. Dalam situasi harga minyak yang rendah, emiten migas seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) diprediksi akan merasakan dampaknya, di mana profitabilitas mereka terancam tertekan.
Sebagai langkah antisipasi strategis, emiten produsen migas disarankan untuk memanfaatkan fasilitas hedging atau lindung nilai secara maksimal, atau melakukan penyesuaian ulang pada capital expenditure (capex) demi menjaga arus kas tetap stabil. “Emiten juga bisa mempertimbangkan diversifikasi sumber pendapatan ke industri gas bumi atau energi terbarukan,” ujar Praska pada Rabu (13/8).
Sementara itu, Ekky memproyeksikan bahwa harga minyak cenderung bergerak netral di kisaran US$ 60 hingga US$ 64 per barel untuk sisa tahun 2025, dengan asumsi pasokan produk tersebut terus meningkat. Namun, prediksi ini dapat berubah drastis mengingat harga minyak mentah sangat sensitif terhadap isu geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan global. Sebagai ilustrasi, pada Juni lalu, harga minyak mentah sempat melonjak di atas level US$ 70 per barel akibat sentimen konflik bersenjata antara Iran dan Israel.
Di luar fluktuasi harga komoditas, beberapa sentimen lain juga diperkirakan akan mempengaruhi kinerja emiten migas pada semester II-2025. Dari sisi positif, kebijakan pemerintah sejauh ini dinilai cukup mendukung industri hulu migas, seperti pelaksanaan lelang wilayah kerja (WK) baru, penguatan implementasi teknologi pengeboran minyak, hingga beberapa proyek migas yang akan on-stream pada 2025, termasuk yang dimiliki oleh MEDC dan ENRG. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong produksi migas sekaligus meningkatkan kepercayaan investor. Selain itu, agenda ketahanan energi nasional yang menargetkan peningkatan lifting minyak menjadi 1 juta BOPD pada 2029/2030, serta pembangunan kilang minyak dan proyek LNG domestik, berpotensi menjadi katalis positif jika eksekusinya berjalan optimal.
Sebaliknya, kinerja emiten migas bisa meredup jika terjadi kenaikan biaya operasional di tengah tekanan margin laba. “Kondisi pertumbuhan ekonomi yang melemah juga akan menyebabkan penurunan permintaan minyak,” tambah Praska, menyoroti tantangan ekonomi makro.
Dari deretan emiten migas, Praska merekomendasikan saham MEDC untuk dipantau oleh investor dengan target harga Rp 1.400 per saham. Senada, Ekky juga menilai saham MEDC menarik untuk dikoleksi investor, dengan target harga di kisaran Rp 1.500 hingga Rp 1.700 per saham. MEDC diyakini berpeluang menjadi unggulan di sektor migas berkat dukungan peningkatan produksi dari lapangan migas baru, efisiensi operasional, serta potensi stabilitas harga minyak yang menopang.
Per semester I-2025, pendapatan MEDC terkoreksi 2,56% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 1,14 miliar. Laba bersih MEDC juga ikut terkontraksi tajam sebesar 81,52% yoy, menjadi US$ 37,37 juta.
Ringkasan
Harga minyak mentah global mengalami penurunan yang berpotensi menekan profitabilitas emiten migas di Indonesia seperti MEDC dan ENRG. Penurunan ini disebabkan oleh lonjakan pasokan minyak dari AS dan kebijakan OPEC+ yang meningkatkan produksi, sementara permintaan global melambat. Emiten disarankan untuk memanfaatkan fasilitas hedging atau menyesuaikan capital expenditure untuk menjaga stabilitas arus kas, serta mempertimbangkan diversifikasi ke industri gas bumi atau energi terbarukan.
Meskipun demikian, permintaan energi domestik yang tinggi, kebijakan pemerintah yang mendukung industri hulu migas, serta proyek migas yang akan on-stream dapat menjadi katalis positif. Analis merekomendasikan saham MEDC untuk dipantau karena potensi peningkatan produksi, efisiensi operasional, dan potensi stabilitas harga minyak, meskipun pendapatan dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan pada semester I-2025.