Kupon Obligasi Korporasi Naik: Biaya Dana Makin Mahal?

Shoesmart.co.id JAKARTA. Biaya dana (cost of fund) bagi korporasi yang berencana menerbitkan surat utang menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Meskipun demikian, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat bahwa rata-rata kupon surat utang korporasi dengan tenor 3 tahun justru mengalami penurunan signifikan pada kuartal I-2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara rinci, untuk emiten dengan peringkat AAA, rata-rata kupon tenor 3 tahun pada kuartal I-2026 berada di kisaran 5,5%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan kupon pada kuartal I-2025 yang mencapai sekitar 6,8%.

Tren serupa juga terlihat pada surat utang dengan peringkat AA. Pada kuartal I-2026, kupon berada di kisaran 5,5%, sementara pada periode yang sama tahun 2025, rata-rata kupon untuk peringkat ini masih berada di atas level 7,0%.

Namun, secara umum, kupon obligasi korporasi mulai menunjukkan peningkatan dalam tiga bulan terakhir, meskipun masih di bawah level tahun sebelumnya.

Chief Economist Pefindo, Suhindarto, menjelaskan bahwa kenaikan ini dipicu oleh naiknya yield benchmark yang mulai memengaruhi pasar obligasi domestik.

“Kupon memang mulai terdorong naik oleh kondisi kenaikan yield benchmark. Mulai relatif mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan lalu,” jelas Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (15/4/2026).

Pefindo Proyeksi Emisi Obligasi Korporasi 2026 Tembus Rp 196,86 Triliun

Data dari Pefindo menunjukkan bahwa yield pada kuartal I-2026 masih relatif rendah, tetapi mulai merangkak naik dalam beberapa waktu terakhir. Contohnya, yield obligasi AAA naik tipis ke level 5,78% pada kuartal I-2026 dari sebelumnya 5,75% pada kuartal IV-2025. Kondisi serupa terjadi pada kategori AA, di mana yield terpantau naik tipis ke level 6,10% dari sebelumnya 6,00%.

Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menambahkan bahwa selain kenaikan yield obligasi pemerintah, kenaikan kupon obligasi korporasi juga dipicu oleh ketidakpastian perang di Timur Tengah, kenaikan yield US Treasury, lonjakan harga energi, pelemahan rupiah, serta meningkatnya ketidakpastian pasar.

“Kupon kuartal I-2026 memang lebih rendah karena suku bunga turun ke 4,5%. Tetapi meskipun biaya pendanaan saat ini masih relatif lebih baik dibandingkan tahun lalu, ruang penurunannya mulai semakin terbatas,” jelas Putri saat dihubungi Kontan, Rabu (15/4/2026).

Dengan demikian, Putri menilai bahwa meskipun cost of fund obligasi korporasi saat ini masih relatif lebih rendah dibandingkan tahun lalu, keputusan penerbitan obligasi tidak hanya ditentukan oleh faktor tersebut. Korporasi juga akan mempertimbangkan ketersediaan alternatif pendanaan lain seperti pinjaman bank, kondisi likuiditas internal, kebutuhan tenor, serta fleksibilitas struktur pendanaan.

Senada dengan hal tersebut, Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia (BNI), Fudji Rahardjo, berpandangan bahwa issuer diperkirakan akan cenderung mengambil sikap wait-and-see di tengah kondisi saat ini.

Pefindo Catat Penerbitan Obligasi Korporasi Rp 59,4 Triliun Kuartal I-2026

Korporasi cenderung lebih mengutamakan untuk memonitor perkembangan pasar obligasi terlebih dahulu untuk menghindari cost of fund yang kurang optimal atau tidak sesuai target.

“Terjadi mismatch sementara antara ekspektasi yield emiten dan investor. Aktivitas penerbitan diperkirakan tidak akan merata sepanjang tahun, dan akan lebih terkonsentrasi pada periode-periode ketika pasar lebih stabil,” tandas Fudji.

Sebagai informasi tambahan, Pefindo mencatat nilai penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 59,4 triliun pada kuartal I-2026, atau tumbuh 26,97% dibandingkan realisasi kuartal I-2025 yang sebesar Rp 46,8 triliun.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan nilai jatuh tempo pada periode yang sama sebesar Rp 26,88 triliun.

Berbeda dengan tahun sebelumnya yang mayoritas digunakan untuk kebutuhan refinancing, dana hasil penerbitan surat utang di tiga bulan pertama tahun ini paling banyak dialokasikan untuk modal kerja. Nilainya melonjak menjadi Rp 30,91 triliun, naik hampir 60% dibandingkan periode Januari-Maret 2025 yang sebesar Rp 19,40 triliun.

Naik 26,9%, Penerbitan Obligasi Korporasi Kuartal I-2026 Capai Rp 59,35 Triliun

Kenaikan signifikan juga terlihat pada alokasi untuk investasi. Jika pada kuartal I-2025 alokasi investasi hanya sebesar Rp 2,28 triliun, pada awal tahun ini angkanya melonjak drastis menjadi Rp 15,60 triliun.

Sementara itu, alokasi untuk tujuan refinancing justru melandai, menjadi hanya Rp 12,85 triliun dari kuartal I tahun sebelumnya yang sebesar Rp 25,05 triliun.

Lebih lanjut, Putri mengamati mulai terjadi pelebaran spread di pasar obligasi korporasi, terutama pada emiten dengan peringkat kredit lebih rendah. Kenaikan yield pada segmen ini tercatat lebih tinggi dibandingkan obligasi pemerintah.

Oleh karena itu, Putri memperkirakan volume penerbitan obligasi korporasi berpotensi menurun di tahun ini. Hal ini sejalan dengan prospek penurunan suku bunga yang dinilai lebih terbatas dibandingkan tahun lalu.

Sejalan dengan hal ini, Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, mencermati bahwa preferensi investor terhadap tenor obligasi pun turut berubah. Selain itu, kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian turut mendorong investor bersikap lebih konservatif atau risk-off, dan cenderung memilih tenor pendek.

“Kalau sebelumnya saat suku bunga turun investor cenderung memilih tenor yang lebih panjang, sekarang dengan kondisi suku bunga cenderung naik, investor juga lebih berhitung,” ujar Fikri.

Meskipun demikian, Pefindo tetap optimistis bahwa penerbitan baru surat utang korporasi tahun ini akan tetap semarak, dengan nilai berada di rentang Rp 154,00 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah sekitar Rp 175,77 triliun.

Hal ini juga sejalan dengan nilai surat utang yang akan jatuh tempo pada periode Mei-Desember 2026 yang masih cukup besar, yakni mencapai Rp 124,12 triliun.

Ada Kebutuhan Refinancing, Begini Prospek Obligasi Korporasi pada Semester I–2026

Ringkasan

Biaya dana (cost of fund) bagi korporasi yang menerbitkan obligasi menunjukkan tren kenaikan. Meskipun kupon obligasi korporasi sempat menurun pada kuartal I-2026 dibandingkan tahun sebelumnya, secara umum kupon mulai meningkat dalam tiga bulan terakhir karena dipicu oleh naiknya yield benchmark.

Selain kenaikan yield obligasi pemerintah, ketidakpastian global seperti perang di Timur Tengah dan kenaikan harga energi turut mempengaruhi kenaikan kupon. Pefindo memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi 2026 akan mencapai Rp 154,00 triliun hingga Rp 196,86 triliun, meskipun volume penerbitan berpotensi menurun dan investor cenderung memilih tenor pendek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *