Jakarta, IDN Times – Optimisme terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menguat. Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, memproyeksikan ekonomi Tanah Air pada Kuartal I-2026 akan mencapai 5,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka proyeksi ini didasarkan pada peningkatan signifikan dalam aktivitas konsumsi masyarakat serta kinerja cemerlang penerimaan pajak, terutama dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
“Proyeksi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjukkan pertumbuhan ekonomi di kuartal I diperkirakan 5,5 persen, dengan melihat kinerja PPN dan PPnBM yang meningkat cukup signifikan, serta ekspektasi konsumen yang positif,” ungkap Juda Agung saat berbicara di Gedung Bank Indonesia pada Senin (27/4/2026).
Pernyataan Juda Agung tersebut bukan tanpa dasar, mengingat kinerja penerimaan pajak yang solid. Sepanjang periode Maret, penerimaan pajak berhasil membukukan angka impresif sebesar Rp394,8 triliun. Capaian ini menandai pertumbuhan sebesar 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencapai Rp327 triliun.
Juda menjelaskan, kontribusi terbesar dari kinerja ini berasal dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), yang totalnya mencapai Rp155,6 triliun. Angka ini mencerminkan lonjakan pertumbuhan sebesar 57,7 persen secara tahunan. “Kinerja penerimaan pajak ini didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat serta aktivitas ekonomi yang lebih kuat di berbagai sektor,” tambahnya, menegaskan korelasi langsung antara aktivitas ekonomi dengan pemasukan negara.
Secara lebih rinci, performa kategori penerimaan pajak lainnya juga menunjukkan tren yang positif. Pajak Penghasilan (PPh) Badan tercatat sebesar Rp43,3 triliun, dengan pertumbuhan 5,4 persen. Sementara itu, gabungan PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 mencapai Rp61,3 triliun, naik 15,5 persen yoy. Kategori PPh lainnya turut menyumbang Rp76,7 triliun, tumbuh 5,1 persen. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa kategori penerimaan lainnya mengalami kontraksi sebesar 5,7 persen, dengan realisasi Rp57,9 triliun, yang menunjukkan adanya dinamika di beberapa sektor.
Selain dari sisi pendapatan, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menunjukkan akselerasi yang signifikan. Belanja negara pada Kuartal I-2026 tercatat tumbuh 31,4 persen secara tahunan, dan telah mencapai 21,2 persen dari total pagu APBN yang sebesar Rp3.842,7 triliun. Angka penyerapan ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sebesar 17,1 persen dengan pertumbuhan 1,4 persen.
Juda menegaskan bahwa lonjakan belanja negara di awal tahun ini merupakan bagian dari strategi pemerintah yang terencana untuk mengubah pola pengeluaran. Jika sebelumnya belanja cenderung menumpuk di Kuartal IV, kini pemerintah berupaya untuk meratakannya sepanjang tahun. Targetnya, penyerapan belanja mencapai sekitar 21 persen pada kuartal I, dan kemudian meningkat menjadi 26 persen pada setiap kuartal berikutnya (Q2, Q3, dan Q4). “Jadi, tujuan dari perubahan pola konsumsi pemerintah ini adalah agar pertumbuhan ekonomi itu merata, cepat, dan terjadi di tahun yang sama,” pungkasnya, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendorong pemerataan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang strategis.