Amerika Serikat dan Iran belum mencapai titik temu dalam perundingan yang digelar di Pakistan, Sabtu (11/4). Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menekankan bahwa wajar jika kesepakatan belum bisa diraih hanya dalam satu hari perundingan.
Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Baqaei menyinggung adanya ketidakpercayaan mendalam terhadap Amerika Serikat, yang merupakan imbas dari konflik yang terjadi baru-baru ini.
Baqaei menggambarkan suasana pembicaraan diwarnai kecurigaan, mengingat latar belakang perang selama 40 hari yang baru saja berlalu. “Wajar jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam satu pertemuan. Lagipula, tidak ada yang mengharapkan hasil demikian,” ujarnya, seperti dikutip dari Antara, Minggu (12/4).
Lebih lanjut, Baqaei menyoroti kompleksitas agenda perundingan. Isu-isu sensitif seperti Selat Hormuz dan dinamika kawasan yang lebih luas menambah lapisan kesulitan dalam diskusi.
Baca juga: Perundingan AS dan Iran di Islamabad Masih Buntu, Belum Ada Kesepakatan
Senada dengan pernyataan tersebut, seorang pejabat Pakistan yang mengetahui detail negosiasi, namun enggan disebutkan namanya, mengamini bahwa perundingan diwarnai ketegangan.
“Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak dan ketegangan naik turun selama pertemuan,” ungkap sumber dari Pakistan tersebut, seperti dilaporkan Reuters pada Minggu (12/4).
Wakil Presiden Amerika Serikat, JC Vance, turut mengonfirmasi kebuntuan dalam perundingan tersebut. Meskipun delegasi Iran dan AS telah bernegosiasi selama 14 jam dengan tujuan mengakhiri konflik, Vance mengungkapkan bahwa Iran menolak persyaratan yang diajukan oleh AS.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan,” tegas JD Vance dalam konferensi pers di Islamabad, Minggu (12/4), sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Vance menambahkan bahwa selama pembicaraan, ia belum melihat komitmen jangka panjang dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Menurutnya, komitmen ini merupakan salah satu tujuan utama yang ingin dicapai Presiden AS Donald Trump melalui perundingan ini.
“Bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang,” tandasnya.
Pembicaraan ini sendiri merupakan diskusi tingkat tertinggi antara kedua negara sejak Revolusi Iran tahun 1979. Sementara pihak Iran menyatakan bahwa pembicaraan telah selesai dan para pakar teknis dari kedua negara akan saling bertukar dokumen, Teheran menegaskan bahwa negosiasi belum usai dan akan terus berlanjut.
Ringkasan
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan menemui jalan buntu karena ketidakpercayaan yang mendalam, imbas dari konflik yang terjadi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa kompleksitas agenda perundingan, termasuk isu Selat Hormuz, menambah kesulitan dalam diskusi.
Wakil Presiden AS, JC Vance, mengonfirmasi kebuntuan tersebut, menyatakan Iran menolak persyaratan yang diajukan AS dan belum menunjukkan komitmen jangka panjang untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Meski perundingan telah selesai, Iran menegaskan bahwa negosiasi akan terus berlanjut.