Pasar saham RI kian terjepit sentimen MSCI hingga DSI

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menunjukkan tren pelemahan bulanan yang konsisten sejak Januari hingga Mei tahun ini. Namun, di tengah kondisi pasar yang menantang ini, kinerja pertumbuhan fundamental yang solid dari beberapa emiten saham big caps berhasil menarik perhatian investor.

Menganalisis pergerakan sepuluh emiten dengan kapitalisasi pasar saham terbesar, terungkap bahwa lima di antaranya, yakni BBCA, BBRI, BREN, MORA, dan AMMN, mencatat pertumbuhan pendapatan, EBITDA, dan laba bersih secara bersamaan. Fenomena menariknya, hanya saham MORA yang berhasil membukukan penguatan harga dalam sebulan terakhir, sebuah anomali di tengah tekanan pasar yang melanda.

Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menjelaskan bahwa dalam kondisi saat ini, faktor fundamental saham untuk sementara waktu kurang berperan signifikan sebagai pendorong harga saham. Menurutnya, pasar saham saat ini berada di bawah kendali tiga tekanan non-fundamental yang kuat.

: IHSG Sesi I Ambles 4,95%, Terparkir di Level 5.889,49

Pasar sedang dikendalikan tiga tekanan non-fundamental sekaligus, yakni arus keluar dana pasif (passive outflow) akibat penyesuaian indeks MSCI dan FTSE, pandangan peringkat utang negara (sovereign outlook) yang negatif dari lembaga seperti Moody’s dan Fitch Rating, serta yang ketiga adalah ketidakpastian kebijakan, termasuk isu terkait PT DSI dan kenaikan suku bunga acuan BI rate hingga 5,25%. Kombinasi faktor-faktor ini secara signifikan meningkatkan premi risiko di pasar saham. Peran fundamental akan kembali dominan setelah tekanan mekanis dan kebijakan yang ada mereda,” kata Wafi kepada Bisnis, Selasa (3/6/2026).

Dalam situasi seperti itu, Wafi menyarankan agar investor dengan orientasi fundamental mengadopsi strategi investasi akumulasi bertahap. Ia juga menekankan pentingnya membedakan antara saham yang mengalami penurunan karena memburuknya fundamental internal dengan saham yang tertekan akibat faktor eksternal non-fundamental.

: : Pasar Tertekan, BRI Danareksa Pangkas Target IHSG 2026 Jadi 7.200

Lebih lanjut, investor disarankan untuk berfokus pada emiten dengan free float di atas 15%, memiliki arus kas positif, rasio utang terhadap ekuitas (DER) rendah, visibilitas laba yang tinggi, serta imbal hasil dividen (dividend yield) yang dapat berfungsi sebagai penyangga pendapatan selagi menunggu pemulihan pasar. Sebaliknya, hindari saham yang memiliki isu konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), eksposur signifikan terhadap kebijakan ekspor PT DSI, atau tingkat leverage yang tinggi tanpa didukung arus kas yang kuat.

Terkait rekomendasi saham, dari sejumlah saham big caps, KISI Sekuritas merekomendasikan BBCA, AMMN, ASII, MORA, BREN, dan BBRI. Wafi menyarankan investor untuk bersikap wait and see hingga tekanan efektif dari rebalancing FTSE pada 22 Juni 2026 mereda, serta menunggu konfirmasi arah kebijakan suku bunga BI rate berikutnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *