Harga minyak global melonjak tajam, mencapai sekitar 5% pada perdagangan Senin (20/4), dipicu oleh kekhawatiran serius akan runtuhnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi ini memanas setelah AS mengumumkan penyitaan sebuah kapal kargo Iran, yang secara drastis memperlambat lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan energi dunia.
Lonjakan harga ini terlihat jelas pada pasar berjangka. Minyak mentah Brent naik 4,8% menjadi US$ 94,75 per barel pada pukul 11.48 GMT. Tak ketinggalan, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat signifikan, naik 5,7% hingga mencapai US$ 88,61 per barel. Kenaikan drastis ini kontras dengan kondisi pasar sebelumnya, di mana pada Jumat (17/4), harga minyak mentah Brent dan WTI sempat anjlok sekitar 9%, mencatat penurunan harian terbesar sejak 18 April. Penurunan kala itu terjadi setelah Iran menyatakan bahwa jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz telah dibuka sepenuhnya selama masa gencatan senjata.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyatakan bahwa Iran telah sepakat untuk tidak lagi menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia. Namun, harapan akan stabilitas segera sirna. “Dalam waktu 24 jam setelah pengumuman ‘pembukaan sepenuhnya’ pada Jumat (17/4), sudah ada kapal tanker yang ditembaki oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC),” ungkap June Goh, Analis Sparta Commodities, pada Senin malam (20/4), menggarisbawahi rapuhnya kesepakatan tersebut.
Goh juga menambahkan bahwa fundamental pasar minyak kian memburuk. Menurutnya, sekitar 10 juta hingga 11 juta barel minyak mentah per hari masih terhenti produksinya, menunjukkan kerugian besar dalam pasokan global yang memicu ketidakpastian.
AS Sita Kapal Kargo Iran
Aksi provokatif yang memperparah ketegangan dimulai pada Minggu (20/4), ketika Amerika Serikat mengumumkan telah menyita kapal kargo Iran, menuduhnya melanggar blokade yang ditetapkan. Teheran segera merespons dengan ancaman pembalasan, memicu kekhawatiran akan dimulainya kembali permusuhan dan konflik di kawasan tersebut. Selain itu, Teheran juga menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam putaran negosiasi kedua yang diharapkan AS akan dimulai sebelum gencatan senjata dua minggu berakhir pada pekan ini, semakin menutup peluang diplomasi.
Melihat situasi ini, Analis SEB Research, Bjarne Schieldrop, menyoroti perbedaan antara pasar keuangan dan fisik. “Pasar keuangan sedang memperdagangkan negosiasi, perbaikan, dan penyelesaian, sementara pada saat yang sama pasar fisik semakin memburuk dari hari ke hari,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa arus minyak fisik tetap terbatas akibat gangguan distribusi, waktu pelayaran yang lebih lama, serta biaya pengiriman dan asuransi yang melambung tinggi, menciptakan ketidakseimbangan yang signifikan.
Data pengiriman menunjukkan bahwa lalu lintas melalui Selat Hormuz praktis terhenti total pada Senin (20/4), dengan hanya tercatat tiga penyeberangan dalam 12 jam terakhir. Kondisi ini sangat kontras dengan situasi pada Sabtu sebelumnya, di mana lebih dari 20 kapal melintasi selat tersebut, mengangkut minyak, gas petroleum cair, logam, dan pupuk. Angka tersebut bahkan merupakan jumlah kapal tertinggi yang melintasi jalur air krusial itu sejak 1 Maret.
Di sisi lain, perkembangan lain turut mewarnai lanskap pasar energi. Cina dilaporkan mengurangi ekspor bahan bakar olahan, alih-alih melarangnya sepenuhnya. Negara-negara seperti Malaysia dan Australia masih terus menerima pasokan, meskipun Beijing telah memperpanjang pembatasan ekspor bahan bakar olahan yang dimulai bulan lalu hingga April. Hal ini menunjukkan dinamika kompleks dalam distribusi energi global yang terus berlanjut di tengah ketegangan geopolitik.