Astra Graphia (ASGR) tebar dividen di atas laba, seberapa menarik sahamnya?

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Astra Graphia Tbk (ASGR) telah membuat keputusan signifikan untuk membagikan dividen final yang mencapai Rp 284,59 miliar atau setara Rp 211 per saham. Dengan demikian, total dividen tunai untuk tahun buku 2025 yang akan diterima pemegang saham mencapai Rp 241 per saham, setelah memperhitungkan dividen interim sebelumnya.

Jumlah dividen yang dibagikan ini menarik perhatian karena mencerminkan rasio pembayaran (payout ratio) yang melampaui total laba bersih perseroan di tahun 2025, yakni sebesar Rp 270,61 miliar. Kebijakan dividen ASGR yang tergolong agresif ini, menurut Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, merupakan langkah yang masih wajar dan positif bagi perusahaan dan investor.

Wafi menjelaskan, rasio pembayaran dividen di atas 100% ini mengindikasikan adanya likuiditas kas internal ASGR yang sangat besar. “Ini juga menunjukkan minimnya urgensi pengeluaran modal ekspansif (capex) dalam jangka pendek,” ujarnya kepada Kontan pada Senin (20/4/2026). Ia memprediksi, dengan total dividen Rp 241 per saham, yield dividen ASGR berpotensi mencapai dua digit, menjadikannya sangat menarik bagi para investor.

Namun, Wafi mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai risiko dividend trap menjelang tanggal ex-date. Lebih lanjut, ia juga menyoroti bahwa keberlanjutan kebijakan dividen dengan rasio pembayaran setinggi ini cenderung sulit dipertahankan. Hal ini disebabkan sebagian sumber dividen berasal dari saldo laba ditahan yang bersifat one-off atau hanya terjadi sekali. “Ke depan, nilai dividen akan kembali normal mengikuti laba bersih berjalan perusahaan,” jelasnya.

Dari perspektif fundamental, Wafi melihat ASGR saat ini berada dalam fase transisi di tengah maraknya tren digitalisasi. Bisnis tradisional perseroan diperkirakan akan cenderung stagnan, sementara pertumbuhan ke depan akan sangat bertumpu pada ekspansi segmen layanan solusi teknologi informasi. Oleh karena itu, KISI Sekuritas merekomendasikan beli saham ASGR dengan target harga di level Rp 2.100.

Senada dengan pandangan tersebut, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menilai bahwa kebijakan dividen ASGR ini adalah upaya manajemen untuk mengoptimalkan imbal hasil bagi para pemegang saham. Adrian memperkirakan, langkah ini tidak akan mengganggu kelangsungan operasional perusahaan dalam jangka pendek. Ia mengakui, yield dividen yang tinggi memang meningkatkan daya tarik saham ASGR.

Meskipun demikian, Adrian juga menggarisbawahi pentingnya investor mengantisipasi risiko dividend trap. “Investor tetap perlu mewaspadai potensi penurunan harga saham setelah pembagian dividen,” katanya. Mengenai sumber dividen, Adrian menganggap penggunaan saldo laba ditahan masih relatif aman, mengingat posisi saldo laba ditahan ASGR yang kuat, mencapai sekitar Rp 1,89 triliun.

Di sisi bisnis, Adrian memproyeksikan segmen solusi dokumen akan menghadapi tekanan jangka panjang akibat gelombang digitalisasi. Sebaliknya, segmen teknologi informasi diprediksi akan menjadi motor pertumbuhan baru bagi ASGR. “Pertumbuhan ke depan akan ditopang oleh layanan IT seperti managed service dan cloud,” terangnya.

Namun demikian, dari sisi valuasi, Adrian mencermati bahwa saham ASGR saat ini sudah diperdagangkan di atas rata-rata price to earnings ratio (PER) dalam tiga tahun terakhir. Untuk pergerakan harga saham ASGR jangka pendek, ia memperkirakan berpotensi menuju level Rp 1.905 dengan level support di kisaran Rp 1.825.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *