Emiten Konstruksi: Peluang di Tengah Tantangan Global? Cek Prospeknya!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja emiten konstruksi, baik dari sektor swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya, diproyeksikan masih akan menghadapi beragam tantangan signifikan pada tahun 2026.

Pada tahun 2025, kontras terlihat bahwa emiten konstruksi swasta berhasil menunjukkan performa yang lebih cemerlang dibandingkan kolega BUMN-nya. Ambil contoh PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), yang sukses membukukan pendapatan sebesar Rp 3,90 triliun, melonjak 26,35% dari Rp 3,08 triliun pada tahun sebelumnya. Kenaikan pendapatan ini secara signifikan turut mendorong laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga mencapai Rp 414,39 miliar, meroket 56,09% secara tahunan dari Rp 265,42 miliar di tahun 2024. Senada, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan 7,1% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 3,61 triliun pada tahun 2025, dari Rp 3,37 triliun. Lebih impresif lagi, laba bersih NRCA yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melesat 115,1% YoY menjadi Rp 175,52 miliar, dibandingkan Rp 81,60 miliar pada tahun 2024.

Kinerja Emiten Konstruksi Masih Hadapi Tantangan pada 2026, Simak Proyeksinya

Berbeda jauh, kinerja emiten BUMN karya justru menunjukkan rapor merah sepanjang tahun 2025. Empat raksasa konstruksi negara, yaitu PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), secara bersamaan melaporkan pembengkakan rugi bersih. WSKT mencatat rugi bersih sebesar Rp 3,92 triliun pada 2025, meningkat 51,71% secara tahunan dari rugi bersih Rp 2,58 triliun pada 2024. Kondisi serupa dialami PTPP, di mana rugi bersihnya membengkak tajam menjadi Rp 6,07 triliun sepanjang 2025, melonjak 298,99% dari rugi Rp 1,52 triliun di tahun sebelumnya. Lebih lanjut, ADHI membukukan rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang melambung hingga Rp 5,4 triliun, sangat kontras dengan rugi Rp 86,75 miliar pada tahun 2024. Terakhir, WIKA juga tidak luput dari kesulitan, dengan peningkatan rugi bersih 328,30% YoY mencapai Rp 9,7 triliun pada tahun lalu.

Menurut Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas, performa apik emiten konstruksi swasta seperti NRCA dan TOTL di tahun 2025 didorong oleh akumulasi nilai kontrak yang lebih solid dibandingkan periode sebelumnya. Ia menegaskan, “Tentunya berbeda dengan emiten konstruksi BUMN yang masih berjuang dengan restrukturisasi utang, emiten konstruksi swasta cenderung lebih lincah (agile) dan memiliki kondisi keuangan yang lebih sehat,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (19/4/2026). Penjelasan Reza menyoroti perbedaan fundamental antara kedua kelompok emiten tersebut, di mana emiten BUMN karya masih terbebani oleh proses restrukturisasi utang yang kompleks.

Sektor Konstruksi Masih Berat di 2026, Cermati Saran dan Rekomendasi Analis

Meski demikian, terdapat harapan akan potensi pemulihan kinerja emiten konstruksi pada tahun 2026. Sentimen positif ini dipicu oleh beberapa faktor pendorong utama. Pertama, maraknya pembangunan gedung-gedung baru, khususnya untuk kebutuhan pusat data (data center), pergudangan, dan sektor komersial lainnya. Kedua, proyek pemeliharaan di berbagai perusahaan properti yang banyak melibatkan emiten konstruksi swasta, secara signifikan akan menopang performa emiten-emiten tersebut. Reza menambahkan, “Selain itu, pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan mineral di luar Jawa juga memberikan kontribusi besar bagi pendapatan emiten swasta yang memiliki spesialisasi konstruksi industri.” Hal ini mengindikasikan diversifikasi proyek sebagai salah satu kunci keberhasilan.

Namun, di balik optimisme pemulihan, sektor konstruksi masih harus menghadapi sejumlah tantangan yang berpotensi membayangi sepanjang tahun 2025 dan berlanjut hingga 2026. Pertama, lonjakan biaya material akibat fluktuasi harga komoditas esensial seperti baja dan semen, yang terus menekan margin keuntungan. Kedua, meskipun suku bunga menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, levelnya yang masih relatif tinggi tetap menjadi beban signifikan bagi biaya pinjaman modal kerja. Reza juga menyoroti, “Terakhir, adanya penerapan ESG dan tuntutan penggunaan material ramah lingkungan (Green Construction). Kondisi ini memaksa emiten swasta berinvestasi lebih pada teknologi konstruksi baru.” Ini menunjukkan perlunya adaptasi terhadap standar keberlanjutan yang semakin ketat.

Dalam pandangan Reza, setelah periode kelesuan akibat pandemi, gairah pembangunan gedung bertingkat, termasuk perkantoran dan apartemen premium di Jakarta serta kota-kota besar lainnya, mulai bangkit kembali. Ia menambahkan, “Hal ini menguntungkan pemain spesialis semisal TOTL yang memiliki reputasi kuat di sektor bangunan gedung mewah.” Ini memperkuat posisi PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) sebagai pemain kunci dalam segmen properti premium.

Harga 200-an, Ini Saham Emiten Konstruksi Pelat Merah yang Layak Dibeli

Ringkasan

Emiten konstruksi diperkirakan menghadapi tantangan di tahun 2026. Pada tahun 2025, emiten konstruksi swasta, seperti PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) dan PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan emiten BUMN karya dengan mencatatkan peningkatan pendapatan dan laba bersih. Hal ini didorong oleh akumulasi nilai kontrak yang solid dan kelincahan dalam pengelolaan keuangan.

Sementara itu, emiten BUMN karya seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT PP Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mengalami kerugian bersih di tahun 2025. Pemulihan sektor konstruksi di tahun 2026 didorong oleh pembangunan pusat data, pergudangan, dan proyek pemeliharaan, namun terhambat oleh biaya material yang tinggi, suku bunga yang relatif tinggi, dan tuntutan ESG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *