
Harga minyak dunia menunjukkan penguatan signifikan pada awal pekan ini, didorong oleh meningkatnya kecemasan akan pasokan global. Pemicu utama sentimen ini adalah eskalasi serangan drone Ukraina yang berhasil menargetkan berbagai fasilitas energi vital di Rusia, menciptakan ketidakpastian dalam rantai pasokan. Selain itu, ekspektasi pasar mengenai potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat turut menopang kenaikan harga, dengan harapan bahwa langkah ini dapat memulihkan prospek pertumbuhan ekonomi global dan pada gilirannya, meningkatkan permintaan energi.
Mengutip laporan Reuters pada Senin (25/8/2025) pukul 06.56 GMT, harga minyak mentah Brent crude tercatat naik 13 sen atau setara 0,19%, mencapai level US$67,86 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar 15 sen atau 0,24%, menembus angka US$63,81 per barel. Kenaikan ini mengindikasikan reaksi langsung pasar terhadap gejolak geopolitik dan proyeksi kebijakan moneter yang memengaruhi harga komoditas strategis ini.
Serangkaian serangan drone Ukraina pada Minggu (24/8) dilaporkan Rusia telah menimbulkan dampak serius pada infrastruktur energinya. Insiden tersebut menyebabkan penurunan kapasitas operasional salah satu reaktor di pembangkit nuklir terbesar Rusia, serta memicu kebakaran hebat di terminal ekspor bahan bakar Ust-Luga. Lebih lanjut, kilang Novoshakhtinsk, yang memiliki kapasitas produksi 5 juta ton per tahun atau sekitar 100.000 barel per hari dan sebagian besar produknya ditujukan untuk ekspor, masih berjuang memadamkan api yang telah berlangsung selama empat hari. Analis pasar IG, Tony Sycamore, menegaskan bahwa, “Melihat keberhasilan Ukraina dalam menargetkan infrastruktur minyak Rusia, risiko harga minyak kini lebih condong naik,” menggambarkan ketidakpastian pasokan yang semakin memburuk.
Di tengah ketegangan geopolitik ini, dinamika politik global juga turut mewarnai pergerakan pasar. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyampaikan bahwa Rusia telah menunjukkan “konsesi signifikan” menuju kesepakatan damai dengan Ukraina, termasuk mengakui ketidakmampuannya membentuk rezim boneka di Kyiv dan jaminan keamanan wilayah Ukraina. Namun, Presiden AS, Donald Trump, justru melontarkan ancaman sanksi tambahan kepada Rusia jika tidak ada kemajuan nyata menuju penyelesaian damai dalam waktu dua minggu, menambah lapisan kompleksitas pada situasi global.
Meskipun ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada bulan September telah meningkatkan selera risiko di pasar, beberapa analis menilai bahwa harga minyak justru mulai kehilangan momentum kenaikannya. Priyanka Sachdeva, seorang analis dari Phillip Nova, menyoroti kekhawatiran pasar yang lebih besar terhadap potensi kebijakan tarif yang diusung oleh Trump. Kebijakan semacam itu dikhawatirkan dapat menekan pertumbuhan ekonomi global dan pada akhirnya membatasi kenaikan harga minyak. Namun, di sisi lain, analis ANZ dalam catatan riset mereka menyatakan bahwa, “Nada risk-on di pasar telah meningkatkan minat investor di sektor komoditas, didukung oleh kembali munculnya isu pasokan di energi dan logam,” menunjukkan bahwa masih ada faktor pendorong bagi investor yang mencari keuntungan di tengah ketidakpastian.
Ringkasan
Harga minyak dunia mengalami penguatan karena meningkatnya kekhawatiran akan pasokan global akibat serangan drone Ukraina ke fasilitas energi Rusia. Eskalasi ini menciptakan ketidakpastian dalam rantai pasokan. Selain itu, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat turut menopang kenaikan harga, dengan harapan dapat memulihkan pertumbuhan ekonomi global.
Pada Senin (25/8/2025), harga minyak mentah Brent naik menjadi US$67,86 per barel, sementara minyak WTI mencapai US$63,81 per barel. Serangan drone Ukraina dilaporkan menimbulkan dampak serius pada infrastruktur energi Rusia, memicu penurunan kapasitas operasional reaktor nuklir dan kebakaran di terminal ekspor bahan bakar.