Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (12/4) dini hari. Wakil Presiden AS, JC Vance, mengungkapkan bahwa kedua negara belum berhasil mencapai titik temu dalam perundingan yang bertujuan mengakhiri konflik tersebut.
Perundingan intensif selama 14 jam itu, sayangnya, tidak membuahkan hasil. JD Vance, dalam konferensi pers di Islamabad yang dikutip dari The Guardian, menyatakan bahwa Iran memilih untuk tidak menerima persyaratan yang diajukan oleh Amerika Serikat.
“Kabar buruknya adalah, kita belum mencapai kesepakatan yang diharapkan,” tegas Vance. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama yang diamanatkan Presiden AS Donald Trump kepadanya adalah untuk memastikan komitmen jangka panjang dari Iran terkait program nuklirnya. AS mengharapkan jaminan yang berkelanjutan, bukan hanya untuk dua tahun mendatang, melainkan untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Pertemuan di Islamabad ini merupakan negosiasi tatap muka pertama antara AS dan Iran dalam lebih dari satu dekade. Pembicaraan ini juga menandai diskusi tingkat tertinggi antara kedua negara sejak Revolusi Iran tahun 1979.
Meskipun belum mencapai kesepakatan, pihak Iran mengindikasikan bahwa pembicaraan belum sepenuhnya berakhir. Para pakar teknis dari kedua negara akan terus bertukar dokumen sebagai bagian dari proses negosiasi yang berkelanjutan.
“Negosiasi akan berlanjut, meskipun masih terdapat beberapa perbedaan yang perlu diatasi,” demikian pernyataan resmi Pemerintah Iran melalui platform X, seperti yang dikutip dari Reuters, pada Sabtu (12/4).
Sebelum negosiasi dimulai, seorang pejabat senior Iran mengungkapkan bahwa AS telah menyetujui untuk mencairkan aset Iran yang dibekukan di Qatar dan beberapa bank asing lainnya. Namun, klaim ini dibantah oleh seorang pejabat AS yang menyatakan tidak ada persetujuan semacam itu yang telah diberikan.
Seorang pejabat Pakistan yang mengetahui detail jalannya negosiasi mengungkapkan bahwa ketegangan sempat mewarnai perundingan tersebut. Meskipun sumber tersebut tidak merinci penyebab ketegangan, ia mengindikasikan adanya dinamika yang fluktuatif selama pertemuan.
“Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak, dan ketegangan mengalami pasang surut selama pertemuan,” ungkap sumber dari Pakistan tersebut.
Perundingan ini melibatkan sejumlah tokoh penting dari kedua belah pihak. Delegasi AS dipimpin oleh JD Vance, utusan khusus AS Steve Witkoff, serta menantu Donald Trump, Jared Kushner. Sementara itu, Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.