Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menunjukkan ketangguhannya di tengah gejolak pasar komoditas dengan mencatatkan kinerja yang solid pada kuartal I-2026. Laba bersih perusahaan melesat 35,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$ 28,1 juta.
Menurut laporan keuangan konsolidasian BUMI yang belum diaudit, yang dirilis pada Senin (11/5/2026), pencapaian gemilang ini selaras dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 19% YoY, mencapai US$ 417,7 juta. Sektor batu bara menjadi mesin utama pendorong pendapatan, dengan peningkatan signifikan sebesar 22% menjadi US$ 348,2 juta.
Kinerja positif ini sejalan dengan peningkatan volume penjualan batu bara sebesar 14%, mencapai 19,1 juta ton. Arutmin Indonesia mencatatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 37%, sementara Kaltim Prima Coal menunjukkan stabilitas dengan kenaikan 5%.
Di tengah tantangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, BUMI berhasil menekan biaya produksi sebesar 11% menjadi US$40,4 per ton dari sebelumnya US$45,1 per ton. Efisiensi ini berhasil menjaga margin perusahaan. Alhasil, laba usaha BUMI melonjak tajam sebesar 75,8% YoY menjadi US$ 49,1 juta.
Bumi Resources (BUMI) Bakal Terbitkan Obligasi Rp 1,84 Triliun, Ini Rincian Penggunaannya
Tidak hanya batu bara, kontribusi dari segmen non-batu bara juga menunjukkan tren pertumbuhan yang menjanjikan. Pendapatan dari emas dan perak tercatat sebesar US$ 69,5 juta, naik 9,7% YoY. Dengan pencapaian ini, kontribusi pendapatan non-batu bara terhadap total pendapatan perusahaan mencapai sekitar 16,6%.
Analis MNC Sekuritas, Raka Junico, menilai bahwa kinerja Bumi Resources di awal tahun 2026 tetap kokoh meskipun harga jual rata-rata batu bara mengalami penurunan. Kenaikan volume penjualan berhasil mengkompensasi penurunan harga, sehingga profitabilitas perusahaan tetap terjaga.
Raka memprediksi bahwa harga batu bara global yang masih tinggi di tengah ketegangan geopolitik dapat menjadi katalis positif bagi BUMI. Pasar juga menantikan kontribusi dari tambang tembaga Wolfram yang akan segera beroperasi. Dengan dukungan harga komoditas yang kuat dan rekam jejak efisiensi operasional, prospek BUMI dinilai tetap cerah.
“Dengan harga batu bara dan emas yang masih tinggi, sentimen terhadap kinerja BUMI tentu menjadi lebih positif. Terlebih lagi, perusahaan memiliki rekam jejak efisiensi operasional yang telah teruji selama beberapa tahun terakhir,” ujar Raka pada Senin (11/5/206).
Pendapatan dan Laba Bersih Bumi Resources (BUMI) Kompak Meningkat di Kuartal I-2026
Raka optimis bahwa Bumi Resources dapat mencapai keseimbangan EBITDA dari segmen batu bara dan non-batu bara pada tahun 2031. Ia menilai bahwa transformasi agresif BUMI menjadi perusahaan tambang multi-komoditas melalui akuisisi strategis akan menjadi pendorong utama pertumbuhan bisnis non-batu bara.
Sejumlah langkah ekspansi tersebut mencakup akuisisi tambang konsentrat tembaga Wolfram, tambang emas Jubilee, serta rencana pembelian perusahaan tambang Australia, Loyal Metals.
Menurutnya, strategi ekspansi anorganik ini memperkuat diversifikasi bisnis BUMI, mengurangi risiko ketergantungan pada batu bara, dan pada akhirnya meningkatkan stabilitas serta kualitas laba dalam jangka menengah hingga panjang.
Ringkasan
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan laba bersih melesat 35,2% YoY menjadi US$ 28,1 juta. Pendapatan perusahaan juga tumbuh 19% YoY, mencapai US$ 417,7 juta, didorong oleh peningkatan penjualan batu bara sebesar 14% menjadi 19,1 juta ton. BUMI juga berhasil menekan biaya produksi sebesar 11%, meningkatkan laba usaha sebesar 75,8% YoY menjadi US$ 49,1 juta.
Selain batu bara, kontribusi dari segmen non-batu bara seperti emas dan perak juga mengalami pertumbuhan. Analis memprediksi prospek BUMI tetap cerah didukung oleh harga komoditas yang tinggi dan efisiensi operasional. BUMI juga melakukan diversifikasi bisnis melalui akuisisi strategis tambang tembaga dan emas, yang diharapkan dapat meningkatkan stabilitas dan kualitas laba dalam jangka panjang.