Rupiah Rp 17.535: Dolar AS Bukan Satu-satunya Biang Kerok!

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah mengalami tekanan, tidak hanya akibat menguatnya dolar Amerika Serikat (AS), tetapi juga karena sentimen domestik yang memperburuk kondisi di pasar keuangan Indonesia. Pelemahan ini menjadi perhatian serius, karena dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor ekonomi.

Data Bloomberg menunjukkan pada Selasa (12/5/2026) pukul 14.10 WIB, indeks dolar AS (DXY) naik 0,28% menjadi 98,22. Sementara itu, rupiah terdepresiasi ke level Rp 17.530 per dolar AS pada pukul 14.28 WIB. Pergerakan ini mencerminkan adanya tekanan signifikan terhadap mata uang Garuda.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS (DXY) memang menjadi faktor utama yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor mencari aset yang lebih aman (safe haven), seperti dolar AS, sehingga mendongkrak DXY.

Namun, Yusuf menambahkan, “Dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, pelemahan rupiah terlihat lebih dalam. Ini mengindikasikan adanya faktor domestik yang memperberat tekanan eksternal di Indonesia,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).

Pasar, menurut Yusuf, mulai mencermati sejumlah isu domestik. Ini termasuk pelebaran defisit fiskal, penurunan cadangan devisa dalam beberapa bulan terakhir, dan potensi arus modal keluar (capital outflow) menyusul kekhawatiran terhadap struktur pasar keuangan Indonesia, termasuk dari lembaga pemeringkat MSCI.

“Tekanan global menjadi pemicu awal, tetapi fundamental domestik yang dipersepsikan melemah membuat rupiah lebih rentan terhadap overshooting,” tegas Yusuf. Dengan kata lain, kondisi internal Indonesia membuat rupiah bereaksi berlebihan terhadap sentimen negatif dari luar.

Yusuf membandingkan Indonesia dengan negara-negara Asia lain yang memiliki “bantalan” eksternal lebih kuat, seperti Malaysia dan Singapura, yang didukung oleh cadangan devisa tinggi dan transaksi berjalan yang lebih sehat. Korea Selatan, di sisi lain, mendapatkan sokongan dari ekspor teknologi dan semikonduktor. Sementara itu, yen Jepang cenderung diuntungkan saat kondisi global memasuki fase risk-off, di mana investor menghindari aset berisiko.

Meskipun Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan, Yusuf menekankan bahwa kualitas surplus tersebut perlu dipertanyakan. Surplus yang ada lebih banyak disebabkan oleh penurunan impor daripada peningkatan ekspor, yang mengindikasikan adanya perlambatan aktivitas ekonomi.

Dari sisi sektoral, pelemahan rupiah memberikan keuntungan bagi eksportir berbasis bahan baku lokal, seperti sawit, kopi, karet, hasil laut, serta industri yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS tetapi biaya produksinya dalam rupiah. Sektor-sektor ini menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Namun, secara agregat, dampak negatif pelemahan rupiah lebih besar. Industri manufaktur yang masih bergantung pada impor bahan baku dan mesin menghadapi kenaikan biaya produksi. Hal ini dapat menekan margin keuntungan dan berpotensi menaikkan harga jual produk.

Selain itu, perusahaan dengan utang dalam dolar AS juga akan terbebani akibat kenaikan cicilan dan bunga dalam denominasi rupiah. Importir barang modal juga mulai menahan ekspansi karena harga mesin yang semakin mahal. Investasi pun berpotensi tertunda.

Yusuf menambahkan bahwa kelas menengah juga merasakan tekanan akibat kenaikan harga barang elektronik, otomotif, dan produk impor, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Hal ini dapat mempengaruhi konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

APBN juga turut tertekan karena Indonesia masih berstatus net importer minyak. Kombinasi harga minyak yang tinggi dan rupiah yang lemah berpotensi memperbesar beban subsidi energi. Pemerintah perlu mengelola anggaran secara hati-hati untuk menghindari defisit yang lebih dalam.

Menurut Yusuf, fokus pasar seharusnya tidak hanya tertuju pada level kurs tertentu, melainkan pada kualitas pelemahan rupiah dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas pasar. Kestabilan adalah kunci untuk menjaga kepercayaan investor dan mencegah kepanikan.

“Selama pelemahan masih gradual, volatilitas bisa dijaga, dan pasar tetap percaya pada kebijakan pemerintah serta Bank Indonesia, situasinya masih dapat dikelola,” kata Yusuf. Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia sangat penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Ke depan, Yusuf memperkirakan DXY akan bergerak di kisaran 97-99 dalam jangka pendek. Selama The Fed belum memberikan sinyal pemangkasan suku bunga yang agresif dan tensi geopolitik Timur Tengah masih tinggi, dolar relatif tetap kuat karena fungsi safe haven-nya masih dominan.

Ia menambahkan bahwa DXY dapat kembali menembus level 100 jika eskalasi konflik lebih serius dan data ekonomi AS lebih kuat dari ekspektasi. Sebaliknya, apabila tensi global mulai mereda dan ekspektasi pemotongan suku bunga The Fed menguat, DXY bisa turun kembali mendekati area 96–97.

Ringkasan

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah tidak hanya disebabkan oleh penguatan Dolar AS, tetapi juga diperparah oleh sentimen domestik. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebutkan faktor domestik seperti pelebaran defisit fiskal, penurunan cadangan devisa, dan kekhawatiran terhadap struktur pasar keuangan Indonesia memperberat tekanan eksternal.

Pelemahan Rupiah memberikan keuntungan bagi eksportir berbasis bahan baku lokal, namun secara agregat dampak negatif lebih besar. Industri manufaktur yang bergantung pada impor bahan baku dan perusahaan dengan utang dalam Dolar AS akan tertekan. Yusuf menekankan pentingnya menjaga stabilitas pasar dan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan investor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *