Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana kontroversial untuk memblokade Selat Hormuz setelah perundingan yang alot dengan Iran di Pakistan menemui jalan buntu. Pernyataan ini berpotensi meredupkan harapan akan berakhirnya konflik yang berkepanjangan.
“Mulai saat ini, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses BLOKADE semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tegas Trump melalui akun media sosial Truth Social, seperti dilansir CNBC, Minggu (12/4).
Trump menuding Iran berusaha menguasai Selat Hormuz demi keuntungan ekonomi. Ia mengecam tindakan tersebut sebagai pemerasan global yang tidak akan ditoleransi oleh Amerika Serikat atau negara-negara lain.
“INI ADALAH PEMERASAN DUNIA, dan para pemimpin negara, terutama Amerika Serikat, tidak akan pernah diperas,” imbuhnya.
Sebelum pengumuman ini, dua kapal perang AS dilaporkan telah melintasi Selat Hormuz. Manuver ini menjadi yang pertama sejak konflik dengan Iran memanas pada akhir Februari lalu.
Langkah “Pembersihan” Selat Hormuz
Trump mengklaim bahwa Washington telah memulai proses “pembersihan” jalur laut strategis tersebut. The Wall Street Journal (WSJ), mengutip tiga pejabat Amerika, melaporkan bahwa dua kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut AS berhasil melewati selat tersebut tanpa hambatan.
Sementara itu, Axios melaporkan bahwa operasi tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan pihak berwenang Iran. Trump menyatakan bahwa tindakan ini merupakan bentuk “bantuan” kepada negara-negara seperti Cina, Jepang, dan Prancis, yang dianggapnya kurang memiliki keberanian atau kemauan untuk melakukan hal serupa.
Negosiasi Buntu, Ketidakpercayaan Mendalam
Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, mengkonfirmasi bahwa perundingan selama 14 jam antara Iran dan AS belum menghasilkan kesepakatan. Vance mengungkapkan bahwa Iran menolak persyaratan yang diajukan oleh AS.
“Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad, Minggu (12/4), seperti dikutip dari The Guardian. Ia menambahkan bahwa perundingan diwarnai dengan ketidakpercayaan yang mendalam antara kedua belah pihak.
Ringkasan
Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan rencana blokade Selat Hormuz setelah perundingan dengan Iran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan. Trump menuding Iran berusaha menguasai Selat Hormuz untuk pemerasan ekonomi dan menekankan bahwa Amerika Serikat tidak akan mentolerir tindakan tersebut.
Amerika Serikat telah memulai proses “pembersihan” Selat Hormuz, dengan dua kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS berhasil melewati selat tersebut tanpa hambatan. Wakil Presiden AS, JD Vance, mengkonfirmasi bahwa perundingan selama 14 jam dengan Iran tidak menghasilkan kesepakatan karena ketidakpercayaan mendalam antara kedua belah pihak.