Shoesmart.co.id JAKARTA. PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mencatatkan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun 2025. Laporan keuangan perusahaan menunjukkan adanya penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang tahun 2025, APLN membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 3,56 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 36,05% dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp 5,57 triliun.
Corporate Secretary PT Agung Podomoro Land Tbk, Justini Omas, menjelaskan bahwa model bisnis APLN pada tahun 2025 ditopang oleh kombinasi antara pengembangan proyek properti dan pengelolaan aset komersial yang menghasilkan recurring income atau pendapatan berulang. Strategi ini diharapkan dapat menstabilkan kinerja perusahaan di tengah fluktuasi pasar properti.
Penjualan rumah tinggal tercatat sebagai kontributor utama pendapatan APLN, dengan nilai mencapai Rp1,06 triliun. Diikuti oleh penjualan apartemen sebesar Rp 588,18 miliar dan penjualan tanah senilai Rp247,18 miliar. Sektor residensial masih menjadi andalan perusahaan dalam mendulang pendapatan.
Tips Investasi THR Agar Tetap Cuan di Masa Depan
Selain residensial, segmen properti komersial juga memberikan kontribusi. Perseroan mencatatkan penjualan rumah toko (ruko) sebesar Rp243,49 miliar, menunjukkan minat investor terhadap properti komersial yang strategis.
APLN berhasil mencatatkan pendapatan berulang (recurring income) sebesar Rp 1,36 triliun. Pendapatan ini berasal dari bisnis perhotelan, penyewaan pusat perbelanjaan, serta pendapatan lain-lain. Diversifikasi sumber pendapatan ini penting untuk menjaga stabilitas keuangan perusahaan.
Saat ini, APLN memiliki dan mengoperasikan sejumlah hotel ternama, seperti Pullman Grand Central Bandung dan Hotel Indigo Bali Seminyak Beach. Selain itu, portofolio pusat perbelanjaan APLN juga cukup luas, termasuk Senayan City, Kuningan City, Baywalk Mall, Emporium Pluit Mall, Central Park Mall, Central Park 2, Festival Citylink, DeliPark Mall Medan, dan Plaza Balikpapan.
“Nilai marketing sales tercatat sebesar Rp1,41 triliun yang berasal dari berbagai proyek unggulan yang dikembangkan di sejumlah kota di Indonesia,” ujar Justini Omas dalam siaran pers yang dirilis pada Rabu, 18 Maret 2026.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok penjualan dan beban langsung juga mengalami penurunan, dari Rp 3,13 triliun pada tahun 2024 menjadi Rp 2,09 triliun pada tahun lalu. Efisiensi operasional menjadi fokus perusahaan untuk menekan biaya.
Strategi Mengelola THR dengan Bijak dan Berkesadaran Agar Keuangan Tetap Terjaga
Laba bruto APLN tercatat sebesar Rp 1,47 triliun di tahun 2025, mengalami penurunan signifikan sebesar 39,66% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan dengan Rp 2,44 triliun pada tahun sebelumnya.
“Penurunan ini disebabkan pada tahun 2024 terdapat penjualan aset Hotel Pullman Ciawi Vimala Hills Resort Spa & Convention,” jelas Justini Omas, mengindikasikan bahwa penjualan aset tersebut memberikan dampak positif pada kinerja tahun sebelumnya.
APLN mengantongi laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 112,84 miliar di tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan tajam sebesar 82,19% YoY dari Rp 633,86 miliar.
Dengan kinerja tersebut, laba per saham dasar menjadi Rp 4,97 di tahun 2025, turun drastis dari Rp 27,92 di tahun 2024. Penurunan laba per saham ini mencerminkan tekanan pada profitabilitas perusahaan.
Per 31 Desember 2025, APLN memiliki total aset sebesar Rp 24,95 triliun. Meskipun menunjukkan penurunan, nilai aset perusahaan masih tergolong besar dan menjadi modal penting untuk pengembangan di masa depan. Aset ini sedikit menurun dari Rp 26,11 triliun per 31 Desember 2024.
Jumlah liabilitas perseroan tercatat sebesar Rp 11,28 triliun di akhir Desember 2025, mengalami penurunan dibandingkan dengan Rp 12,33 triliun di akhir Desember 2024. Penurunan liabilitas ini menunjukkan upaya perusahaan dalam mengelola kewajiban keuangannya. Sementara itu, jumlah ekuitas tercatat Rp 13,67 triliun per akhir 2025, sedikit menurun dari Rp 13,78 triliun di akhir tahun 2024.
APLN memiliki kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 844,01 miliar di akhir Desember 2025, turun dibandingkan dengan Rp 983,78 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Ketersediaan kas menjadi penting untuk operasional dan investasi perusahaan.
Wall Street Ditutup Naik Selasa (17/3), Cermati Sikap The Fed Saat Harga Minyak Panas
Menatap masa depan, APLN akan terus memperkuat strategi pengembangan proyek yang sesuai dengan kebutuhan pasar, dengan fokus pada hunian dan kawasan terpadu yang menawarkan nilai tambah bagi masyarakat. Perusahaan optimis dengan potensi pasar properti di Indonesia.
“Kami melihat kebutuhan terhadap hunian di kelompok menengah masih tetap tinggi. Oleh karena itu, Perseroan akan terus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen dan memastikan setiap proyek properti APLN mampu memberikan nilai yang terus meningkat,” tutup Justini Omas, menegaskan komitmen perusahaan untuk memberikan yang terbaik bagi konsumen.
Ringkasan
PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) mencatatkan penurunan kinerja yang signifikan pada tahun 2025, dengan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp 3,56 triliun, turun 36,05% dibandingkan tahun 2024. Penurunan ini juga tercermin pada laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, yang turun sebesar 82,19% YoY menjadi Rp 112,84 miliar.
Meskipun demikian, penjualan rumah tinggal masih menjadi kontributor utama pendapatan, diikuti oleh apartemen dan tanah. Perusahaan juga mengandalkan pendapatan berulang (recurring income) dari bisnis perhotelan dan penyewaan pusat perbelanjaan. APLN akan terus memperkuat strategi pengembangan proyek yang sesuai dengan kebutuhan pasar, khususnya hunian untuk kelompok menengah.