Harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih tertekan akibat permintaan ekspor yang lesu dan pasokan global yang melimpah. Namun, pasar kini menaruh harapan pada implementasi program biodiesel B50 di Indonesia, yang diyakini mampu mendongkrak harga sawit di masa mendatang.
Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO untuk kontrak Juni 2026 di Bursa Derivatif Malaysia menunjukkan penguatan sebesar 0,6%, ditutup pada level MYR 4.430 per metrik ton pada hari Jumat (22/5/2026). Secara mingguan, harga CPO mencatat kenaikan tipis sebesar 0,9%. Kendati demikian, pada hari Kamis (21/5/2026), harga CPO sempat mengalami penurunan tajam sebesar 2,48%.
Sementara itu, harga CPO untuk kontrak Agustus 2026, yang lebih aktif diperdagangkan di Bursa Derivatif Malaysia, juga mengalami kenaikan harian sebesar 0,63% dan ditutup pada level MYR 4.486 per metrik ton. Senada dengan kontrak Juni, kontrak Agustus juga mengalami penurunan signifikan sebesar 2,73% pada hari Kamis (21/5/2026).
Secara keseluruhan, harga CPO masih menunjukkan penurunan sebesar 2,03% dalam sebulan terakhir. Meskipun demikian, secara year to date (YtD), harga CPO masih mencatatkan lonjakan yang cukup signifikan, yaitu sebesar 10,77%.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, berpendapat bahwa pelemahan harga CPO saat ini bersifat musiman. Namun, tekanan bearish berpotensi berlanjut dalam jangka pendek jika ekspor tetap lemah dan stok global terus meningkat.
Lukman menjelaskan bahwa pasar saat ini terbebani oleh kombinasi beberapa faktor, antara lain pasokan besar dari Indonesia dan Malaysia, perlambatan permintaan impor terutama dari India dan China, serta ketidakpastian arah permintaan global.
“Namun, downside harga kemungkinan mulai lebih terbatas karena pasar kini mulai mengantisipasi implementasi program B50 Indonesia pada 1 Juli, yang berpotensi meningkatkan penyerapan domestik secara signifikan dan mengurangi tekanan oversupply,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pergerakan harga CPO pada kuartal II-2026 cenderung sideways hingga bearish dengan volatilitas yang masih cukup tinggi. Sentimen utama yang memengaruhi pasar antara lain lemahnya ekspor sawit Indonesia dan Malaysia, tingginya stok awal tahun, pergerakan harga soybean oil, arah harga energi global, serta kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Dari sisi fundamental, stok CPO saat ini dinilai masih relatif melimpah dibandingkan tahun lalu. Peningkatan produksi di Indonesia dan Malaysia belum diimbangi dengan pemulihan permintaan ekspor yang optimal. Di dalam negeri, stok juga masih cukup besar karena penyerapan biodiesel belum sepenuhnya mampu mengimbangi tambahan produksi.
Lukman juga menyoroti efektivitas kebijakan mandatori biodiesel seperti B35 dan B40 dalam menopang permintaan domestik dan menahan penurunan harga sawit lebih dalam. Kini, pasar mulai fokus pada implementasi B50 yang dinilai berpotensi menjadi game changer bagi industri sawit nasional. Implementasi penuh program tersebut diperkirakan mampu menyerap tambahan jutaan ton CPO per tahun, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor.
Untuk kuartal III-2026, Lukman memproyeksikan harga CPO bergerak di kisaran RM 4.300 hingga RM 4.800 per ton. Potensi rebound dinilai dapat terjadi apabila implementasi B50 berjalan lancar, produksi mulai turun akibat faktor cuaca, ekspor membaik, atau harga energi global tetap tinggi.
Adapun sentimen utama yang akan menentukan arah harga CPO ke depan meliputi implementasi B50 Indonesia, prospek permintaan dari India dan China, harga minyak mentah dunia, kondisi cuaca terhadap produksi sawit, serta perkembangan harga minyak nabati alternatif.
Ringkasan
Harga CPO masih tertekan akibat lesunya permintaan ekspor dan melimpahnya pasokan global. Pasar berharap implementasi program biodiesel B50 di Indonesia dapat mendongkrak harga. Analis memprediksi tekanan bearish akan berlanjut jika ekspor tetap lemah dan stok global terus meningkat, dengan pasar terbebani pasokan besar dari Indonesia dan Malaysia.
Implementasi B50 dinilai berpotensi menjadi game changer dengan meningkatkan penyerapan domestik dan mengurangi tekanan oversupply. Harga CPO diperkirakan bergerak sideways hingga bearish pada kuartal II-2026 dengan volatilitas tinggi. Sentimen utama meliputi implementasi B50, permintaan dari India dan China, serta harga minyak mentah dunia.