KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten dari berbagai sektor industri terpantau aktif memperoleh fasilitas kredit dari perbankan sepanjang bulan Mei 2024. Langkah ini menjadi sinyal positif bagi geliat dunia usaha yang tengah berupaya memacu pertumbuhan.
Adapun emiten-emiten yang mendapatkan kucuran dana segar ini antara lain PT Sinar Eka Selaras Tbk (ERAL), PT Ifishdeco Tbk (IFSH), PT Newport Marine Services Tbk (BOAT), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS), serta PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE). Masing-masing perusahaan memiliki strategi tersendiri dalam memanfaatkan pinjaman tersebut.
Secara lebih detail, ERAL, emiten yang bergerak di sektor ritel, berhasil mengamankan kredit dari Bank BCA senilai Rp 245 miliar dengan tingkat bunga 6,75% dan tenor hingga 13 Mei 2027. Tak hanya itu, ERAL juga memperoleh tambahan fasilitas time loan sebesar Rp 450 miliar dengan tenor yang sama dan bunga 6,75% per tahun. Guna mendukung investasi jangka panjang, perusahaan juga mendapatkan kredit investasi senilai Rp 148 miliar dengan masa tenor tiga tahun.
Selain pinjaman dalam rupiah, ERAL juga mendapatkan multi credit facility dalam mata uang asing, yakni US$ 10 juta, 3,5 juta dolar Singapura, dan Rp 190 miliar, serta fasilitas forex forward line senilai US$ 6 juta dan 200 juta Yuan China. Sementara itu, BOAT, perusahaan yang bergerak di bidang jasa maritim, telah menandatangani perjanjian fasilitas kredit modal kerja dengan Bank BNI sebesar Rp 9 miliar.
Selanjutnya, IFSH memperoleh fasilitas kredit lokal dan time loan revolving dari Bank BCA, masing-masing sebesar Rp 100 miliar dan Rp 300 miliar. Kucuran dana ini diharapkan dapat memperkuat likuiditas dan mendukung operasional perusahaan.
Tak ketinggalan, Bank BCA juga menyalurkan fasilitas kredit investasi dengan total limit kredit mencapai Rp 17 triliun untuk DCII, perusahaan yang bergerak di bisnis data center. Sebagai jaminan atas kredit tersebut, DCII memberikan agunan berupa bidang tanah dan bangunan, mesin dan peralatan data center, serta rekening giro perusahaan.
Di sisi lain, Bank Mandiri turut serta memberikan dukungan pembiayaan bagi CGAS. Fasilitas yang ditawarkan meliputi tambahan standby letter of credit (SBLC) sebesar US$ 3,16 juta, kredit investasi 3 senilai Rp 17,5 miliar, dan kredit investasi 4 sebesar Rp 10 miliar. Dukungan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan bisnis CGAS.
Terakhir, CBRE, emiten di sektor transportasi dan logistik, memperoleh fasilitas kredit dalam bentuk pinjaman berjangka dari Bank Maybank Indonesia senilai US$ 45 juta. Secara umum, fasilitas kredit yang diperoleh para emiten ini bertujuan untuk menambah modal kerja, yang pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada, berpendapat bahwa fasilitas kredit yang diterima oleh para emiten tersebut akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional, sehingga berdampak positif pada kinerja perusahaan. “Nantinya investor akan lihat apakah dari aktivitas tersebut seberapa besar akan berdampak pada potensi peningkatan kinerja mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, Reza menambahkan bahwa penting untuk mencermati apakah skema suku bunga yang digunakan dalam fasilitas kredit tersebut bersifat fixed atau floating. Skema bunga fixed akan memberikan kepastian terhadap beban bunga yang harus ditanggung perusahaan, sementara skema bunga floating berpotensi meningkatkan beban bunga perusahaan jika suku bunga acuan mengalami kenaikan.
Dari sisi volume dan likuiditas, saham CBRE, CGAS, dan ERAL dinilai cukup menarik untuk perdagangan jangka pendek, dengan tetap memperhatikan perkembangan sentimen yang bergerak di pasar.
Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie menyoroti bahwa lingkungan suku bunga yang masih relatif tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan beban bunga bagi emiten yang melakukan ekspansi berbasis utang. Ekspektasi pasar yang memperkirakan Fed Funds Rate masih bertahan pada level relatif tinggi hingga akhir 2026 juga dapat mempengaruhi arah kebijakan BI Rate, sehingga kondisi ini tetap perlu menjadi perhatian investor.
Adrian berpendapat bahwa DCII dan CBRE adalah dua emiten yang fasilitas kreditnya berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap kinerja fundamental ke depan. Fasilitas kredit sebesar Rp 17 triliun yang diperoleh DCII direncanakan untuk mendukung belanja modal pembangunan data center, yang dapat memperkuat kapasitas dan menopang pertumbuhan bisnis dalam jangka menengah.
“Dari sisi prospek jangka panjang, kami melihat DCII cukup menarik untuk dicermati karena memiliki eksposur terhadap tema pertumbuhan struktural seperti Artificial Intelligence dan layanan cloud,” kata Adrian. Permintaan terhadap infrastruktur digital yang terus meningkat berpotensi menjadi katalis pertumbuhan dalam jangka menengah hingga panjang.
Kendati demikian, investor tetap perlu memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menjaga profitabilitas di tengah potensi peningkatan beban bunga. Sementara itu, CBRE berencana memanfaatkan fasilitas kredit untuk pelunasan armada Gunanusa Hai Long 106, yang diharapkan dapat meningkatkan kapasitas operasional dan mendukung aktivitas bisnis di masa mendatang.
Ringkasan
Beberapa emiten seperti ERAL, IFSH, BOAT, DCII, CGAS, dan CBRE aktif memperoleh fasilitas kredit dari perbankan pada bulan Mei 2024. Pinjaman ini bertujuan untuk mendukung operasional dan memacu pertumbuhan perusahaan, dengan berbagai strategi pemanfaatan dana yang berbeda-beda antar emiten.
Fasilitas kredit ini akan berdampak positif pada kinerja perusahaan jika dikelola dengan baik, namun investor perlu mencermati skema suku bunga (fixed atau floating) dan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah potensi peningkatan beban bunga. DCII dan CBRE dinilai memiliki potensi dampak signifikan terhadap kinerja fundamental ke depan berkat fasilitas kredit yang diperoleh.