Bank Indonesia (BI) mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan terburu-buru membeli dolar AS di tengah tekanan yang sedang dialami nilai tukar rupiah. Menurut otoritas moneter, aksi panic buying di pasar valuta asing (valas) justru dapat memperburuk tekanan terhadap kurs rupiah. Hal ini disebabkan karena lonjakan permintaan dolar yang tidak sepenuhnya didasari oleh kebutuhan riil.
Data Bloomberg pada hari Jumat (22/5) menunjukkan bahwa rupiah melemah 44,50 poin atau 0,25 persen ke level Rp 17.711 per dolar AS pada pukul 12.45. Pelemahan ini memicu peningkatan permintaan dolar di sejumlah money changer. Kekhawatiran akan berlanjutnya pelemahan rupiah mendorong sebagian masyarakat untuk membeli dolar, dengan harapan dapat menghindari harga yang lebih mahal di masa depan.
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, menjelaskan bahwa kondisi ini dipicu oleh faktor psikologis yang umum terjadi saat pasar dilanda ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, keputusan membeli dolar seringkali didorong oleh kekhawatiran kehilangan kesempatan untuk mendapatkan harga yang lebih menguntungkan, bukan berdasarkan kebutuhan yang mendesak. Ketika nilai tukar terus merangkak naik, muncul persepsi bahwa pembelian harus segera dilakukan sebelum harga semakin tidak terjangkau.
Psikologi pasar semacam ini, menurut BI, berpotensi menciptakan efek domino. Ketika sekelompok masyarakat mulai membeli dolar karena khawatir kurs akan terus meningkat, kelompok lain cenderung mengikuti jejak yang sama. Akibatnya, terjadi peningkatan permintaan secara serentak yang justru memperkuat sentimen negatif di pasar.
Ruth mengilustrasikan situasi ini mirip dengan perilaku masyarakat saat menghadapi situasi darurat, seperti pandemi COVID-19. Pada saat itu, banyak orang memborong kebutuhan pokok dalam jumlah besar karena takut kehabisan persediaan.
“Mungkin sebelumnya adalah risiko beli ya transaksi spot gitu ya namanya orang ya kalau panik. Kita aja deh kalau misalnya waktu Covid-19, apa sih yang dibeli oleh ibu-ibu? Pasti kan langsung nyiapin bahan makanan gitu ya, di rumah itu pasti langsung beras minyak gitu ya,” kata Ruth kepada wartawan di Makassar, Jumat (22/5).
Menurutnya, pola perilaku serupa dapat terjadi di pasar valuta asing. Misalnya, orang tua yang memiliki anak di luar negeri mungkin memutuskan untuk membeli dolar lebih cepat karena khawatir biaya kebutuhan anak mereka akan meningkat jika rupiah terus melemah.
Hal serupa juga bisa terjadi pada pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran dalam mata uang asing, terutama importir. Ketika melihat tren pelemahan rupiah, para pelaku usaha dapat langsung memperkirakan bahwa biaya pembayaran di masa depan akan menjadi lebih besar jika dikonversi ke rupiah.
Ruth menjelaskan bahwa pelaku usaha yang memiliki kewajiban pembayaran impor tentu akan berusaha mengantisipasi risiko kenaikan biaya tersebut. Kekhawatiran inilah yang kemudian dapat mendorong pembelian dolar lebih awal.
“Nasabahnya punya kewajiban membayar valuta asing karena dia impor, katakanlah gitu ya. Dengan tren pelemahan misalnya, dia langsung pikir nanti kalau rupiahnya melemah terus gimana gitu ya,” ujarnya.
Meskipun demikian, BI menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan dolar di pasar. Ruth meyakinkan bahwa likuiditas valuta asing, termasuk untuk kebutuhan money changer atau KUPVA (Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing), tetap terjaga.
Ia menjelaskan bahwa mekanisme pasar tetap berjalan. Ketika permintaan meningkat, akan ada pihak yang menyediakan pasokan.
“Pada dasarnya kalau saya boleh mengatakan harusnya likuiditas terhadap dolar yang dibutuhkan oleh money changer atau KUPVA saat ini harusnya ada, dan Bank Indonesia juga kan meyakinkan ya bahwa likuiditasnya itu pasti ada gitu,” ujar Ruth.
BI juga terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar pelemahan tidak berlarut-larut. Di sisi lain, Ruth mengimbau semua pihak untuk berperan aktif dalam meredam kepanikan masyarakat agar ekspektasi negatif tidak semakin meluas.
Menurutnya, pembelian dolar sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan yang jelas, bukan semata-mata karena kekhawatiran pasar. “Jadi kalau kamu masih butuhnya nanti, enggak usah kamu beli sekarang,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah money changer mengakui adanya peningkatan permintaan dolar AS di tengah pelemahan rupiah. Bimo, seorang penjaga money changer di Jakarta Selatan, mengungkapkan bahwa sebagian besar pelanggannya saat ini datang untuk membeli dolar AS.
Menurutnya, peningkatan permintaan ini dipicu oleh ekspektasi sebagian masyarakat bahwa pelemahan rupiah akan terus berlanjut. Bahkan, muncul asumsi di pasar bahwa kurs dolar AS dapat menembus angka Rp 20.000 per dolar AS.
“Demand-nya memang lagi banyak yang nyari. Mungkin karena isunya kan bakalan naik ke Rp 20.000 (per dolar AS). Kita enggak tahu bakal bener atau enggak,” katanya.
Bimo mencatat bahwa tren pembelian dolar di tempatnya mengalami peningkatan hingga 50 persen dibandingkan dengan periode sebelum rupiah menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Saat ini, jumlah masyarakat yang membeli dolar lebih banyak dibandingkan dengan yang menjual dolar.
“Secara rasio itu demand yang tinggi atau enggak sama aja menurut saya. Cuma kalau dibandingkan yang jual atau yang beli banyak yang mana, lebih banyak yang beli memang sekarang,” jelas Bimo.
Ringkasan
Bank Indonesia (BI) mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan melakukan panic buying dolar AS, karena tindakan tersebut justru dapat memperburuk tekanan terhadap nilai tukar rupiah. BI meyakinkan bahwa likuiditas valuta asing tetap terjaga dan pembelian dolar sebaiknya didasarkan pada kebutuhan riil, bukan karena kekhawatiran pasar.
Pelemahan rupiah, yang mencapai Rp 17.711 per dolar AS, memicu peningkatan permintaan dolar di money changer. BI menekankan bahwa perilaku ini dapat menciptakan efek domino, dimana kekhawatiran akan pelemahan lebih lanjut mendorong pembelian dolar secara serentak, sehingga memperkuat sentimen negatif di pasar. BI terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengimbau semua pihak untuk meredam kepanikan.