Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Jumat menunjukkan potensi pergerakan yang volatil. Kombinasi sentimen dari dalam negeri dan global menjadi pemicu utama yang perlu diwaspadai oleh para investor.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung menunjukkan pelemahan sebesar 29,31 poin atau 0,48 persen, sehingga berada di posisi 6.065,63. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga mengalami penurunan sebesar 2,42 poin atau 0,39 persen, mencapai level 613,98.
Menurut Hendra Wardana, seorang analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, “Untuk perdagangan hari ini, IHSG masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan volatil.” Ia menyampaikan analisisnya kepada Antara di Jakarta pada hari Jumat.
Hendra menjelaskan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci. Di antaranya adalah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, arus modal asing yang masuk dan keluar dari pasar, perkembangan konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta respons pelaku pasar terhadap berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
“Jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual dari investor asing terus berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support di level 6.000,” imbuh Hendra. Level ini menjadi krusial karena dapat menentukan arah pergerakan IHSG selanjutnya.
Namun, di tengah sentimen negatif, Hendra juga melihat adanya peluang. “Setelah koreksi yang cukup dalam dalam beberapa hari terakhir, peluang technical rebound jangka pendek juga mulai terbuka, terutama jika muncul aksi bargain hunting pada saham-saham big caps yang sudah mengalami oversold,” jelasnya. Bargain hunting adalah strategi investor untuk membeli saham-saham yang dianggap terlalu murah.
IHSG Diyakini Bakal Rebound, Pandu Sjahrir Sebut Investor Hanya Perlu Kepastian Soal BUMN Ekspor
Selain itu, pasar juga akan mencermati perkembangan harga minyak dunia dan pergerakan yield obligasi AS. “Stabilitas harga minyak dunia serta arah yield obligasi AS masih menjadi indikator penting bagi aliran dana global ke emerging market,” kata Hendra.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini, Hendra menyarankan agar pelaku pasar lebih berhati-hati dan selektif. “Dalam jangka pendek, pelaku pasar sebaiknya mulai fokus terhadap saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal,” sarannya. Saham defensif umumnya berasal dari sektor yang permintaannya stabil, seperti konsumer dan telekomunikasi.
Secara teknikal, Hendra menilai bahwa IHSG saat ini masih berada dalam tren bearish yang kuat. “Posisi IHSG saat ini masih berada dalam tren bearish kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang solid. Penurunan tajam hingga menembus area support penting 6.200 dan 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual masih sangat tinggi,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa level 6.000 menjadi support psikologis yang sangat krusial. “Jika level tersebut ditembus, maka IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area 5.880–5.900 sebagai support berikutnya,” ujar Hendra.
Di sisi lain, resistance jangka pendek berada di kisaran 6.120 hingga 6.250. “IHSG baru akan memiliki peluang technical rebound yang lebih meyakinkan apabila mampu kembali bertahan di atas area 6.200 dengan volume beli yang meningkat,” jelasnya.
“Namun untuk sementara, pergerakan indeks masih cenderung berada dalam fase panic selling dan high volatility sehingga investor perlu lebih selektif dan disiplin dalam mengelola risiko,” tegas Hendra. Panic selling adalah kondisi di mana investor menjual saham secara besar-besaran karena khawatir harga akan terus turun.
Pada perdagangan hari Kamis (21/05), pelemahan IHSG menunjukkan tekanan pasar yang masih sangat besar, bahkan ketika mayoritas bursa Asia justru bergerak positif.
Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam. “Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp51 triliun,” kata Hendra.
Sementara itu, dari mancanegara, pasar masih dibayangi sikap hawkish The Fed setelah risalah FOMC menunjukkan kekhawatiran inflasi AS yang berpotensi membuat suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Sikap hawkish mengindikasikan kecenderungan untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi.
“Akibatnya, sektor berbasis komoditas dan energi mengalami tekanan paling besar, sementara investor cenderung menghindari aset berisiko di emerging market termasuk Indonesia,” jelas Hendra.
Pada perdagangan Kamis (21/05), bursa saham Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 melemah 0,20 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,11 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,53 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 0,39 persen.
Berbeda dengan Eropa, bursa AS Wall Street kompak menguat pada Kamis (21/05). Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,55 persen, indeks S&P 500 menguat 0,17 persen, dan indeks Nasdaq Composite menguat 0,20 persen.
Bursa saham regional Asia pagi ini menunjukkan kinerja yang beragam. Indeks Nikkei menguat 1.445,86 poin atau 2,34 persen ke 63.130,00, indeks Shanghai menguat 4,90 poin atau 0,12 persen ke 4.082,18, indeks Hang Seng menguat 174,48 poin atau 0,69 persen ke 25.561,00, dan indeks Strait Times menguat 8,57 poin atau 0,17 persen ke 5.054,28.
Ringkasan
IHSG diprediksi bergerak volatil dipicu sentimen global dan domestik, seperti fluktuasi Rupiah, arus modal asing, konflik geopolitik, dan kebijakan ekonomi. Analis menyebutkan bahwa jika Rupiah melemah dan tekanan jual asing berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support 6.000. Meskipun begitu, peluang technical rebound jangka pendek terbuka jika ada aksi bargain hunting.
Pasar juga mencermati harga minyak dunia dan yield obligasi AS. Investor disarankan berhati-hati dan selektif, fokus pada saham defensif dan emiten berfundamental kuat. IHSG saat ini dalam tren bearish dan rentan terhadap panic selling akibat ketidakpastian kebijakan pemerintah dan sikap hawkish The Fed.