Shoesmart.co.id – JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyambut baik kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait pelonggaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM). BTN menilai kebijakan ini akan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perbankan dalam mengelola likuiditas, terutama di tengah tantangan tekanan suku bunga dan kebutuhan untuk terus memacu pertumbuhan kredit.
Seperti diketahui, BI memperluas cakupan instrumen yang dapat diperhitungkan dalam komponen RIM, termasuk surat berharga korporasi dan surat berharga syariah korporasi. Kebijakan yang dinilai strategis ini akan resmi berlaku efektif mulai 1 Juli 2026.
Ramon Armando, Corporate Secretary BTN, menjelaskan bahwa penambahan instrumen dalam perhitungan RIM memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam pengelolaan dana bank.
“Dengan bertambahnya instrumen yang dapat diperhitungkan dalam komponen RIM, ruang pengelolaan dana bank menjadi lebih leluasa. Hal ini tentu akan membantu menjaga stabilitas likuiditas bank sekaligus mendukung fungsi intermediasi yang optimal,” ungkap Ramon kepada Kontan, Jumat (22/5).
Bank Mandiri: Pelonggaran RIM BI Bisa Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan
Lebih lanjut, Ramon berpendapat bahwa secara umum, kebijakan pelonggaran RIM ini berpotensi mendorong peningkatan rasio RIM perbankan. Pasalnya, bank kini memiliki lebih banyak alternatif penempatan likuiditas yang tetap diakui oleh regulator.
Sesuai ketentuan BI, perbankan diwajibkan untuk menjaga rasio intermediasi pada rentang 84% hingga 94%.
BTN juga melihat bahwa perluasan cakupan surat berharga dalam perhitungan RIM akan memberikan fleksibilitas yang lebih baik kepada bank dalam mengelola pendanaan (funding) dan penyaluran dana. Hal ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas, biaya dana (cost of fund), dan ekspansi kredit.
Meskipun demikian, Ramon menekankan bahwa kebijakan ini tidak secara otomatis serta-merta memicu pertumbuhan kredit.
“Dampak terhadap percepatan pertumbuhan kredit tidak langsung terasa secara otomatis. Penyaluran kredit tetap harus mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kondisi permintaan pasar, kualitas debitur, dan tentu saja, prinsip kehati-hatian,” jelasnya.
BTN sendiri, lanjut Ramon, akan tetap fokus pada upaya menjaga pertumbuhan kredit yang sehat dan berkualitas, terutama pada segmen perumahan yang merupakan bisnis inti (core business) perseroan.
Ramon menambahkan bahwa posisi RIM BTN saat ini masih berada dalam koridor yang dapat dikelola dengan baik. Pihaknya juga terus memantau kondisi likuiditas secara cermat (prudent) di tengah dinamika pasar dan suku bunga yang fluktuatif.
Menurutnya, rasio intermediasi yang tinggi mencerminkan optimalisasi penyaluran dana ke sektor-sektor produktif. Namun, BTN tetap berupaya menjaga buffer likuiditas melalui diversifikasi sumber pendanaan, penguatan current account saving account (CASA), pengelolaan jatuh tempo aset dan liabilitas, serta optimalisasi instrumen pasar uang dan surat berharga.
“Kami juga secara aktif melakukan stress test dan monitoring likuiditas untuk memastikan ketahanan neraca tetap terjaga,” tegas Ramon.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa perluasan cakupan RIM dilakukan sebagai upaya untuk memperbesar kapasitas intermediasi perbankan.
“Kami mendorong pemenuhan 84% sampai 94% ini adalah dengan memperluas cakupannya dari sisi liabilitas atau funding. Kami memperluas cakupannya tidak hanya dari dana pihak ketiga yang tradisional seperti giro, tabungan, deposito, tetapi juga dari penerbitan sekuritas surat berharga, baik konvensional maupun syariah,” jelas Perry.
BI : DPK Bank Tumbuh Melambat Dipicu Simpanan Korporasi yang Menyusut
Ringkasan
BTN menyambut baik kebijakan Bank Indonesia (BI) terkait pelonggaran Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) yang diperluas. Kebijakan ini dinilai akan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perbankan dalam mengelola likuiditas dan mendukung fungsi intermediasi. Perluasan cakupan instrumen yang dapat diperhitungkan dalam komponen RIM termasuk surat berharga korporasi akan memberikan fleksibilitas lebih dalam pengelolaan dana bank.
BTN menekankan bahwa dampak pelonggaran RIM terhadap pertumbuhan kredit tidak serta merta terjadi secara otomatis. Penyaluran kredit tetap mempertimbangkan kondisi permintaan pasar dan kualitas debitur. BTN akan tetap fokus pada pertumbuhan kredit yang sehat, terutama pada segmen perumahan, dan terus memantau likuiditas secara cermat.