Yield SBN 7%: Peluang Capital Inflow Tergantung Sentimen Pasar?

Shoesmart.co.id JAKARTA. Prospek pasar Surat Berharga Negara (SBN) diyakini masih menjanjikan sepanjang tahun 2026, meskipun imbal hasil (yield) saat ini cenderung bertahan di level yang relatif tinggi.

Memang, belakangan ini yield SBN menunjukkan tren peningkatan. Pada awal tahun, tepatnya 2 Januari 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di angka 6,04%. Namun, per 25 Maret 2026, angka tersebut melonjak menjadi 6,84%, mendekati ambang batas 7%.

Menanggapi kondisi ini, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa peluang masuknya aliran dana asing (capital inflow) ke pasar obligasi domestik masih terbuka lebar.

Yield SBN 10 Tahun Terus Menanjak, Kurs Rupiah Tahan Penurunan

Namun, Yusuf menekankan bahwa potensi capital inflow ini sangat bergantung pada beberapa faktor krusial. “Potensi aliran dana asing tetap ada, terutama jika ada kejelasan arah kebijakan, baik dari sisi fiskal maupun moneter, serta stabilitas nilai tukar rupiah yang lebih terjaga. Selain itu, daya tarik imbal hasil riil Indonesia juga masih kompetitif dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya,” jelas Yusuf saat dihubungi Kontan, Jumat (27/3/2026).

Meskipun demikian, Yusuf memperkirakan pergerakan yield SBN ke depan tidak akan mengalami perubahan signifikan dalam waktu dekat. Ia memprediksi bahwa yield akan tetap bergerak dalam kisaran yang tinggi dengan volatilitas yang tetap ada, terutama pada semester I 2026. “Ruang penurunan sebenarnya ada, tetapi kemungkinan akan berlangsung secara bertahap,” tambahnya.

Menurut Yusuf, saat ini baseline yield telah bergeser ke level yang lebih tinggi, yang tercermin dari posisi yield SBN 10 tahun yang berada di kisaran 6,8%-6,9%.

Oleh karena itu, pergerakan pada semester I tahun ini diperkirakan tidak akan berubah drastis, melainkan lebih mengarah pada konsolidasi dengan kecenderungan penurunan yang relatif terbatas.

Secara umum, Yusuf memproyeksikan yield SBN 10 tahun akan bergerak dalam rentang 6,5% hingga 7,0% pada semester I 2026. Dalam skenario dasar, yield diperkirakan berada di kisaran tengah, yaitu 6,6%–6,9%.

Yusuf menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menahan kenaikan yield, seperti peran Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas pasar serta mulai menariknya valuasi pada level yield saat ini. Namun, di sisi lain, ruang penurunan yield juga masih terbatas.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah risiko domestik, seperti persepsi terhadap kondisi fiskal, pergerakan credit default swap (CDS), serta dinamika nilai tukar rupiah yang belum sepenuhnya stabil. Ditambah lagi, ketidakpastian global juga masih membayangi pasar.

WIKA Beton (WTON) Catat Penurunan Pendapatan dan Laba Sepanjang 2025

“Jika sentimen membaik dan aliran dana asing mulai kembali masuk, yield berpotensi turun mendekati 6,5%. Sebaliknya, jika tekanan meningkat, yield masih bisa kembali mendekati 7%,” pungkasnya.

Ringkasan

Prospek Surat Berharga Negara (SBN) diyakini masih menjanjikan di tahun 2026 meskipun yield saat ini cenderung tinggi, bahkan yield SBN tenor 10 tahun sempat mendekati 7% pada bulan Maret. Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan potensi capital inflow ke pasar obligasi domestik masih terbuka, namun sangat bergantung pada kejelasan kebijakan fiskal dan moneter, stabilitas nilai tukar rupiah, serta daya tarik imbal hasil riil Indonesia dibandingkan negara emerging markets lain.

Yusuf memperkirakan pergerakan yield SBN tidak akan banyak berubah dalam waktu dekat dan akan tetap bergerak dalam kisaran tinggi dengan volatilitas yang ada. Ia memproyeksikan yield SBN 10 tahun akan bergerak antara 6,5% hingga 7,0% pada semester I 2026, tergantung pada sentimen pasar; jika sentimen membaik dan aliran dana asing masuk, yield berpotensi turun, namun jika tekanan meningkat, yield bisa kembali mendekati 7%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *