Wall Street Bergejolak! Harga Emas Terjun Bebas, Investor Panik?

Shoesmart.co.id JAKARTA. Indeks S&P 500 dan Nasdaq mengalami pergerakan yang dinamis pada Senin (2 Februari 2026), di tengah pasar yang mencerna dampak penurunan tajam harga logam mulia di awal pekan. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh serangkaian laporan pendapatan korporasi dan data ekonomi penting yang akan dirilis.

Harga emas sempat mengalami penurunan dramatis hingga 6%, sementara perak bahkan merosot hingga 10%, sebelum akhirnya berhasil memulihkan sebagian kerugian. Tekanan jual ini dipicu oleh keputusan CME Group untuk menaikkan persyaratan margin pada perdagangan logam mulia, menyusul penurunan signifikan yang terjadi pada hari Jumat sebelumnya.

Menariknya, saham perusahaan pertambangan emas dan perak yang terdaftar di bursa Amerika Serikat justru berhasil bangkit dan diperdagangkan lebih tinggi, menunjukkan adanya anomali dalam sentimen pasar.

“Ada efek domino yang terasa pada saham, tetapi yang lebih penting adalah perubahan pola pikir di kalangan investor ekuitas mengenai sektor mana yang akan menjadi motor penggerak pasar,” ungkap Jim Baird, Chief Investment Officer Plante Moran Financial Advisors, memberikan pandangannya mengenai dinamika yang terjadi.

Pelemahan harga logam mulia semakin diperdalam setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve, menggantikan Jerome Powell pada bulan Mei. Langkah ini sebagian besar dipandang oleh investor sebagai sinyal kebijakan yang lebih hawkish, yang berpotensi menekan harga aset-aset safe haven seperti emas dan perak.

Pada pukul 09:46 ET, Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan sebesar 0,48% menjadi 49.129,46 poin. S&P 500 juga menguat, naik 0,14% ke 6.948,69, sementara Nasdaq Composite sedikit terkoreksi, turun tipis 0,07% ke 23.447,57.

Indeks volatilitas VIX melonjak ke 17,45, mendekati level tertinggi dalam dua minggu terakhir. Peningkatan volatilitas ini dipicu oleh pergerakan pasar yang fluktuatif, yang disebabkan oleh laporan pendapatan perusahaan-perusahaan raksasa yang beragam serta ketidakpastian kebijakan terkait nominasi Warsh.

Saham perusahaan energi mengalami tekanan seiring dengan penurunan harga minyak, setelah Trump menyatakan bahwa Iran “serius berdialog” dengan Washington. Pernyataan ini mengindikasikan potensi meredanya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak.

Sebagai dampaknya, saham Exxon Mobil dan Chevron masing-masing turun 1,6%, sementara indeks S&P Energy mencatatkan penurunan terdalam, yaitu sebesar 1,8%.

Di sisi lain, saham perusahaan penambangan rare earth dan mineral kritis justru mengalami lonjakan, setelah Bloomberg News melaporkan bahwa pemerintah Trump meluncurkan cadangan mineral senilai US$12 miliar untuk menyaingi dominasi China.

Sementara itu, saham perusahaan teknologi raksasa terpantau melemah, dengan Nvidia dan Tesla masing-masing merosot lebih dari 2%, dan Meta turun 1,1%.

Namun, Microsoft berhasil bangkit dari minggu terburuknya sejak Maret 2020, setelah pendapatan cloud-nya mengecewakan. Hal ini menyoroti meningkatnya sensitivitas investor terhadap rencana belanja modal besar dan tekanan pada perusahaan-perusahaan Big Tech untuk membenarkan pengeluaran besar dengan imbal hasil yang nyata.

“Investor menjadi lebih selektif… dan perusahaan mulai memberikan peringatan pada laporan pendapatan, atau investor mungkin menilai ulang ekspektasi pertumbuhan mereka,” tambah Baird, menekankan pentingnya kinerja perusahaan yang solid di tengah kondisi pasar yang tidak pasti.

Disney mengalami penurunan sebesar 6% meskipun melaporkan pendapatan kuartal pertama yang melampaui ekspektasi Wall Street, menunjukkan bahwa kinerja keuangan yang baik saja tidak cukup untuk menjamin sentimen positif investor.

Pasar akan menghadapi pekan yang padat dengan laporan pendapatan dari sektor teknologi, dengan 128 perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 dijadwalkan untuk melaporkan kinerja keuangan mereka, termasuk Alphabet, Amazon, dan AMD. Fokus investor juga akan tertuju pada data JOLTS, ADP hiring, nonfarm payrolls, serta angka PMI yang akan dirilis pada pekan ini.

Selain itu, pemerintah AS mengalami penutupan parsial yang diperkirakan singkat sejak hari Sabtu lalu, setelah Kongres gagal menyetujui kesepakatan untuk membiayai sebagian besar operasi pemerintahan.

Dewan Perwakilan Rakyat saat ini tengah membahas legislasi untuk mengakhiri shutdown parsial ini, dengan pemungutan suara final diperkirakan akan berlangsung pada hari Selasa.

Meskipun gejolak geopolitik sempat memicu aksi jual, ketiga indeks utama berhasil mencatatkan kenaikan sepanjang bulan Januari. S&P 500 bahkan berhasil menembus level 7.000 poin untuk pertama kalinya, mencapai rekor tertinggi di awal bulan, didorong oleh pendapatan perusahaan yang tetap kuat dan minat yang berkelanjutan terhadap pertumbuhan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Ringkasan

Pasar saham Wall Street mengalami pergerakan dinamis dengan S&P 500 dan Nasdaq yang fluktuatif, dipengaruhi oleh penurunan harga logam mulia, laporan pendapatan korporasi, dan data ekonomi. Harga emas dan perak sempat merosot tajam akibat kenaikan persyaratan margin oleh CME Group dan nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve yang dianggap sebagai sinyal kebijakan yang lebih ketat.

Indeks Dow Jones dan S&P 500 mencatatkan kenaikan, sementara Nasdaq sedikit terkoreksi. Investor juga bereaksi terhadap laporan pendapatan perusahaan, dengan saham energi tertekan akibat penurunan harga minyak, dan saham perusahaan teknologi raksasa melemah. Pasar akan fokus pada laporan pendapatan perusahaan teknologi besar dan data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *