KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham Indonesia tengah dilanda turbulensi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan volatilitas yang tinggi, tertekan cukup dalam dalam sepekan terakhir dengan penurunan mencapai 6,94%.
Tekanan jual tampaknya masih membayangi pergerakan IHSG. Pada awal pekan ini, tepatnya Senin (2 Februari 2026), indeks saham sudah bergerak di zona merah sejak pembukaan pasar. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI menunjukkan IHSG ditutup merosot tajam sebesar 406,87 poin atau setara dengan 4,88%, mengakhiri perdagangan di level 7.922,73.
Di tengah gejolak pasar ini, Financial Planner sekaligus CEO & Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, melihat adanya peluang menarik bagi investor. Menurutnya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengakumulasi saham-saham fundamental bagus dengan prospek pertumbuhan menjanjikan yang harganya sedang terkoreksi.
Tambang Emas Pani Mulai Berproduksi, Merdeka Copper (MDKA) Bakal Melesat di 2026
Meski demikian, Melvin mengingatkan bahwa dalam jangka pendek pasar saham masih dalam fase *wait and see*. Investor disarankan untuk terus memantau dan mencermati perkembangan pasar secara seksama sebelum mengambil keputusan investasi.
Selain saham, emas juga tetap menjadi instrumen investasi yang direkomendasikan, terutama saat harga emas global mengalami koreksi. Kondisi ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan akumulasi. Alternatif lain yang bisa dilirik investor ritel adalah produk Surat Berharga Negara (SBN) ritel, seperti ORI 029, yang menawarkan stabilitas lebih baik.
Melvin juga memberikan panduan pemilihan instrumen investasi berdasarkan jangka waktu. “Untuk kebutuhan investasi jangka pendek, hingga satu tahun, investor dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang, deposito, atau SBN dengan tenor pendek,” jelas Melvin kepada Kontan, Senin (2/2/2026).
Untuk investasi dengan horizon satu hingga lima tahun, pilihannya bisa diperluas ke reksa dana pendapatan tetap, obligasi korporasi dengan kualitas terpercaya, emas, atau saham dengan karakter *value stock* atau saham pembagi dividen.
“Sementara untuk investasi jangka panjang, di atas lima tahun, saham tetap menjadi pilihan utama. Baik saham berbasis nilai (*value stock*) maupun saham dengan dividen yang stabil, dapat dikombinasikan dengan aset defensif untuk menjaga keseimbangan portofolio,” tambahnya.
Dari sisi potensi imbal hasil, instrumen pasar uang umumnya menawarkan *return* sekitar 3%–6% per tahun. Obligasi dan SBN berpotensi memberikan imbal hasil sekitar 4%–8% per tahun.
Emas berpotensi mencatatkan kenaikan sekitar 8%–10% per tahun, meskipun perannya lebih sebagai instrumen lindung nilai dibandingkan pendorong utama imbal hasil. Saham sendiri, secara historis, mampu memberikan *return* sekitar 10%–12% per tahun dalam jangka panjang, meskipun volatilitas jangka pendek saat ini masih relatif tinggi.
BSDE Catat Marketing Sales Rp 10,04 Triliun Sepanjang 2025, Ini Rekomendasi Sahamnya
Melvin menekankan pentingnya menyesuaikan alokasi investasi dengan profil risiko masing-masing investor. Bagi investor konservatif, komposisi portofolio yang ideal adalah sekitar 40% pada aset likuid seperti reksa dana pasar uang, deposito, dan SBN ritel.
Kemudian, 40% ditempatkan pada instrumen penghasil arus kas seperti obligasi negara dan obligasi korporasi, serta 20% dialokasikan ke aset berorientasi pertumbuhan seperti reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, atau saham langsung.
Investor moderat dapat mengatur komposisi portofolio menjadi sekitar 30% pada aset likuid, 50% pada instrumen penghasil arus kas, dan 20% pada aset yang berpotensi memberikan *capital gain*.
Sedangkan investor agresif dapat menempatkan sekitar 30% dana pada aset likuid, 20% pada instrumen penghasil pendapatan tetap, dan sekitar 50% sisanya pada instrumen berpotensi pertumbuhan seperti saham atau reksa dana saham guna mengejar *capital gain* jangka panjang.
Ringkasan
Pasar saham Indonesia sedang mengalami penurunan signifikan, dengan IHSG menunjukkan volatilitas tinggi. Di tengah kondisi ini, perencana keuangan menyarankan investor untuk memanfaatkan koreksi harga dengan mengakumulasi saham-saham fundamental bagus yang prospektif. Selain saham, emas dan Surat Berharga Negara (SBN) ritel juga direkomendasikan sebagai alternatif investasi.
Pemilihan instrumen investasi sebaiknya disesuaikan dengan jangka waktu dan profil risiko investor. Untuk jangka pendek, reksa dana pasar uang, deposito, atau SBN pendek bisa dipertimbangkan. Sementara untuk jangka panjang, saham tetap menjadi pilihan utama, dikombinasikan dengan aset defensif. Alokasi aset yang ideal bergantung pada profil risiko, mulai dari konservatif hingga agresif, dengan penekanan pada diversifikasi.