
Tragedi gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian di Lebanon pada tanggal 29 dan 30 Maret 2026 kembali menyoroti keberadaan UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon). Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah merilis hasil penyelidikan awal terkait penyebab insiden memilukan tersebut. Namun, apa sebenarnya UNIFIL itu? Dan bagaimana sejarah pasukan perdamaian ini di Lebanon?
Peristiwa nahas bermula pada 29 Maret 2026, ketika seorang prajurit TNI gugur dan beberapa lainnya terluka akibat dampak konflik antara militer Israel dan kelompok Hizbullah di sekitar Indobatt, dekat Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Eskalasi konflik berlanjut, dan sehari kemudian, dua prajurit TNI lainnya menyusul gugur di wilayah yang sama.
Dalam kurun waktu 24 jam, tiga prajurit TNI kehilangan nyawa dan lima lainnya menderita luka-luka, semuanya saat menjalankan tugas pengawalan untuk mendukung operasional UNIFIL. Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang peran dan sejarah UNIFIL di Lebanon.
Baca juga:
* Lebanon Masih Membara, Saatnya Evaluasi Penempatan Pasukan TNI di UNIFIL
* Apa Itu UNIFIL? Ini Tugas dan Peran TNI di Dalamnya
* Tiga Pasukan UNIFIL Gugur di Lebanon dalam 24 Jam, Termasuk Personel TNI
Sejarah UNIFIL
Satgas MTF TNI Konga XXVIII-P/UNIFIL tiba di Surabaya (ANTARA FOTO/Didik Suhartono/bar)
Merujuk pada laman resmi United Nations, United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 1978. Pembentukan UNIFIL merupakan respons terhadap invasi Israel ke Lebanon melalui Resolusi 425 dan 426.
Mandat awal UNIFIL adalah untuk mengonfirmasi penarikan pasukan Israel, memulihkan perdamaian dan keamanan internasional, serta membantu Pemerintah Lebanon dalam memulihkan otoritasnya di wilayah selatan. Kini, UNIFIL memiliki tanggung jawab untuk memantau secara intensif penghentian permusuhan dan melaporkan setiap pelanggaran di sepanjang garis demarkasi.
Operasional UNIFIL dijalankan bersama-sama dengan Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF). Prajurit di lapangan bertugas mendampingi dan mendukung pengerahan LAF ke seluruh wilayah selatan. Salah satu misi terpenting dan paling berbahaya adalah membantu LAF memastikan area antara Blue Line (garis demarkasi) hingga Sungai Litani bersih dari personel bersenjata, aset, maupun senjata, kecuali milik pemerintah resmi Lebanon dan UNIFIL sendiri.
Untuk mendukung pengawasan di wilayah maritim, UNIFIL juga memiliki Maritime Task Force yang terdiri dari lima kapal. Satuan ini bertugas membantu Angkatan Laut Lebanon dalam mengamankan perairan dan mencegah masuknya senjata ilegal melalui jalur laut.
Seiring berjalannya waktu, mandat UNIFIL diperluas secara signifikan setelah krisis besar yang terjadi antara Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan pada Juli-Agustus 2006. Dewan Keamanan PBB memperkuat mandat UNIFIL, tidak hanya berfokus pada tugas awal, tetapi juga mencakup fungsi tambahan seperti memantau penghentian permusuhan (cessation of hostilities), mendampingi dan memberikan dukungan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon dalam proses penyebaran mereka di seluruh wilayah selatan, serta berkontribusi dalam menjamin akses bantuan kemanusiaan bagi penduduk sipil yang terdampak konflik.
UNIFIL juga berperan dalam mendukung proses pemulangan pengungsi secara sukarela, aman, dan bermartabat ke tempat tinggal mereka, sekaligus membantu menciptakan kondisi stabil yang memungkinkan kehidupan masyarakat kembali normal. Dalam menjalankan tugasnya, UNIFIL mengoperasikan kekuatan multinasional yang terdiri dari sekitar 8.500 personel penjaga perdamaian dari hampir 50 negara kontributor. Pada Januari 2026, jumlah personel yang dikerahkan mencapai sekitar 8.195 orang.
UNIFIL diperkuat oleh total 8.203 penjaga perdamaian berseragam yang berasal dari 47 negara. Dari jumlah tersebut, Indonesia secara konsisten menunjukkan komitmennya dengan mengirimkan 756 personel TNI.
Indonesia merupakan negara kontributor terbesar kedua dalam misi UNIFIL, berada tepat di bawah Italia yang menyumbangkan 774 personel. Kekuatan pasukan berseragam ini juga didukung oleh kontribusi besar dari negara-negara lain, mencerminkan solidaritas internasional.
Hasil Penyelidikan PBB Usai 3 TNI Gugur
PBB menyatakan bahwa satu prajurit TNI gugur akibat proyektil tank yang ditembakkan oleh militer Israel ke Lebanon. Praka Farizal Rhomadhon meninggal dunia pada 29 Maret 2026 akibat serangan proyektil artileri di dekat Desa Achid Alqusayr, Lebanon Selatan.
Menurut hasil penyelidikan PBB, proyektil tersebut merupakan fragmen peluru utama tank kaliber 120 mm. Peluru ini ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur, menuju Ett Taibe.
Sehari kemudian, Mayor Zulmi Aditya dan Serka M. Nur Ichwan gugur akibat ledakan kendaraan (IED) saat mengawal konvoi di dekat Bani Haiyyan. Penyelidikan PBB menyimpulkan bahwa keduanya terkena dampak ledakan bom rakitan (IED) yang diaktifkan oleh korban (tripwire).
Investigasi PBB menilai, dengan mempertimbangkan lokasi kejadian, karakteristik ledakan, serta konteks saat ini, IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh Hizbullah.
Demikianlah ulasan singkat mengenai sejarah UNIFIL, pasukan perdamaian yang dibentuk oleh PBB sejak tahun 1978.
Ringkasan
UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB pada tahun 1978 sebagai respons terhadap invasi Israel ke Lebanon. Mandat awalnya adalah mengonfirmasi penarikan pasukan Israel, memulihkan perdamaian, dan membantu Pemerintah Lebanon memulihkan otoritas di wilayah selatan. Kini, UNIFIL bertugas memantau penghentian permusuhan, melaporkan pelanggaran, dan mendukung Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF).
Indonesia adalah salah satu negara kontributor terbesar dalam misi UNIFIL. Baru-baru ini, tiga prajurit TNI gugur dalam tugas pengawalan, yang memicu penyelidikan PBB. Penyelidikan tersebut menyimpulkan bahwa satu prajurit gugur akibat proyektil tank Israel, sementara dua lainnya akibat ledakan IED yang diduga dipasang oleh Hizbullah. UNIFIL juga memiliki Maritime Task Force untuk mengamankan perairan dan mencegah masuknya senjata ilegal.