Shoesmart.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan di pasar spot, menembus level Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan hari Selasa (5 Mei 2026).
Data Bloomberg menunjukkan bahwa pada pukul 10.32 WIB, rupiah berada di level Rp 17.428 per dolar AS, mengalami pelemahan sebesar 0,20% dibandingkan hari sebelumnya. Sentimen negatif ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi geopolitik global.
Menurut Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memanasnya tensi geopolitik dunia menjadi faktor utama pelemahan rupiah pagi ini. Dinamika ini berpotensi mengganggu stabilitas aktivitas ekonomi dan perdagangan internasional, sehingga memicu kehati-hatian di kalangan investor.
IHSG Melemah 0,2% ke 6.958,1 di Pagi Ini (5/5), Top Losers LQ45: ASII, JPFA, MAPI
Salah satu pemicu kekhawatiran adalah pernyataan mantan Presiden AS, Donald Trump, yang mengindikasikan intervensi untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz. Melalui unggahannya di Truth Social pada hari Minggu, Trump menekankan bahwa tindakan ini dilakukan demi kepentingan bersama, termasuk Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Selain itu, tensi di Eropa Timur juga turut berkontribusi pada sentimen negatif. Ukraina dilaporkan melancarkan serangkaian serangan drone ke wilayah Rusia pada hari Minggu, menargetkan infrastruktur strategis penting.
Serangan tersebut menyasar berbagai infrastruktur, termasuk pelabuhan Primorsk di Laut Baltik yang dilaporkan mengalami kebakaran, serta sejumlah kapal. Peningkatan intensitas serangan terhadap infrastruktur energi dan target vital lainnya semakin memperburuk situasi.
Di tengah gejolak global ini, sebenarnya kinerja perdagangan Indonesia masih menunjukkan resiliensi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 mencatatkan surplus sebesar US$ 3,32 miliar, meningkat signifikan dibandingkan Februari 2026 yang sebesar US$ 1,27 miliar. Data ini memberikan sedikit harapan di tengah ketidakpastian global.
Namun, tekanan mulai terasa pada sektor riil. Aktivitas manufaktur Indonesia mengalami kontraksi pada April 2026. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) dari S&P Global menunjukkan bahwa PMI Indonesia berada di level 49,1, level terendah sejak Juli 2025. Angka ini menjadi sinyal peringatan bagi pemulihan ekonomi.
Bursa Asia Anjlok di Pagi Ini (5/5): Konflik Timur Tengah Bikin Investor Cemas!
“Angka ini adalah yang terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir. Angka ini sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi,” jelas Ibrahim pada hari Selasa (5/5/2026), menyoroti dampak negatif gejolak global terhadap kinerja manufaktur dalam negeri.
Menurut Ibrahim, kontraksi PMI ini disebabkan oleh penurunan kondisi sektor manufaktur Indonesia pada awal kuartal kedua 2026 akibat berbagai faktor kompleks. Penurunan berkelanjutan dalam volume produksi menjadi pendorong utama kontraksi ini.
Penurunan volume produksi ini telah berlangsung selama dua bulan berturut-turut, dengan laju penurunan yang semakin cepat dibandingkan bulan Maret dan menjadi yang tercepat sejak Mei tahun lalu. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan pelaku industri untuk mencari solusi dan menjaga stabilitas ekonomi.
Ringkasan
Nilai tukar Rupiah melemah dan menembus Rp 17.428 per dolar AS pada awal perdagangan 5 Mei 2026. Pelemahan ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi geopolitik global, termasuk tensi di Timur Tengah dan Eropa Timur, yang memicu kehati-hatian di kalangan investor.
Meskipun neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus, aktivitas manufaktur mengalami kontraksi dengan PMI berada di level terendah sejak Juli 2025. Penurunan volume produksi sektor manufaktur menjadi perhatian utama dan memerlukan solusi untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global.