Shoesmart.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan di pasar spot terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, pada perdagangan tengah hari ini, rupiah terlihat menembus level Rp 17.000 per dolar AS.
Data dari Bloomberg pada Senin (16/3/2026) pukul 12.30 WIB menunjukkan bahwa rupiah di pasar spot melemah 0,28% ke level Rp 17.006 per dolar AS. Ini melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sebelumnya.
Pada hari Jumat (13/3/2026), rupiah di pasar spot juga mengalami pelemahan harian sebesar 0,38% ke level Rp 16.958 per dolar AS. Dengan demikian, tekanan terhadap mata uang Garuda ini terus berlanjut.
Menurut Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, penyebab utama pelemahan rupiah ini adalah sentimen geopolitik yang memanas di Timur Tengah. Ketegangan di kawasan ini memberikan dampak signifikan pada pasar keuangan.
Kinerja Summarecon Agung (SMRA) Terkoreksi di 2025, Laba Bersih Menyusut 44,18%
Lonjakan harga minyak dunia turut memperburuk situasi. Hal ini dipicu oleh pernyataan pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut berpotensi menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
“Para pelaku pasar dan analis kini diliputi kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak yang signifikan ini akan memicu guncangan inflasi secara global,” jelas Ibrahim saat dikonfirmasi pada Senin (16/3/2026). Dampak inflasi ini menjadi perhatian utama bagi investor dan pengamat ekonomi.
Lebih lanjut, Ibrahim memproyeksikan bahwa nilai rupiah hari ini akan bergerak fluktuatif, namun diperkirakan akan ditutup melemah di rentang Rp 16.960 – Rp 17.020 per dolar AS. Proyeksi ini mencerminkan ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan.
Ringkasan
Rupiah terus melemah terhadap dolar AS hingga menembus level Rp 17.000 pada Senin, 16 Maret 2026. Data Bloomberg menunjukkan pelemahan sebesar 0,28% menjadi Rp 17.006 per dolar AS, melanjutkan tren dari hari sebelumnya.
Penyebab utama pelemahan ini adalah sentimen geopolitik di Timur Tengah dan potensi lonjakan harga minyak dunia akibat pernyataan pemimpin Iran mengenai penutupan Selat Hormuz. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan guncangan inflasi global dan memicu ketidakpastian di pasar keuangan, dengan proyeksi rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp 16.960 – Rp 17.020 per dolar AS.