Reksadana Campuran Melemah: Peluang Investasi Menarik? Cek di Sini!

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja reksadana campuran mengalami perubahan signifikan pada Maret 2026. Setelah sebelumnya mencatatkan pertumbuhan positif, performanya justru berbalik tertekan.

Data dari Infovesta menunjukkan bahwa imbal hasil reksadana campuran pada Maret 2026 mengalami penurunan sebesar 5,62% secara bulanan. Padahal, pada Februari 2026, kinerja reksadana campuran masih mampu tumbuh sebesar 1,44%. Perubahan arah ini tentu menimbulkan pertanyaan tentang prospek investasi reksadana campuran ke depan.

Reza Fahmi Riawan, Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), berpendapat bahwa prospek reksadana campuran pada kuartal II-2026 masih tetap menarik. Namun, ia menekankan bahwa pertumbuhan tidak lagi akan didorong oleh kenaikan pasar secara menyeluruh.

Menurutnya, kondisi pasar saat ini cenderung tidak seragam. Oleh karena itu, potensi imbal hasil akan lebih banyak bergantung pada strategi rotasi sektor yang tepat, pengaturan durasi obligasi yang cermat, serta kemampuan dalam melakukan perpindahan antar aset dengan akurat.

Return ke depan kemungkinan besar tidak akan datang dari kenaikan pasar secara luas (broad market rally), melainkan dari kemampuan investor dalam membaca momentum antar aset,” jelas Reza kepada Kontan, Jumat (17/4/2026). Dengan kata lain, kejelian dalam memilih dan memilah aset menjadi kunci utama untuk meraih keuntungan.

Dalam kondisi pasar yang selektif ini, reksadana campuran tetap berpeluang memberikan imbal hasil yang kompetitif secara risk-adjusted. Terutama bagi investor yang mencari potensi pertumbuhan dengan tingkat volatilitas yang lebih terukur. Reksadana campuran bisa menjadi pilihan yang menarik karena menawarkan keseimbangan antara risiko dan potensi keuntungan.

Sejalan dengan pandangan tersebut, CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, menargetkan kinerja reksadana Pinnacle Winner Balanced Fund untuk tetap kompetitif dan mampu melampaui tolok ukur (benchmark) dalam jangka menengah. Target ini mencerminkan optimisme terhadap potensi pasar dan kemampuan strategi investasi yang diterapkan.

Guntur menjelaskan bahwa target tersebut didasarkan pada kombinasi outlook makroekonomi yang cermat, valuasi pasar yang menarik, serta potensi pertumbuhan laba emiten yang ada dalam portofolio. Kombinasi faktor-faktor fundamental ini menjadi landasan bagi proyeksi kinerja yang optimis.

“Kami berfokus pada penciptaan imbal hasil optimal secara risk-adjusted melalui strategi yang konsisten dan terukur,” kata Guntur. Dengan pendekatan yang disiplin dan terukur, Pinnacle Investment berusaha untuk memberikan hasil investasi yang maksimal bagi para investor.

Sementara itu, Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menyatakan bahwa target kinerja Simas Syariah Berkembang pada periode April hingga kuartal II-2026 adalah memberikan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan dengan instrumen pasar uang syariah. Prioritas utama adalah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi.

Meskipun demikian, Triwira menegaskan bahwa target persentase return bukanlah sesuatu yang pasti. Kinerja investasi akan tetap dipengaruhi oleh dinamika pasar dan kondisi ekonomi makro yang terus berubah. Oleh karena itu, fleksibilitas dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar menjadi kunci penting dalam mencapai target investasi.

Ringkasan

Kinerja reksadana campuran mengalami penurunan pada Maret 2026 sebesar 5,62% setelah mencatatkan pertumbuhan positif di bulan Februari. Meskipun demikian, prospek reksadana campuran di kuartal II-2026 masih menarik, namun pertumbuhan tidak lagi didorong oleh kenaikan pasar secara menyeluruh, melainkan strategi rotasi sektor dan pemilihan aset yang tepat.

Beberapa pelaku industri menargetkan kinerja reksadana campuran yang kompetitif dan mampu melampaui tolok ukur, didasarkan pada outlook makroekonomi, valuasi pasar, dan potensi pertumbuhan laba emiten. Prioritas tetap diberikan pada penciptaan imbal hasil optimal secara risk-adjusted melalui strategi yang konsisten dan terukur, serta kehati-hatian dalam berinvestasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *