Shoesmart.co.id – JAKARTA. Kinerja emiten batubara menunjukkan penurunan pada tahun 2025, terutama disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata (average selling price atau ASP).
Beberapa faktor kunci akan menentukan kinerja emiten batubara di masa depan, termasuk pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), fluktuasi harga batubara global, dan sentimen geopolitik yang berkembang.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan bahwa volume produksi batubara yang telah disetujui mencapai sekitar 580 juta ton per awal April 2026. Angka ini sedikit di bawah kuota produksi batubara tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 600 juta ton. Sementara itu, berdasarkan data Trading Economics, harga batubara saat ini berada di level US$ 132,30 per ton, menandai kenaikan sebesar 23,07% secara year-to-date (ytd).
Pasar Tas Luxury Bertahan, Tetapi Kelas Menengah Mulai Jual Koleksi
Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), menjelaskan bahwa pemangkasan RKAB memang menekan volume produksi dan penjualan batubara. Namun, kenaikan harga batubara berhasil mengkompensasi penurunan volume tersebut, sehingga margin keuntungan perusahaan tetap terjaga solid.
“Prospek sektor batubara masih positif. Margin keuntungan berpotensi terdongkrak oleh tingginya harga acuan global, yang mampu mengimbangi keterbatasan ekspansi volume produksi,” ungkap Wafi kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).
Senada dengan Wafi, Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, berpendapat bahwa pemangkasan RKAB justru memberikan dampak positif bagi sebagian besar perusahaan batubara, terutama bagi mereka yang merupakan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi 1 (Izin Usaha Pertambangan Khusus/IUPK) atau BUMN pemegang izin usaha pertambangan (IUP).
“Dengan harga batubara yang bertahan di level tinggi, sektor ini diperkirakan memiliki prospek yang menarik. Terutama bagi para pemain batubara yang tidak terdampak oleh pemotongan RKAB,” kata Harry Su.
Sementara itu, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, melihat bahwa pemangkasan RKAB memiliki dampak ganda: positif bagi harga batubara, namun negatif bagi volume produksi.
Dampaknya terhadap emiten pun bersifat mixed, tergantung pada struktur biaya masing-masing perusahaan. Sebaliknya, kenaikan harga batubara memberikan dampak signifikan terhadap margin dan laba, terutama bagi produsen berbiaya rendah yang memiliki leverage operasional tinggi.
“Namun, perlu diingat bahwa ada beberapa emiten yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pemangkasan produksinya,” imbuh Sukarno.
Daftar Harga Emas Antam Hari Ini (19/4): Tak Bergerak di Rp 2.884.000 Per Gram
Lebih lanjut, Sukarno memperkirakan kinerja emiten batubara pada kuartal II-2026 akan menunjukkan perbaikan secara quarter-on-quarter (qoq).
Kenaikan harga batubara sejak awal tahun menjadi faktor pendukung utama bagi margin keuntungan, meskipun belum sepenuhnya mampu mengimbangi penurunan harga rata-rata dibandingkan tahun sebelumnya.
“Di sisi lain, pembatasan produksi akibat RKAB berpotensi menahan laju volume penjualan, sehingga pertumbuhan top line cenderung terbatas,” jelas Sukarno.
Sukarno juga menyoroti bahwa sektor batubara masih menghadapi beberapa tekanan struktural, terutama dari permintaan global yang stagnan (China dan India), serta potensi oversupply yang dapat menahan kenaikan harga. Dari dalam negeri, pemangkasan RKAB menjadi risiko utama terhadap volume produksi, sementara faktor operasional seperti cuaca buruk dan kenaikan biaya produksi juga dapat menekan margin keuntungan.
Selain fluktuasi permintaan dari China dan India, Wafi juga menilai bahwa tantangan bagi sektor batubara berasal dari beban royalti yang tinggi dan pengetatan pendanaan perbankan akibat isu environmental, social, and governance (ESG).
Wafi menambahkan bahwa sejumlah sentimen penting yang perlu diperhatikan untuk memantau kinerja sektor batubara adalah ketegangan geopolitik global yang dapat memicu kenaikan harga energi, realisasi permintaan batubara pada musim panas, dan kebijakan domestik terkait domestic market obligation (DMO).
Harry juga menekankan pentingnya bagi investor untuk terus mencermati perkembangan konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Sebab, kerusakan pada fasilitas minyak mentah dan gas, serta LNG, akan menstimulus permintaan batubara sebagai energi alternatif yang lebih terjangkau.
BUMI Chart by TradingView
Terkait rekomendasi saham, Harry Su merekomendasikan pembelian saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan target harga Rp 300 per saham.
Sementara itu, Sukarno merekomendasikan untuk menahan (Hold) saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga Rp 3.200 per saham.
Sedangkan Wafi memberikan rekomendasi beli untuk saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dengan target harga Rp 2.800 per saham, beli saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan target harga Rp 13.000 per saham, dan Buy saham PTBA dengan target harga Rp 3.100 per saham.
Ringkasan
Kinerja emiten batubara di masa depan dipengaruhi oleh pemangkasan RKAB, fluktuasi harga global, dan sentimen geopolitik. Pemangkasan RKAB menekan volume produksi, namun kenaikan harga batubara mengkompensasi penurunan tersebut. Beberapa analis melihat pemangkasan RKAB berdampak positif bagi perusahaan batubara tertentu, terutama yang tidak terdampak pemotongan.
Meskipun harga batubara naik sejak awal tahun, pembatasan produksi berpotensi menahan laju penjualan. Sektor ini juga menghadapi tantangan seperti permintaan global yang stagnan, potensi oversupply, beban royalti yang tinggi, dan pengetatan pendanaan terkait ESG. Beberapa saham batubara direkomendasikan untuk dibeli atau ditahan oleh analis dengan target harga tertentu.