Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar tas mewah (luxury bag) membuktikan ketangguhannya di kuartal I-2026, bahkan di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik global yang masih berlanjut. Meskipun demikian, ada perubahan signifikan dalam perilaku konsumen yang kini semakin selektif.
Menurut Rita Efendy, seorang kolektor tas mewah, permintaan akan tas luxury tetap stabil, khususnya dari kalangan high net worth individual (HNWI). Namun, berbeda dengan segmen kelas menengah yang cenderung menahan diri dari pembelian, bahkan mulai mempertimbangkan untuk melepas koleksi demi mengamankan likuiditas.
“Kalangan atas masih melihat tas luxury sebagai bagian dari strategi investasi untuk melindungi nilai aset mereka. Sementara itu, kelas menengah lebih berhati-hati, bahkan ada yang mengambil langkah menjual koleksi mereka,” jelas Rita kepada Kontan, Jumat (17/4/2026).
Pergeseran menarik terlihat pada minat konsumen di segmen menengah ke bawah yang mulai beralih ke tas pre-loved. Fenomena ini memicu popularitas bazaar tas bekas, yang kini semakin diminati oleh banyak orang.
Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa bagi kolektor kelas atas, tas mewah bukan sekadar barang konsumsi biasa, melainkan telah bertransformasi menjadi alternatif investasi yang menjanjikan.
“Jika logam mulia dikenal sebagai aset yang aman, tas luxury, terutama merek-merek tertentu, lebih dipandang sebagai passion investment yang nilainya cenderung stabil bahkan berpotensi melampaui laju inflasi,” ungkapnya.
Dari segi tren, model klasik masih mendominasi pasar tas mewah di awal tahun ini. Tas seperti seri Birkin dan Kelly dari Hermès tetap menjadi incaran utama, dengan harga yang fantastis, mulai dari ratusan juta hingga di atas Rp 1 miliar.
Selain itu, produk dari rumah mode Chanel juga mengalami peningkatan permintaan, terutama sejak kehadiran desainer baru, Matthew Blazy, yang meluncurkan koleksi terbatas.
“Sementara untuk merek seperti LV, Dior, Bottega, Fendi, dan lainnya, permintaannya masih stabil karena produknya cenderung lebih banyak dan mudah didapatkan,” imbuh Rita.
Mengenai prospek pasar tas mewah ke depan, Rita memprediksi bahwa pasar ini tidak akan mengalami penurunan yang signifikan sepanjang tahun 2026, tetapi akan semakin tersegmentasi.
Ia berpendapat bahwa tas dengan desain klasik dan timeless akan tetap menjadi favorit karena menawarkan nilai investasi yang lebih terjamin. Sebaliknya, produk yang mengikuti tren sesaat cenderung lebih fluktuatif dan kurang stabil.
“Ke depannya, hanya tas-tas tertentu yang benar-benar memenuhi syarat untuk dianggap sebagai aset alternatif dan layak dikoleksi dalam jangka panjang,” tegasnya.
Rita juga menyoroti dampak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan euro, yang turut memengaruhi harga tas mewah di pasar domestik. Pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga tas mewah, yang secara tidak langsung akan meningkatkan nilai koleksi yang sudah dimiliki oleh para investor.
“Ketika rupiah melemah, harga tas luxury di pasar domestik menjadi lebih mahal. Kondisi ini, secara tidak langsung, justru meningkatkan nilai aset bagi mereka yang sudah memiliki koleksi tas mewah,” pungkas Rita.
Ringkasan
Pasar tas mewah tetap tangguh di kuartal I-2026, namun terdapat perubahan perilaku konsumen. Kalangan atas masih melihat tas mewah sebagai investasi, sementara kelas menengah mulai menjual koleksi untuk menjaga likuiditas. Segmen menengah ke bawah beralih ke tas pre-loved, meningkatkan popularitas bazaar tas bekas.
Model klasik seperti Hermès Birkin dan Kelly tetap dominan, diikuti Chanel setelah kehadiran desainer baru. Pasar tas mewah diprediksi tidak akan turun signifikan di 2026, namun semakin tersegmentasi. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga tas mewah, yang secara tidak langsung akan meningkatkan nilai koleksi yang sudah dimiliki.