Kevin Warsh Pimpin The Fed? Imbal Hasil Obligasi RI Terancam!

Shoesmart.co.id, JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia tengah bersiap menghadapi perubahan kepemimpinan di Bank Sentral AS (The Fed). Kevin Warsh diperkirakan akan menggantikan Jerome Powell sebagai pucuk pimpinan The Fed, dan analis memprediksi kebijakan-kebijakan Warsh dapat memberikan dampak signifikan bagi emerging market, termasuk Indonesia, terutama pada pasar obligasi.

Erindra Krisnawan dan Sabela Nur Amalina, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menyoroti bahwa Warsh memiliki pandangan berbeda mengenai kerangka kebijakan moneter. Perbedaan ini berpotensi memengaruhi kurva imbal hasil (yield curve), sebuah grafik yang menggambarkan hubungan antara tingkat imbal hasil obligasi dengan jangka waktu jatuh temponya.

“Warsh diperkirakan akan menerapkan strategi yang menggabungkan penurunan suku bunga jangka pendek melalui pemangkasan, sembari tetap melanjutkan pengurangan neraca The Fed (balance sheet reduction). Kombinasi ini berpotensi menjaga imbal hasil jangka panjang tetap tinggi, sehingga menciptakan kurva imbal hasil yang lebih curam (steeper yield curve),” demikian bunyi riset BRI Danareksa Sekuritas, dikutip pada Jumat (15/5/2026).

Baca Juga: Mengenal Kevin Warsh, Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell

Secara sederhana, steeper yield curve mencerminkan perbedaan yang melebar antara imbal hasil obligasi jangka pendek dan jangka panjang. Sebaliknya, inverted yield curve, di mana imbal hasil jangka pendek lebih tinggi dari jangka panjang, seringkali dianggap sebagai indikator potensi resesi.

Lebih lanjut, riset tersebut menjabarkan beberapa kecenderungan kebijakan Warsh dan dampaknya. Pertama, penurunan bertahap suku bunga The Fed. Langkah ini diperkirakan akan menurunkan biaya pinjaman jangka pendek dan meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil. Menurut Warsh, kondisi keuangan yang ketat saat ini kurang efektif dalam menyalurkan dana ke sektor-sektor produktif.

Baca Juga: Senat AS Sahkan Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed

Kedua, Warsh menekankan pentingnya inflasi yang lebih rendah sebagai syarat utama untuk menjaga kredibilitas kebijakan dalam menurunkan suku bunga. Ia lebih memilih menggunakan ukuran inflasi trimmed-mean, sebuah indikator yang mengabaikan perubahan harga ekstrem atau faktor sementara.

Menurutnya, penggunaan ukuran inflasi ini dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai inflasi inti yang sebenarnya. Pendekatan ini juga berpotensi membuat inflasi terlihat lebih dekat ke target The Fed dibandingkan dengan ukuran inflasi headline maupun core inflation tradisional.

Baca Juga: Komite Senat AS Setujui Pencalonan Warsh Jadi Bos The Fed Pengganti Jerome Powell

Ketiga, Warsh mendukung kelanjutan kebijakan quantitative tightening (QT) dan neraca The Fed yang lebih kecil. QT adalah kebijakan bank sentral untuk menyerap kembali likuiditas dari pasar, dengan cara mengurangi kepemilikan obligasi. Akibatnya, jumlah uang beredar berkurang dan likuiditas menjadi lebih ketat.

Analis mencatat bahwa neraca The Fed sempat membengkak hingga hampir US$9 triliun selama pandemi Covid-19. Setelah kebijakan QT resmi berakhir pada Desember 2025, neraca tersebut telah menyusut menjadi sekitar US$6,7 triliun.

“Warsh mengindikasikan preferensi terhadap neraca yang jauh lebih kecil, bahkan berpotensi kembali ke level sebelum pandemi di bawah US$4 triliun. Dalam pendekatan ini, imbal hasil jangka panjang akan tetap tinggi, sehingga menghasilkan kurva imbal hasil yang lebih curam,” jelas analis.

Keempat, Warsh mendukung intervensi pasar yang lebih minim, memberikan peran yang lebih besar kepada mekanisme pasar dalam pembentukan harga (price discovery). Ia juga cenderung mengurangi penggunaan forward guidance, karena dianggap dapat mengurangi fleksibilitas kebijakan dan menciptakan distorsi pasar.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, hasil yang diharapkan adalah kurva imbal hasil yang lebih curam. Suku bunga jangka pendek akan lebih rendah akibat pemangkasan suku bunga, sementara imbal hasil jangka panjang tetap tinggi akibat pengurangan neraca The Fed.

Analis menjelaskan bahwa kondisi ini dapat mendukung margin perbankan melalui positive carry, mengurangi insentif penggunaan leverage berlebihan, serta mengembalikan penetapan risiko yang lebih realistis di pasar kredit.

Lalu, bagaimana dampaknya bagi emerging markets seperti Indonesia? Kurva imbal hasil AS yang lebih curam berpotensi menciptakan tekanan pada imbal hasil obligasi tenor panjang. Kondisi ini juga dapat memicu capital outflow, yaitu aliran modal keluar, menuju instrumen investasi di AS yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

“Akibatnya, permintaan terhadap obligasi domestik dapat menurun, sehingga menekan yield ke atas dan berpotensi memerlukan upaya serta langkah stabilisasi yang lebih besar untuk menjaga pasar obligasi tetap stabil,” pungkas analis.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Kevin Warsh diperkirakan akan menggantikan Jerome Powell sebagai pemimpin The Fed, dan analis memprediksi kebijakannya akan berdampak signifikan bagi pasar obligasi di emerging market, termasuk Indonesia. Kebijakan Warsh yang menggabungkan penurunan suku bunga jangka pendek dengan pengurangan neraca The Fed berpotensi menciptakan kurva imbal hasil yang lebih curam (steeper yield curve).

Kurva imbal hasil AS yang lebih curam dapat menciptakan tekanan pada imbal hasil obligasi tenor panjang Indonesia dan memicu capital outflow ke AS. Akibatnya, permintaan terhadap obligasi domestik berpotensi menurun, sehingga menekan yield ke atas dan memerlukan upaya stabilisasi untuk menjaga pasar obligasi tetap stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *