Shoesmart.co.id JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bulan Februari seringkali menjadi perhatian para investor. Secara historis, IHSG pada bulan ini cenderung fluktuatif, bahkan sedikit melemah. Meskipun demikian, peluang untuk penguatan tetap terbuka lebar, memberikan harapan bagi para pelaku pasar.
Pada penutupan perdagangan Januari 2026, IHSG berhasil mencatatkan penguatan sebesar 1,18% dan berada di posisi 8.329,61 pada hari Jumat (30/1). Namun, perlu diingat bahwa sepanjang bulan Januari, IHSG telah mengalami koreksi sebesar 3,67% dan bahkan sempat mengalami *trading halt* sebanyak tiga kali. Hal ini menunjukkan dinamika pasar yang cukup tinggi.
Jika melihat rata-rata kinerja IHSG pada bulan Februari dalam 10 tahun terakhir, terlihat bahwa indeks ini lebih sering berada di zona negatif. Akan tetapi, probabilitas penguatan tercatat sekitar 56%, sebuah sinyal bahwa potensi *rebound* masih cukup signifikan dan patut diperhitungkan.
Danantara Kaji Porsi Kepemilikan Saham di BEI Pasca Demutualisasi
Kinerja IHSG di bulan Februari dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan variasi yang cukup besar. Pada tahun 2021 dan 2022, IHSG mencatatkan penguatan yang kuat. Sebaliknya, pada tahun 2020 dan 2025, indeks ini mengalami tekanan yang cukup tajam.
Sebagai contoh, pada Februari 2025, IHSG terkoreksi hingga 11,80%. Padahal, di tahun 2024, IHSG justru menguat sebesar 1,50%. Bahkan, pada Februari 2024, penguatan IHSG hanya tipis, sekitar 0,06%. Fluktuasi ini menggambarkan betapa sulitnya memprediksi pergerakan IHSG, terutama di bulan Februari.
Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, berpendapat bahwa secara global, penunjukan mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal bahwa independensi The Fed tetap terjaga.
Belajar Dari Singapura Hingga Hong Kong, Danantara Dorong Demutualisasi BEI 
Namun, Hans juga melihat bahwa peluang pemangkasan suku bunga agresif semakin mengecil. Pasar memproyeksikan pemotongan suku bunga hanya akan terjadi dua kali sepanjang tahun 2026, dan penurunan pertama berpotensi terjadi pada bulan Juni.
“Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan koreksi tajam harga emas, sekaligus membatasi aliran dana ke aset berisiko,” ujar Hans kepada Kontan, Minggu (1/2/2026). Pernyataan ini menyoroti bagaimana kebijakan moneter global dapat memengaruhi pasar saham di Indonesia.
Selain itu, tensi geopolitik global masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Potensi kebijakan AS terhadap Iran sempat mendorong kenaikan harga minyak, meskipun kemudian tertahan oleh peluang diplomasi dan gencatan senjata Rusia–Ukraina.
Dari sisi domestik, volatilitas IHSG meningkat setelah keputusan MSCI melakukan *interim freeze*. Menurut Hans, langkah proaktif otoritas mulai memulihkan kepercayaan pasar, meskipun aksi jual investor asing belum sepenuhnya mereda.
Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa dengan stabilitas makro yang relatif terjaga dan perbaikan sentimen secara bertahap, IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat. Optimisme ini didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat.
BEI Akan Membuka Data Kepemilikan Saham di Bawah 5% Pada Awal Februari 2026
Nafan memproyeksikan IHSG akan bergerak dengan area support di 7.881 dan resistance di 8.812. Saham pilihannya adalah emiten dengan fundamental solid dan likuiditas tinggi seperti BBCA, BBRI, TLKM, dan UNVR. Rekomendasi ini dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang ingin berinvestasi di tengah potensi fluktuasi pasar.
Sementara itu, Hans memperkirakan pergerakan jangka pendek IHSG berada pada rentang support 8.167 sampai dengan 8.000 dan resistance 8.408 hingga 8.596, dengan pemulihan yang berlangsung terbatas.
“Investor dapat melakukan akumulasi bertahap pada saham berkapitalisasi besar dan berdividen tinggi, seiring potensi peningkatan konsumsi domestik selama periode Ramadan,” pungkasnya. Strategi ini bisa menjadi pilihan yang menarik, terutama bagi investor yang memiliki горизонт инвестирования jangka panjang.
Ringkasan
IHSG di bulan Februari seringkali volatile dengan kecenderungan sedikit melemah secara historis. Meskipun demikian, potensi penguatan tetap ada, tercermin dari probabilitas penguatan sebesar 56% dalam 10 tahun terakhir. Sentimen global seperti kebijakan The Fed dan tensi geopolitik, serta faktor domestik seperti keputusan MSCI melakukan interim freeze, turut memengaruhi pergerakan IHSG.
Analis memproyeksikan IHSG akan bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat, didukung stabilitas makro dan perbaikan sentimen. Investor disarankan melakukan akumulasi bertahap pada saham berkapitalisasi besar dan berdividen tinggi, terutama mempertimbangkan potensi peningkatan konsumsi domestik selama bulan Ramadan. Rentang support dan resistance IHSG diperkirakan berada di area 7.881 – 8.812 dan 8.167 – 8.596 oleh analis yang berbeda.