Ekonomi Tumbuh, Kinerja Emiten BEI Justru Loyo? Ini Analisanya!

Shoesmart.co.id JAKARTA. Kinerja sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan arah yang berbeda dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026. Data terbaru mengungkap adanya dinamika menarik di balik angka-angka tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 sebesar 5,61% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini melampaui pertumbuhan pada kuartal IV-2025 (5,39%) dan kuartal I-2025 (4,87% yoy), menandakan adanya akselerasi ekonomi.

Momentum Lebaran menjadi salah satu faktor kunci pendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama ini. Sektor ritel, barang konsumsi, pariwisata, perhotelan, dan sektor usaha lainnya merasakan dampak positif dari perayaan Ramadan dan Lebaran.

Riset KONTAN menunjukkan bahwa sejumlah emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 masih mampu mencatatkan pertumbuhan laba di tiga bulan pertama tahun 2026. Namun, ada kejutan menarik di balik data tersebut.

Lima emiten dengan pertumbuhan laba tertinggi justru berasal dari sektor komoditas. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) memimpin dengan lonjakan laba sebesar 485,88% YoY. Diikuti oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan kenaikan 282,34% YoY, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) naik 189,48% YoY, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) 130,75% YoY, dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) 104,81% YoY. Pertumbuhan signifikan ini menunjukkan betapa pentingnya sektor komoditas dalam mendongkrak kinerja emiten di tengah momentum Lebaran.

Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan, menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang signifikan ini didorong oleh realisasi belanja pemerintah yang naik tajam. Data BPS mencatat pengeluaran pemerintah melonjak hingga 21,81% YoY.

BI Ramal Ekonomi RI Kuartal I 2026 Capai 5,2%, Sebut Ekonomi Domestik Kuat

Sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum (mamin) mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 13,14% YoY pada kuartal I 2026. Pertumbuhan ini sejalan dengan momentum Ramadan dan Hari Raya Lebaran, di mana aktivitas konsumsi masyarakat meningkat pesat.

Namun, dalam skala makroekonomi, pendapatan dan kinerja beberapa perusahaan besar di Indonesia pada kuartal I 2026 cenderung moderat, tidak seoptimistis angka pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

“Perlu dicermati bahwa beberapa pertumbuhan net income emiten yang melonjak drastis disebabkan oleh faktor non-operational,” ujar seorang analis kepada Kontan, Rabu (6/5).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, berpendapat bahwa pertanyaan utama saat ini bukan lagi apakah ekonomi tumbuh atau tidak, melainkan sektor mana yang menjadi motor penggerak pertumbuhan tersebut. Hal ini penting untuk menentukan strategi investasi yang tepat.

Pendapatan Turun, Laba Bersih HM Sampoerna (HMSP) Tumbuh 7% di Kuartal I-2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026 ditopang oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor terbesar. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya didorong oleh ekspor, tetapi juga oleh aktivitas masyarakat seperti belanja, mobilitas, dan pariwisata.

“Secara natural, sektor yang paling duluan menikmati adalah sektor yang dekat ke kantong konsumen,” ungkapnya kepada Kontan, Rabu.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, melihat bahwa kinerja emiten LQ45 secara umum lebih baik secara tahunan, tetapi cenderung bervariasi secara kuartalan.

Sektor yang tumbuh kuat adalah sektor komoditas dan energi baru terbarukan (EBT), dengan BRPT mencatat lonjakan laba 459% YoY dan BREN naik 25,6% YoY.

Sementara itu, sektor konsumer mengalami tekanan, seperti yang dialami oleh PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Meskipun penjualan meningkat, laba perusahaan tertekan oleh margin bahan baku impor.

Sektor perbankan juga menghadapi tantangan, terutama tekanan pada net interest margin (NIM).

Metropolitan Land (MTLA) Catat Marketing Sales Rp 401 Miliar per Kuartal I-2026

Namun, hasil tersebut dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan PDB sebesar 5,61% sebagian besar didorong oleh efek musiman Lebaran. Emiten yang kinerjanya sejalan dengan pertumbuhan ekonomi berasal dari sektor komoditas, EBT, dan telekomunikasi.

Sebaliknya, emiten dari sektor konsumer dan ritel menunjukkan kinerja yang berbeda. Kedua sektor yang seharusnya diuntungkan oleh momentum Lebaran justru masih tertekan di kuartal I 2026, karena daya beli riil kelas menengah belum pulih.

“PMI April 2026 yang melemah mengkonfirmasi aktivitas manufaktur mulai melambat setelah momentum Lebaran, dan akan tercermin di kuartal II 2026 nanti,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (6/5).

Sebagai informasi tambahan, data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 49,1 pada April 2026. Ini merupakan angka terendah sejak Juli 2025 atau sembilan bulan terakhir, sekaligus menandai kontraksi pertama PMI sejak Juli 2025 setelah delapan bulan ekspansi.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi, sedangkan di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.

Gani, Analis OCBC Sekuritas, menambahkan bahwa kinerja emiten sektor telekomunikasi dan komoditas masih sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I 2026.

Pendapatan Naik, Laba Summarecon (SMRA) Turun 20% di Kuartal I-2026

Namun, kinerja emiten secara keseluruhan di kuartal II dan III 2026 diperkirakan akan lebih menantang akibat dari meningkatnya harga minyak bumi. “Sektor komoditas berpotensi mencatat kinerja yang lebih baik, sedangkan sektor consumer perlu lebih selektif,” katanya kepada Kontan, Rabu.

Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, Gani merekomendasikan investor untuk mencermati saham BBCA, BBRI, BMRI, ISAT, TLKM, MEDC, MDKA, ANTM, dan MAPI.

Imam berpendapat bahwa kinerja sektor konsumer dan ritel masih berpotensi kuat sepanjang tahun 2026.

Data BPS menunjukkan pertumbuhan yang solid di sektor restoran, hotel, transportasi, dan bahkan transaksi digital. Hal ini mengindikasikan perputaran uang yang aktif di level bawah hingga menengah.

Emiten seperti AMRT, INDF, dan MAPI akan memiliki peluang untuk memanfaatkan pertumbuhan permintaan ini secara langsung.

“Secara valuasi, saham-saham tersebut juga masih cukup atraktif. Jika dilihat lebih luas, sektor ini juga defensif saat terjadi perlambatan global, baik karena faktor geopolitik maupun lainnya,” ungkapnya.

Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Secara Kumpulan Tumbuh Melambat per Kuartal III-2025

Sementara itu, Abida menilai bahwa sektor yang menjanjikan di tahun 2026 adalah sektor komoditas emas dan mineral kritis, seperti ANTM dan BRMS. Selain itu, dari sektor telekomunikasi terdapat ISAT dan TLKM yang memasuki fase monetisasi, serta sektor EBT dengan BREN.

“Di sisi lain, sektor konsumer diskresioner tertekan oleh daya beli kelas menengah dan properti yang masih menunggu penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) yang lebih agresif,” paparnya.

Abida merekomendasikan pembelian saham ISAT, ANTM, dan BRMS dengan target harga masing-masing Rp 3.500 per saham, Rp 4.000 per saham, dan Rp 1.100 per saham.

Ringkasan

Meskipun ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026, kinerja emiten di BEI menunjukkan variasi. Sektor komoditas mencatat pertumbuhan laba signifikan, dipimpin oleh BRPT dan MEDC, didorong oleh momentum Lebaran dan peningkatan belanja pemerintah. Namun, pertumbuhan ini tidak sepenuhnya selaras dengan kinerja seluruh emiten, dengan beberapa perusahaan besar mengalami pertumbuhan moderat atau bahkan tekanan.

Sektor konsumer dan ritel, yang seharusnya diuntungkan oleh Lebaran, menunjukkan kinerja beragam. Analis merekomendasikan investor untuk mencermati saham di sektor telekomunikasi, komoditas emas dan mineral kritis, serta EBT. Sektor properti masih menunggu penurunan suku bunga BI Rate untuk mendorong pertumbuhan, sementara sektor komoditas diperkirakan akan terus mencatat kinerja baik di tengah potensi kenaikan harga minyak bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *