Shoesmart.co.id – JAKARTA. Pasar mata uang Asia sedang menghadapi tantangan berat. Mayoritas mata uang di kawasan ini menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Menurut data dari Trading Economics pada hari Jumat (13/3), pukul 15.35 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 100,2. Angka ini mencerminkan penguatan sebesar 3,10% secara bulanan, menandakan dominasi dolar AS di pasar global.
Penguatan dolar AS ini berimbas langsung pada nilai tukar mata uang lainnya. Pasangan mata uang USD/JPY melonjak ke level 159,4, naik signifikan sebesar 3,86% dibandingkan bulan sebelumnya (month on month/mom). Hal serupa juga terjadi pada pasangan mata uang lainnya. USD/CNY berada di level 6,90, naik tipis 0,09% mom. USD/KRW menguat menjadi 1.499,8, naik 3,36% mom. Sementara itu, USD/INR tercatat menguat 2,03% mom menjadi 92,6.
Rupiah Jisdor Melemah 0,21% ke Rp 16.934 per Dolar AS pada Jumat (13/3/2026)
Muhammad Amru Syifa, dari Research and Development ICDX, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS ini merupakan cerminan dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Kondisi ini diperparah oleh ketegangan geopolitik global yang semakin memanas, terutama di kawasan Timur Tengah. Investor cenderung mencari keamanan pada aset yang dianggap stabil di tengah gejolak.
“Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama juga semakin memperkuat daya tarik aset berbasis dolar,” ungkap Amru kepada Kontan, Jumat (13/3).
Lebih lanjut, kenaikan harga energi global turut memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara Asia yang masih bergantung pada impor minyak, seperti Jepang, Korea Selatan, dan India. Ketergantungan ini membuat mereka lebih rentan terhadap fluktuasi harga energi.
Lonjakan harga energi berpotensi memperlebar defisit perdagangan dan meningkatkan tekanan inflasi di negara-negara tersebut. Dampaknya, mata uang domestik pun ikut tertekan.
“Ketergantungan pada impor energi membuat beberapa negara Asia lebih rentan ketika harga minyak naik. Dampaknya bisa terlihat pada pelemahan mata uang domestik,” jelas Amru.
Ke depan, Amru memperkirakan bahwa mata uang Asia masih berpotensi menghadapi tekanan yang signifikan, terutama jika kebijakan moneter AS tetap ketat dan ketidakpastian global tidak kunjung mereda. Situasi ini berpotensi menjaga dolar AS tetap kuat, sehingga membatasi ruang penguatan mata uang Asia.
Namun, penting untuk dicatat bahwa pelemahan mata uang Asia diperkirakan tidak akan terjadi secara merata. Upaya intervensi yang dilakukan oleh bank sentral di masing-masing negara, perbaikan aktivitas perdagangan global, serta stabilisasi harga komoditas dapat membantu menahan tekanan terhadap mata uang di kawasan.
“Jika inflasi global mulai mereda dan The Fed membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter, mata uang Asia berpotensi pulih secara bertahap pada paruh kedua tahun 2026,” imbuhnya.
Menghadapi situasi dolar yang menguat, Amru menyarankan para investor untuk mengambil sikap yang lebih defensif. Diversifikasi portofolio menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko volatilitas pasar. Ia merekomendasikan agar sebagian alokasi investasi ditempatkan pada aset safe haven seperti dolar AS maupun emas sebagai langkah lindung nilai.
Ditopang Bisnis Gaming, Pendapatan Bukalapak (BUKA) Tembus Rp 6,51 Triliun di 2025
Apabila tren penguatan dolar terus berlanjut, Amru memperkirakan pasangan mata uang USD/JPY akan berada di kisaran 158-161 hingga semester I-2026. Proyeksi ini memberikan gambaran tentang potensi pergerakan nilai tukar di masa mendatang.
Sementara itu, pasangan USD/CNY diproyeksikan bergerak di kisaran 6,85-7,05. Adapun USD/KRW diperkirakan berada di rentang 1.470-1.520. Rentang perkiraan ini memberikan panduan bagi pelaku pasar dalam mengantisipasi fluktuasi nilai tukar.
Sedangkan pasangan USD/INR diproyeksikan bergerak di kisaran 91,5-93,5, seiring tekanan dari kenaikan harga energi serta tingginya kebutuhan impor India. Faktor-faktor ini diprediksi akan terus memengaruhi kinerja mata uang India.
Ringkasan
Mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS akibat ketidakpastian ekonomi global dan penguatan indeks dolar AS. Hal ini dipicu oleh meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed. Kenaikan harga energi juga menekan negara-negara Asia yang bergantung pada impor minyak.
Mata uang Asia berpotensi terus tertekan jika kebijakan moneter AS tetap ketat dan ketidakpastian global berlanjut. Namun, intervensi bank sentral, perbaikan perdagangan global, dan stabilisasi harga komoditas dapat membantu menahan tekanan. Investor disarankan mengambil sikap defensif dan diversifikasi portofolio dengan aset safe haven seperti dolar AS dan emas.